Danke, Mr. Klopp!

Jurgen Klopp Liverpool

Rasanya masih sulit untuk percaya kabar bahwa Klopp mengumumkan diri akan hengkang sebagai pelatih Liverpool akhir musim ini. Sebuah kabar yang datangnya begitu tiba-tiba, seolah-olah tidak ada pemicunya sama sekali. Kabar yang awalnya diumumkan melalui akun ofisial Liverpool, kemudian meluas menjadi bola liar.

Kalau melihat klasemen tengah musim Premier League 2023/2024, Liverpool sedang bertengger di puncak. Kondisi ruang ganti rasanya juga bukan jadi masalah. Meski beberapa pemain pilar Liverpool belakangan ada yang cedera dan sedang menjalani agenda internasional, Klopp justru memanggil beberapa pemain muda Liverpool untuk unjuk kemampuan di lapangan.

Kalau soal kontrak pelatih, rasanya Klopp sudah menyetujui untuk memperpanjang kontraknya hingga 2026, sejak 2022 lalu. Sulit menemukan alasan lain yang masuk akal atas keputusan Klopp selain alasan yang langsung disampaikan Klopp, lelah fisik dan mental. Semua orang berusaha mencari-cari alasan lain yang lebih benderang.

Kabar ini tidak serta merta hanya dirasakan oleh para pendukung dan fans Liverpool, tetapi juga kebanyakan para pencinta dan pundit sepakbola di seluruh dunia. Delapan tahun sejak ia bergabung bersama The Kop, gaya melatihnya banyak mendapat atensi dari banyak pengamat sepakbola. Sebagai bukti bahwa gaya kepelatihannya masuk sejarah sepakbola adalah dua prestasi paling mentereng yang bakal selalu melekat kepadanya. Sebagai pelatih Liverpool, ia turut andil dalam meraih trofi Liga Champions 2019 dan Premier League musim 2019/2020.

Klopp bukan pelatih yang sempurna. Di satu sisi, figurnya dikenal begitu ikonik sebagai Mr. Heavy Metal Football, karena mempopulerkan gegenpressing football. Di banyak kesempatan yang lain, Klopp juga seorang The Normal One. Seorang pelatih sepakbola biasa yang melatih tim biasa dengan jajaran pemain-pemain biasa—yang awalnya bukan tipikal pemain ‘premium’ kelas dunia. Sedikit demi sedikit beberapa pemain ia poles sampai mengkilap dan punya peran penting dalam skuat.

Menang, kalah, dan imbang dengan laga-laga yang penuh suka dan duka juga adalah hal yang biasa terjadi dalam sepakbola. Taktiknya masih saja punya beberapa kelemahan. Strateginya mudah dibaca lawan. Keliru beli pemain saat dibayangi badai cedera. Kritik sudah menjadi makanan sehari-hari.


Sebagai fans Liverpool, mungkin sudah ratusan kali merasa ‘geregetan’ dengan keputusan-keputusan yang ia ambil di lapangan. Tetapi barangkali sudah ratusan kali pula saya merasa sangat bersyukur Liverpool punya pelatih sekaliber Jurgen Klopp.

Sebelum era Klopp, Liverpool tampak seperti klub yang tak punya masa depan. Berganti-ganti pelatih karena performa terus memburuk, pemain-pemain terbaik datang dan pergi di saat yang tidak tepat, dan tertatih-tatih masuk ke zona Liga Champions di akhir musim. Semua serba pragmatis.

Dari tangan dingin Klopp, tentu dibantu jajaran staf pelatih di sekelilingnya, kerja kerasnya membuahkan hasil. Prosesnya tidak terjadi secara instan dan hanya kebetulan. Pemain datang dan pergi, silih berganti, tetapi pondasinya sudah jadi cetak biru. Beberapa bulan yang lalu bahkan saya pernah mendengar istilah Liverpool 2.0, rencana jangka panjang Klopp untuk membangun regenerasi pemain untuk musim-musim yang akan datang.

Terlihat betul bagaimana Klopp memperlakukan pemain-pemainnya selama bertahun-tahun dengan hati dan pikiran. Dari soal membuat taktik di lapangan sampai perkara membangun mentalitas di lapangan. Bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang pelatih.

Tanpa Klopp, tahun-tahun kemarin kita mungkin belum bisa melihat Liverpool mengangkat trofi Premier League dan Liga Champions. Tanpa Klopp, dunia sepakbola tidak akan mengenal trisula penyerang Liverpool terbaik di masanya: Salah-Firmino-Mane. Tanpa Klopp, mungkin susah membayangkan karier pemain-pemain seperti Trent-Alexander Arnold, Andrew Robertson, sampai Jordan Henderson.

Dua hari menyaksikan rentetan hal baik di linimasa X soal momen terbaik Klopp dari banyak akun ternyata sangat melegakan dan kadangkala kelewat menyentuh. Ada banyak kenangan dan memori manis dan pahit yang sudah ia persembahkan. Namun, beginilah, cepat atau lambat, pada waktunya kiprah seorang pelatih akan menjumpai titik nadirnya.

Ada satu cuitan yang membuat saya bergetar ketika membacanya. Ditulis oleh seorang wartawan senior Sky Sports yang kebetulan perempuan dan sudah menulis banyak artikel tentang Liverpool, dari Melissa Reddy:


Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia: “Jürgen Klopp berhak mengucapkan selamat tinggal pada waktunya, dengan pikiran dan hati yang selaras. Seorang pria yang tanpa kenal lelah membangun kembali sebuah klub, mengisi ulang basis penggemarnya, sekaligus mewakili komunitas. Dia memberi orang lebih dari sekadar kesuksesan: pengalaman bersama, kenangan abadi, dan keyakinan.”

Apapun itu, keputusan Klopp untuk mengundurkan diri harus diterima. Sudah tak penting lagi apa alasan sebenarnya di balik keputusan itu. Ia sudah menyatakan diri bahwa ia sudah merasa tak punya energi dan butuh waktu untuk istirahat. Keputusan itu benar-benar datang dari dalam dirinya sendiri. Ia juga menyadari kalau bukan ia yang mengundurkan diri, maka tidak ada seorang pun yang punya alasan untuk memecatnya.

Saya masih ingat, salah satu momen terburuk yang bisa jadi alasan Klopp dipecat adalah saat musim 2020/2021. Saya pernah menuliskan catatannya di sini tiga tahun yang lalu. Persis menjelang paruh musim, badai cedera datang sementara budget pembelian pemain sangat terbatas. Kekalahan demi kekalahan mulai terasa begitu sakit.

Sebagai tim yang menyandang status juara Premier League, tidak seharusnya berada kondisi yang semenyayangkan itu. Namun, lagi-lagi, banyak yang menganggap momen itu bukan semata-mata kesalahan Klopp, tetapi juga bagian dari kesalahan FSG sebagai investor. Di momen terburuk seperti itu pun, sebagai fans, saya tidak menemukan alasan yang masuk akal.

Klopp sudah bilang akan resign sejak bulan November 2023 lalu. Dalam sesi press conference, ketika ada wartawan yang bertanya kepada Klopp soal masih adakah kemungkinan Klopp berubah pikiran atas keputusannya ini, Klopp tegas menjawab “No, Nothing.”

Jangan sampai karena ego pelatih yang terus memaksakan diri jadi hambatan klub sebesar Liverpool. Arsene Wenger, pelatih yang sudah puluhan tahun bersama Arsenal, mengakui sendiri bahwa menjadi pelatih sepakbola selalu penuh tekanan. Wenger sepakat bahwa seorang pelatih harus punya waktu untuk hiatus, alih-alih menerima tawaran kontrak melatih, apalagi di klub yang sama. Wenger sudah merasakan sendiri dampaknya. Di akhir masa ia pensiun sebagai pelatih Arsenal, ia merasa meninggalkan klub dengan kondisi yang kurang optimal.

Saya membayangkan situasi saat ini membuat para pemain dan eks pemain yang sempat dilatih oleh Klopp membusungkan dada. Tongkat kepemimpinan era Klopp yang sudah membawa ‘golden sky and the sweet silver song of love’ semestinya sudah tertanam kuat dalam diri setiap pemain. Untuk selanjutnya membawa vibe tersebut bersama pelatih baru kelak, siapapun itu.

Setiap musim berganti selalu berharap ada pemain yang datang ke Liverpool untuk memberikan dampak. Kita mungkin juga sempat lupa bahwa pelatih juga punya hak untuk mengundurkan diri. Bagaimana misalnya jika sang pelatih itu tiba-tiba memutuskan berhenti di tengah jalan, meskipun secara tim sedang berada dalam performa yang baik? Dan ya, inilah yang sekarang terjadi.

Kaget dan kecewa, sudah pasti. Tapi, akan lebih kecewa jika Liverpool tidak berkembang jika terus menerus dilatih oleh Klopp. Bukankah pada setiap perpisahan itu akan melegakan jika berakhir secara baik-baik? Yang mundur harus legowo karena sudah dipikirkan dengan matang, sementara yang ditinggalkan harus menerima dengan sepenuh hati. Karena inilah sebaik-baiknya pertemuan yang singkat. Bukan karena dipecat atau dihujat.

Masih ada waktu untuk sisa musim ini. Angkat topi. Danke, Mr Klopp!

Komentar
You May Also Like