“berjalan tak seperti rencana, adalah jalan yang sudah biasa, dan jalan satu-satunya, jalani sebaik-baiknya”

Potongan kalimat di atas diambil dari lirik lagu “Gas!” garapan grup band beraliran ‘hampir rock nyaris seni’ asal Yogyakarta, sebutlah mereka dengan FSTVLST (baca: festivalist). Bagian lirik yang menurut saya sangat enak didengar, dekat dengan keseharian, dan tidak mengandung nasihat yang muluk-muluk. Bagian lagu yang sepertinya bakal jadi mantra ‘sing along’ saat FSTVLST manggung.

Lagu tersebut pertama kali diperdengarkan ke publik melalui kanal Youtube FSTVLST pada bulan September 2018. Sampai tulisan ini dibuat, setidaknya video tersebut sudah diputar lebih dari 270 ribu kali. Entakan drum di bagian intro lagu ini berjalin kelindan dengan melodi yang terdengar meraung-raung di sepanjang lagu, menjadi sebuah pembuka yang apik. Bagi pendengar lama FSTVLST, tidak sulit untuk menebak lagu ini sebagai lagu milik band yang enam tahun lalu merilis album HITS KITSCH.

Lagu “Gas!” menjadi penanda lahirnya album kedua FSTVLST dengan tajuk FSTVLST II. Sebagai salah satu pendengar FSTVLST, simbol II bisa juga diartikan sebagai ‘yang kedua’ atau jika meminjam slogan-slogan yang sering diusung FSTVLST, arti dari simbol II adalah setara. Pesan ini sudah melekat di berbagai kanal media sosial FSTVLST sejak beberapa yang tahun lalu.

Sebagai band yang dekat dengan seni (art), cara FSTVLST mengemas album perlu diacungi jempol. Halaman webnya yang beralamat di fstvlst.id disulap menjadi landing page ciamik yang wajib dikunjungi oleh mereka yang benar-benar tertarik mendengarkan semua lagu di album FSTVLST II. Tak hanya mendengarkan, mereka juga dimanjakan untuk mengunduh secara cuma-cuma semua lagu tersebut di halaman web yang didominasi dengan warna identitas merah, kuning, dan hitam.

Soal lagu-lagu yang berhasil diunduh, ternyata tidak cuma file lagu saja yang bisa didapatkan. Album art, ilustrasi sampul untuk setiap lagu, juga semua lirik di album ini turut disertakan dalam hasil unduhan yang berformat .zip. Rasanya baru kali ini merasakan pengalaman mengunduh lagu dari internet secara legal dan gratis, sekaligus mendapatkan paket lengkap album art dan liriknya. Jika album ini diputar melalui music player seperti iTunes, maka lirik-liriknya bisa nongol seperti ini.

Tidak semua lagu di album ini dirilis dalam waktu yang bersamaan, melainkan dirilis secara berkala selama kurun waktu 2018 hingga 2020. Kesembilan lagu tersebut sejak awal sudah diberi judul, tinggal menunggu rilis sesuai titi mangsanya. Proses penggarapan yang memakan waktu cukup lama, apalagi harus melewati masa pandemi COVID-19, semakin membuat penasaran pendengar atas dua lagu terakhir yang belum dirilis.

Sampai waktu rilis itu tiba, FSTVLST masih mencoba tetap hadir di tengah-tengah pengikutnya. Selama masa pandemi, Farid Stevy, dkk. beberapa kali menggelar sesi tanya jawab lewat IG Live, bergantian antar satu personel dengan personel yang lain. Mereka juga memberikan ruang kepada para followers-nya untuk ikut andil memberikan pendapat seputar lagu-lagu yang sudah dirilis.

Akun media sosial IG @fstvlst sempat pula menggembar-gemborkan kampanye #nabung50ribu. Awalnya kampanye itu diniatkan sebagai modal tabungan untuk membeli rilisan fisik album terbaru FSTVLST. Cukup banyak pengikut FSTVLST yang menyodorkan video-video singkatnya saat mengumpulkan uang ke dalam kotak celengan. Begitu albumnya dirilis pada 15 Juni 2020 lalu, seruan ini diserahkan kembali kepada setiap individu melalui tagar #50ribubuatyanglebihbutuh dan #50ribubuatyanglebihpenting.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by FSTVLST.ID (@fstvlst) on

Ada beberapa kesan yang diperoleh setelah seminggu lebih mendengarkan album ini. Sekaligus mencari-cari perbedaan konsep paling kentara dibandingkan album HITS KITSCH. Pertama, penjudulan lagu di album ini hanya menggunakan satu kata, mengingatkan saya dengan judul artikel kolom Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad di halaman terakhir majalah Tempo. Penamaan yang singkat sejak nama albumnya muncul dan pada beberapa judul lagu menggunakan istilah yang tidak awam.

Kedua, ada perbedaan penulisan lirik dan tema lagu di album ini jika dibandingkan dengan album sebelumnya. Album FSTVLST II memuat lirik-lirik yang lebih lugas dan tidak terlalu banyak kiasan seperti di album pertama. Pemilihan diksi pada lirik lagu album ini masih memiliki daya pikat yang kuat. Farid Stevy, sang vokalis sekaligus penulis lirik di album ini tahu betul bagaimana menorehkan kegelisahan-kegelisahan dengan cara yang lebih dewasa.

Bila masih ingat konsep album HITS KITSCH yang mengangkat tema-tema universal dengan memberi penjudulan yang panjang, tema lagu di album FSTVLST II justru lebih mudah untuk dikategorisasikan. Sebagian lagu ditulis untuk merekam dan mengomentari kejadian-kejadian yang heboh belakangan.

Misal lagu “Vegas” dan “Hayat” yang mencoba merespons tingkah laku para bigot agama dengan sinis. Lagu “Rupa” yang ditujukan buat para wakil rakyat yang gemar bersilat kata untuk memperjuangkan kemenangan semu, ketimbang mengurus perkara lapar kenyang rakyatnya. Atau lagu “Kamis”, lagu yang dirilis lebih belakangan, berisi narasi perihal Aksi Kamisan yang digelar setiap hari Kamis di depan Istana Negara.

“Gas!”, “Syarat”, dan “Opus” adalah nyanyian tentang seni menjalani hidup dan harapan-harapan manusia sebagai makhluk yang dibelenggu dengan persoalannya masing-masing. Lagu “Mesin” dan “Telan” masih menyimpan kritik postmodernisme dalam dunia hari ini. Secara lirik, dua lagu ini mengingatkan saya dengan lagu-lagu lama mereka saat masih bernama Jenny.

Ketiga, secara musikalitas, lagu-lagu di album ini menggunakan aransemen yang terdengar lebih kaya. Simak saja lagu “Syarat”, lagu yang menjadi lagu favorit beberapa personel FSTVLST lantaran menggunakan beberapa efek instrumen yang variatif, sehingga terdengar lebih segar. Danish, drummer FSTVLST, pernah bercerita di sesi IG Live @fstvlst beberapa waktu lalu, bahwa ia sampai menggunakan 4 settingan drum di lagu itu.

Kalau boleh memilih di antara sembilan lagu album FSTVLST II, maka lagu yang paling nyantol di kepala adalah “Gas!”, “Telan”, baru kemudian “Opus”. Perlu repetisi untuk memahami lagu-lagu sisanya, yang terasa seperti memiliki sesuatu yang baru.

Lagu “Telan” sesekali pernah dibawakan secara live dengan judul “Telan Cakrawalanya”, sehingga tidak asing bagi saya untuk mencerna lagu ini. Lagu “Opus” entah kenapa langsung terasa nyaman di telinga kendati ia diletakkan di track list paling akhir. Bila diibaratkan lagu pengiring senam kesegaran jasmani, mendengarkan “Opus” adalah porsi yang pas untuk gerakan pendinginan setelah melakukan pemanasan dan gerakan inti. Jika didengarkan dengan jeli, maka ada bagian di lagu ini yang memperdengarkan sayup-sayup lagu “Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak Dan Ditinggalkan”.

Secara keseluruhan, album FSTVLST II adalah pembuktian bahwa FSTVLST masih konsisten menyalakan api warna musik yang menjadi junjungannya. Kontennya disusun oleh lirik-lirik yang menyuarakan kritik kegelisahan (atas situasi saat ini) dan kesetaraan (sebagai manusia). Setelah ini, sembari menunggu pandemi usai, rasanya tak sabar untuk segera menyaksikan FSTVLST kembali hidup meriah di panggung-panggung musik.

Tanpa mengurangi apresiasi atas album ini, mari nikmati dulu album FSTVLST II dengan suka cita. Selamat atas kelahiran album barunya mas Farid (vokal), mas Roby (gitar), mas Mufid (bass), mas Danish (drum), dan mas Rio (keyboard). Tabik!

Komentar