Sebagai penikmat minuman kopi rumahan, aktivitas meracik kopi dengan beragam teknik adalah kesenangan sendiri. Apalagi masa pandemi seperti sekarang ini membuat para penikmat kopi terpaksa harus menjadi ‘home brewers’ rumahan. Jika dulu terbiasa ngopi-ngopi sambil nongkrong dengan kawan-kawan, maka kini harus menahan diri terlebih dahulu.

Sudah bukan rahasia lagi, aktivitas work from home (WFH) bagi sebagian orang akan menyebabkan kejenuhan, sehingga perlu semacam asupan sebagai teman duduk. Selain kopi, tentu ada banyak minuman kekinian yang bisa jadi pilihan, entah itu teh, boba, jus, atau minuman lainnya. Bagi yang gandrung dengan kopi pun, ada berbagai cara untuk menikmatinya.

Ngomong-ngomong soal kopi, saya sendiri mulai minum kopi jenis single origin sejak tahun 2013. Sebelumnya saya hanya tahu minuman kopi itu ya kopi tubruk, atau paling mentok kopi instan yang dikemas dengan berbagai merek.

Jika belum terbiasa, minum kopi racikan single origin tanpa gula akan langsung terasa pahit. Namun, bila sudah terbiasa, lidah akan dengan mudah mencecap aroma kopi yang kandungannya berbeda-beda. Kalau kamu follow akun-akun Instagram yang jual kopi akan ada banyak istilah rasa di sana, lengkap dengan informasi bagaimana kopi itu diproses, sekaligus daerah asalnya.

Sejak saat itulah saya mulai mengenal beragam racikan kopi yang lebih luas, biasanya dibedakan menurut cara meraciknya, dari metode filter V60, filter kalita wave, vietnam drip, aeropress, espresso, americano, latte, dan lain sebagainya. Apalagi Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi yang ‘kaya’. Kaya di sini berarti ada beragam jenis kopi yang karakternya ditentukan oleh proses terbentuknya biji kopi itu sendiri serta asal daerahnya.

Metode yang paling sederhana untuk membuat kopi sebetulnya adalah kopi tubruk. Sejumput bubuk kopi lalu dituangi air panas dan jadilah secangkir kopi tubruk. Sayangnya teknik tersebut tidak bisa mengeluarkan aroma kopi yang sebenarnya. Biasanya cara ini lebih cocok diterapkan pada kopi-kopi bubuk berjenis robusta.

Namun, bagi para artisan kopi, teknik itu terlalu sederhana. Mereka biasanya lebih tertarik dengan metode filter atau sering disebut dengan V60 (manual brew), karena lebih terlihat seninya. Kopi yang cocok untuk teknik ini haruslah yang berjenis arabika.


Metode ini membutuhkan alat yang namanya dripper dan kertas penyaring (paper filter). Saat ini ada banyak sekali jenis dripper dan kertas penyaring, dari yang murah (berbahan dasar plastik) sampai yang mahal (berbahan dasar keramik).

Saya sendiri lebih suka teknik ini untuk membuat kopi di rumah. Kopinya biasa dibeli dari marketplace dan bila stok sudah habis akan mencoba mencicipi varian-varian lain dari berbagai roastery. Kopi yang saya beli biasanya sudah dalam keadaan jadi bubuk atau paling tidak disesuaikan dengan gilingan yang agak kasar (medium coarse) untuk metode V60.

Beberapa orang mungkin akan lebih suka membeli kopi dalam bentuk biji baru kemudian digiling sendiri di rumah dengan alat penggiling (coffee grinder). Berhubung saya belum punya alat dan malas menggiling sendiri, maka saya lebih suka kopinya sudah siap seduh. Jangan khawatir, hampir semua jenama kopi manual brew sekarang sudah punya alat penggiling, sehingga kita bisa me-request bentuk gilingan sesuai kebutuhan.

Nah, uniknya metode V60 sendiri kalau mau diulik juga ada teknik menyeduhnya. Biasanya teknik-teknik ini dipopulerkan oleh para barista atau pemenang kompetisi seduh kopi. Dua teknik yang cukup populer saat ini adalah metode V60 4:6 Tetsu Kasuya dan teknik ultimate V60 James Hoffmann. Saya tidak akan membahas detail dua teknik itu, karena bisa dicari dengan mudah di Youtube atau Google. Pun masih ada teknik-teknik lain yang bisa coba dipraktikkan.

Selain itu, belakangan inovasi kopi juga makin variatif. Ada yang mencoba dicampur dengan susu, gula aren, sirup, sampai perasan daun mint atau buah lemon. Normalnya kopi biasanya diseduh dengan air panas/hangat, tetapi ada juga kopi manual brew yang disajikan dalam keadaan dingin, misalnya cold brew dan iced coffee.

Untuk membuat cold brew biasanya butuh waktu yang lama atau bisa dibilang tidak langsung jadi begitu kopi tersebut diracik. Proses cold brew harus menunggu proses fermentasi berjam-jam sehingga aroma kopi bisa lebih keluar dengan jelas. Di pasaran sendiri sudah mulai banyak dijual iced coffee maker sebagai alat bantu untuk membuat cold brew, seperti yang dikeluarkan oleh jenama Hario seri Mizudashi.


Beberapa waktu yang lalu saya tertarik untuk membuat iced coffee. Awalnya saya mengira bahwa iced coffee ini adalah nama lain dari cold brew, ternyata setelah melihat proses pembuatan dan cara menikmatinya jauh berbeda. Iced coffee bisa langsung dinikmati begitu kopi selesai diseduh. Bahan bakunya pun sederhana, cukup menambahkan es batu ke dalam metode filter V60.

Namun, tunggu dulu, sama seperti pada metode V60, takaran air panas, es batu, dan kopi juga ada aturan mainnya. Bergantung pada metode apa yang sedang dipakai.

Kali ini saya akan membagikan resep mudah membuat Japanese Iced Coffee. Resep ini sengaja saya tulis ulang dari blog ini, karena setelah Googling ternyata tidak mudah menemukan resep yang oke untuk metode ini. Saya sendiri sudah mempraktikkan resep ini beberapa kali dan hasilnya sangat cocok di lidah saya.

  • Siapkan alat seduh V60, paper filter, timbangan, gelas besar, kopi, air panas, dan es batu. Kalau punya teko kecil leher angsa dan server (pengganti gelas besar) untuk menyimpan seduhan kopi juga boleh digunakan.
  • Siapkan kopi dengan ukuran gilingan medium coarse sebanyak 18 gram, gunakan perbandingan berat kopi dan air masing-masing 1:15. Jika kopinya 18 gram, maka berat airnya adalah 270 gram. Air di sini dihitung berdasarkan jumlah total air panas dan es batu. Pada teknik ini, berat es batu yang diperlukan cukup 150 gram, sehingga 120 gram sisanya adalah takaran air panas. Sebagai catatan, es batu di sini boleh dalam bentuk apapun, termasuk es batu kristal yang bisa dibuat sendiri dalam freezer.
  • Pertama, masukkan es batu 150 gram ke dalam server dan letakkan dripper di atasnya.
  • Kedua, letakkan paper filter di dalam dripper, kemudian basahi terlebih dahulu dengan air panas agar lebih steril dan aroma kertas hilang.
  • Ketiga, masukkan kopi bubuk sebanyak 18 gram tadi.
  • Keempat, tuangkan air panas sebanyak dua kali berat kopi (36-40 gram) selama 30 detik, biarkan proses brewing terjadi.
  • Kelima, tuangkan air panas sisanya secara perlahan-lahan. Bila tadi sudah dipakai 40 gram, maka air panas sisa yang perlu dituang kurang lebih sebanyak 80 gram. Tunggu sampai air dalam dripper merembes semua ke dalam server.
  • Jika diperhatikan selama proses di atas, air kopi akan berjumpa dengan es batu yang ada di bawah sehingga menghasilkan es kopi dan selamat, Japanese Iced Coffee sudah siap untuk dinikmati!
  • Tips: Japanese Iced Coffee juga cocok ditetesi dengan perasan lemon untuk menambah kesegaran dan aroma citrus 🙂

 

“Excellent coffee should have its own sweetness, and instead of suppressing bitterness the milk will obscure the flavour characteristics of the coffee, hiding the work of the producer and the expression of terroir that the coffee has.” – James Hoffmann

Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter