Sekitar setengah jam memasuki pertandingan di Anfield Januari lalu, gelandang Naby Keita menerima bola dari sisi kiri dan mulai menggiring bola dengan langkah kaki panjang. Pada saat itu, Liverpool memimpin klasemen Premier League, seperti yang terjadi di sebagian besar musim itu.

Kekalahan Manchester City pada malam sebelumnya memberi Liverpool peluang untuk memperpanjang keunggulan menjadi selisih tujuh poin jika bisa mengalahkan Leicester City saat itu. Dari kursinya di tribun, Graham mendesak Keita.

“Ayo, Naby,” katanya, dengan aksen Wales yang dalam. “Lanjutkan!”

Keita melewati dua pemain belakang Leicester. Kemudian dia seketika tampak ragu-ragu dan kehilangan bola. Graham menghela nafas.

“Ahhhh, Naby,” katanya.

Graham dibesarkan satu jam berkendara dari Cardiff sebagai seorang penggemar Liverpool. Masa kecilnya di tahun 1970-an dan 1980-an bertepatan dengan era dominasi Liverpool. Tidak ada salahnya bahwa salah satu pemain terbaik Liverpool, Ian Rush, kebetulan juga merupakan pemain Wales.

Sebelum pertandingan dimulai, ia dan ketiga analis yang bekerja di bawahnya menyusun satu paket informasi. Pada saat Klopp memutuskan wawasan (insight) mana yang layak diteruskan kepada tim, para pemain hanya samar-samar menyadari bahwa beberapa saran itu diperoleh dari perhitungan matematis tingkat doktoral.


“Kami tahu seseorang telah menghabiskan waktu berjam-jam di balik pintu tertutup untuk mencari tahu,” kata gelandang Alex Oxlade-Chamberlain. “Tetapi manajer tidak menyodorkan statistik dan analitik untuk kami. Dia hanya memberi tahu kita apa yang harus dilakukan.”

Seringkali, saran tersebut bertentangan dengan apa yang mungkin dipercayai oleh seseorang yang hanya menonton video pertandingan. Graham dan timnya bisa melaporkan bahwa pemain sayap kiri dengan kaki kiri yang kuat mengirim umpan silang yang memukau di atas pertahanan ke arah gawang. Tetapi data menunjukkan bahwa umpan silang yang kurang mengesankan datang justru dari sayap kanan. Umpan tersebut sering terjadi dengan akurat, menghasilkan gol yang jauh lebih sering. Kedengarannya belum sempurna. Dalam sepak bola, itu praktis sebuah revolusi.

Tanggung jawab terberat Graham adalah membantu Liverpool memutuskan pemain mana yang akan didapatkan. Dia melakukan itu dengan memasukkan informasi tentang permainan ke dalam formulanya. Yang tidak dilakukannya adalah melakukan evaluasi dengan menonton game-game itu.

“Saya tidak suka video,” katanya. “Itu membuatmu bias.”

Graham ingin klub tempat dia bekerja berakhir dengan kemenangan, tetapi dia juga ingin penilaiannya bisa divalidasi. “Semua pemain ini, sudah ada diskusi tentang kemampuan relatif mereka,” katanya. “Jika mereka melakukannya dengan buruk, saya menganggapnya sebagai penghinaan pribadi. Jika saya pikir seseorang adalah pemain yang baik, saya benar-benar ingin mereka melakukannya dengan baik”.

“Keita adalah salah satu temuan Graham. Lahir di negara Afrika Barat, Guinea, ia bermain untuk klub Red Bull Austria lima tahun lalu ketika Graham memperhatikan data yang ia dapatkan; tidak seperti yang dia lihat. Pada saat itu, Keita adalah seorang gelandang bertahan, diposisikan di depan para pemain belakang Salzburg. Kadang-kadang, gelandang bertahan akan berkembang menjadi gelandang tengah, yang bermain lebih jauh ke depan. Keita melakukannya.

Jarang, pun jika pernah, mereka akan muncul sebagai gelandang serang, yang perannya sebagian besar lebih ofensif. Keita juga melakukannya. Pergeseran peran Keita membuat kekacauan statistik konvensional yang digunakan untuk mengukur kontribusi pemain terhadap klubnya.


Misalnya, posisi yang Anda mainkan dalam sepak bola, yang tidak seperti bola basket, memiliki efek signifikan pada peluang Anda untuk memasukkan bola ke gawang, atau seberapa sering Anda menyentuh kaki lawan. Tapi Graham tetap meremehkan statistik itu. Dia hanya sedikit kurang jeli untuk memantau beberapa metrik yang kemungkinan bisa lebih berpengaruh, seperti persentase percobaan yang dilakukan.

Alih-alih ia menghabiskan waktu berbulan-bulan membangun model untuk menghitung peluang setiap tim untuk mencetak gol sebelum tindakan apa pun – seperti umpan, tendangan gagal, tekel – dan kemudian peluang apa yang diperoleh segera setelah aksi tersebut. Dengan menggunakan modelnya, ia dapat mengukur seberapa besar setiap pemain mempengaruhi peluang timnya untuk menang selama pertandingan. Tidak dapat dihindari, beberapa pemain terbaik dalam statistik ada di bagian atas daftar Graham. Tetapi yang lain sisanya berakhir di bawah.

Tingkat penyelesaian operan Keita cenderung lebih rendah ketimbang beberapa gelandang elit lainnya. Angka-angka Graham, bagaimanapun, menunjukkan bahwa Keita sering mencoba umpan-umpan yang, jika selesai, akan membawa bola kepada rekan setimnya di posisi di mana ia memiliki peluang mencetak gol yang lebih baik di atas rata-rata.

Apa yang dilihat penonton ketika mereka menyaksikan Keita adalah gelandang serba bisa. Sementara apa yang dilihat Graham di laptopnya adalah sebuah fenomena. Di sini ada seseorang yang terus bekerja untuk memindahkan bola ke posisi yang lebih menguntungkan, sesuatu yang bahkan penonton yang penuh perhatian mungkin tidak akan memperhatikan detail itu, kecuali ia benar-benar mencarinya. Mulai tahun 2016, Graham merekomendasikan Liverpool untuk mencoba mendapatkannya. Keita tiba di Liverpool musim panas lalu.

Pada pertandingan Januari melawan Leicester City, permainan Keita tampaknya tidak bisa memberikan validasi atas analisis Graham. Perhitungan di atas kertas menunjukkan bahwa Keita sebetulnya melakukannya dengan baik seperti biasa, tetapi beberapa fans menyadari bahwa – dan beberapa eksekutif Liverpool mungkin juga tidak merasakan hal yang sama.

Demi Keita dan demi ketenangan pikiran Graham, beberapa bantuan akan membantu. Di babak kedua, Keita menggiring bola melalui beberapa pemain belakang. Entah bagaimana, dia muncul dengan tidak ada siapa pun di antara dirinya dan kiper. Ketika Graham mencoba setengah berdiri beranjak dari kursinya, Keita menembak. Pada saat yang sama, seorang pemain Leicester meluncur ke arahnya. Bola melebar tidak ada penalti yang diberikan wasit.

Graham mengerang. Segera setelah itu, Keita dicopot sebagai pengganti. Graham bertepuk tangan dengan antusias ketika Keita meninggalkan lapangan, tetapi ketika saya bertanya apakah dia pikir Keita bermain bagus, dia tidak akan memberi saya jawaban yang pasti. Dia akan memberitahuku besok, katanya, setelah dia melihat data yang dikumpulkan.

Graham bekerja selama dua tahun pascadoktoral di Cambridge ketika dia menyadari bahwa dia tidak ingin menjadi seorang ilmuwan. Sebagian besar terobosan di bidangnya, fisika polimer, telah dibuat bertahun-tahun sebelumnya. “Koran-koran klasik telah ditulis pada 1970-an,” katanya. “Jadi, Anda mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa membuat sedikit kemajuan.” Ketika seseorang memberitahu sebuah lowongan pekerjaan di perusahaan start-up analitik, yang menawarkan layanan konsultasi untuk tim sepak bola, dia tertarik. Dia mendapatkan pekerjaan itu dan disuruh membaca “Moneyball.”

Selama empat tahun, dari 2008 hingga 2012, Graham membantu Tottenham. Klub ini dijalankan oleh serangkaian manajer yang tidak begitu tertarik dengan sarannya, yang mungkin berlaku untuk hampir semua manajer sepakbola pada waktu itu. Kemudian Fenway membeli Liverpool dan mereka mulai menerapkan budaya menentukan sesuatu berbasis data.

Salah satu hal yang dilakukan termasuk mempekerjakan Graham untuk membangun versi departemen penelitian tim bisbolnya. Reaksinya, hampir seragam, dilecehkan. “‘Seorang maniak laptop,’ Seseorang yang tak mau tahu permainannya seperti apa – Anda akan mendengarnya hingga beberapa bulan yang lalu,” kata Barry Hunter, yang menjalankan departemen akademi Liverpool. “Hal-hal yang berkaitan dengan ‘Moneyball’ banyak disampaikan pada kita.”

Graham hampir tidak peduli dengan itu semua. Dia tenggelam dalam usahanya mencari inefisiensi – menemukan pemain, termasuk beberapa pemain tersembunyi di depan mata dan yang diremehkan. Suatu sore pada musim dingin yang lalu, dia menarik beberapa grafik di laptopnya dan memproyeksikannya di layar.

Grafik itu berisi statistik seperti total gol, jumlah gol yang dicetak per menit termasuk jumlah peluang yang dibuat, serta gol yang diharapkan (expected goal). Saya terkejut melihat Graham bekerja dengan statistik seperti itu, yang menurutnya sederhana. Tapi dia benar. “Kadang-kadang Anda tidak perlu melihat lebih jauh dari itu,” katanya.

Pada tahun 2014, Chelsea mendapatkan kontrak dari gelandang serang Mesir, Mohamed Salah. Salah tiba dengan reputasi sebagai bintang yang sedang naik daun, meskipun dalam dua tahun bersama klub dari Swiss, ia hanya mencetak sembilan gol. Di Chelsea, ia memiliki jam terbang  yang tidak jauh berbeda. Ia bermain dalam 13 pertandingan selama dua musim dan mencetak dua gol, sisanya ia justru menghabiskan sebagian besar waktunya untuk dipinjamkan ke klub lain. Akhirnya, kontraknya dijual kepada A.S. Roma, di Italia. Pada saat itu, Salah dianggap memiliki peluang kecil untuk berhasil di Inggris.

Bermain di Premier League itu unik, menurut komunitas sepakbola Inggris. Persaingan lebih seimbang daripada di tempat lain; hampir setiap pertandingan adalah kerja keras. Pemain Inggris mempelajari permainan yang lebih sering menggagalkan passing presisi, gaya permainan fisik yang kasar dan secara terang-terangan. Perhatian media cukup intensif dan kadang mengganggu. Cuacanya sering mengerikan.

Untuk beberapa pemain, asumsi ini berlaku. Tetapi tidak bagi pemain lain tidak mendapatkan kesempatan bermain di Premier League. “Ada gagasan bahwa Salah gagal di Chelsea,” kata Graham. “Dengan hormat saya tidak setuju.” Berdasarkan perhitungan Graham, produktivitas Salah di Chelsea mirip dengan bagaimana ia bermain sebelum datang ke Inggris, dan setelah dia pergi.

Jumlah 500 menit bermain untuk Chelsea merupakan sebagian kecil dari kariernya. “Mereka mungkin punya sedikit bukti terhadap kualitasnya,” kata Graham, “tetapi itu juga perlu diimbangi dengan 20 kali data dari ribuan dan ribuan menit.” Melalui gagasan konvensional bahwa bermain di Inggris itu memang berbeda, Graham melihat peluang ketidakefisienan dalam sistem.

Graham merekomendasikan agar Liverpool mengakuisisi Salah, yang permainannya makin subur di Italia. Dalam olahraga Amerika, tim mungkin menawarkan pemain lain sebagai gantinya. Dalam sepak bola, hak pemain dibeli dan dijual ada di pasar bebas. Setelah harga jual tercapai, negosiasi dimulai dengan si pemain. Jika dia tidak puas dengan gaji yang diajukan, atau jika dia tidak menyukai kota tempat tim bermain atau manajer yang akan dia mainkan, dia bisa menolak tawaran itu.

Merawat talenta yang muncul dan kemudian menjual haknya untuk mendapatkan keuntungan bisa membantu tim yang lebih kecil tetap aman. Bahkan beberapa klub yang bermain di liga top negara mereka, seperti Bayer Leverkusen (Jerman), menggunakan proses tertentu untuk menghasilkan pendapatan yang cukup agar tetap kompetitif. “Transfer adalah tempat uang itu berada,” kata Graham. “Mereka adalah komponen besar dari kinerja keuangan.”

Bulan Juli itu, Liverpool membayar Roma sekitar $41 juta untuk Salah. Data Graham menyarankan bahwa Salah akan berpasangan dengan Firmino, striker Liverpool lainnya, yang menciptakan lebih banyak gol. Ternyata itu yang terjadi. Selama musim berikutnya, 2017/2018, Salah mengubah gol yang diharapkan itu menjadi kenyataan. Dia memecahkan rekor Liga Premier dengan mencetak 32 kali gol. Dia juga menjadi simbol kebangkitan Liverpool.

Prestasinya itu membuat dirinya menjadi salah satu pemain sepak bola yang paling dikenal. Keputusan itu ternyata menjadi pertanda kemajuan Liverpool melakukan langkah tak terduga ke final Liga Champions musim lalu. Itu memberikan bukti nyata pertama bahwa strategi yang diterapkan oleh Henry dan kelompok Fenway-nya bekerja dengan baik. Musim ini, Salah adalah satu dari tiga pemain yang memimpin Premier League dalam jumlah koleksi gol. (Rekan setimnya Sadio Mané adalah yang lain.) Situs web Transfermarkt, yang sering memperkirakan harga jual pemain, memperkirakan nilai jual Salah saat ini ada di $173 juta.

Akuisisi lainnya mungkin atau bahkan lebih penting. Segera setelah tiba di Liverpool, Graham diminta untuk meneliti pemain sayap kiri di Inter Milan, Philippe Coutinho. Data-datanya sangat mendukung Coutinho. Liverpool membeli hak Coutinho sekitar $16 juta. Selama lima tahun ke depan, permainan Coutinho berkontribusi pada kebangkitan Liverpool. Namun, kontribusinya yang paling penting adalah untuk menambah pendapatan.

Tahun lalu, Barcelona membayar Liverpool sekitar $170 juta untuk Coutinho. Segera setelah itu, Liverpool menghabiskan lebih dari $ 200 juta untuk tiga pemain baru: penjaga gawang Alisson Becker, gelandang Fabinho, dan bek Virgil van Dijk. Semua menjadi kontributor penting musim ini. Ini adalah komoditas yang berharga, dan tidak ada yang datang dengan cara instan. Namun tanpa mendapatkan keuntungan dari menjual Coutinho, Henry meyakinkan saya, para pemain itu tidak akan diperoleh.

***

Baca bagian sebelumnya: Petualangan Ian Graham Menemukan Talenta Terbaik di Skuat Liverpool (Bagian 3)

Baca bagian selanjutnya (terakhir): Petualangan Ian Graham Menemukan Talenta Terbaik di Skuat Liverpool (Bagian 5)

Artikel ini merupakan artikel terjemahan yang pertama kali terbit pada 22 Mei 2019 di halaman The New York Times dengan judul asli “How Data (and Some Breathtaking Soccer) Brought Liverpool to the Cusp of Glory”, ditulis oleh Bruce Schoenfeld.
Artikel sepanjang 5000-an kata ini dibagi ke dalam lima bagian untuk memudahkan pembaca menemukan konteks di masing-masing bagian yang saling berhubungan. Artikel ini dengan gamblang memaparkan bagaimana peran seorang ahli data statistik mempengaruhi ekosistem klub-klub di Premier League sampai saat ini dengan mengambil studi kasus di kesebelasan Liverpool.
Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter