Pemain hebat asal Brazil, Pelé, pernah mengatakan sepak bola sebagai “permainan yang indah.” Dia tidak sedang mencoba membual, tapi setelah mengatakannya, ia tak bisa menjelaskan begitu saja. Permainan cair seperti sepak bola tidak berasal dari kejadian-kejadian yang saling terpisah, seperti bisbol dan sepak bola ala Amerika, dan di sana jumlah skor pertandingan tak sebanyak bola basket. Sebaliknya, banyak hal yang terjadi tak mungkin untuk diukur. Bakat sering dinilai secara eksklusif dengan mengandalkan estetika. Jika Anda terlihat seperti pemain yang baik, yang dirasakan adalah, mungkin Anda memang seperti itu.

Sebagian besar olahraga menggunakan berbagai statistik untuk menilai tim dan pemain. Sampai saat ini, tidak ada seorang pun di sepakbola yang peduli tentang siapa yang mencetak gol. Sekarang kami mendapatkan hal-hal baru tentang seberapa banyak tembakan yang dilepaskan oleh pemain yang berbeda, berapa persen waktu yang dibutuhkan masing-masing tim untuk mengendalikan bola, dan banyak metrik lainnya. Tetapi hampir tidak ada yang memberikan penjelasan yang lebih jelas tentang apa yang terjadi di lapangan, termasuk tim mana yang akhirnya menang.

Misalnya, bola dibelokkan oleh pemain bertahan keluar lapangan sehingga memberikan tendangan sudut kepada lawan, yang mana ini adalah sebuah peluang mencetak gol. Secara teori, tendangan sudut itu bagus, dan mendapatkan lebih banyak kesempatan tendangan sudut akan menunjukkan strategi bola mati yang sukses.

Kecuali jika tendangan sudut lebih menguntungkan untuk beberapa tim saja. Tim dengan penyerang yang mahir mengarahkan bola ke depan gawang akan memanfaatkan kesempatan itu, tetapi tim dengan bakat penyelesai peluang yang lebih baik akan lebih suka menghadapi pemain bertahan. Ia cenderung mengambil kesempatan tersebut melalui permainan terbuka. Tim-tim seperti itu tak akan mencoba membuat peluang lewat tendangan sudut, dan justru mereka tidak begitu suka ketika ada tendangan sudut.

Atau pertimbangkan durasi waktu saat menguasai bola. Beberapa tim jarang mencetak gol tanpa bola, jadi merebut bola dari lawan akan terdengar lebih masuk akal. Namun beberapa tim juga tidak ingin terlalu sering membawa bola. Jika Anda tidak sedang membawa bola, Anda tidak bisa menyerah begitu saja.

Seorang anggota tim nasional Islandia yang berpikiran defensif pernah memberi tahu saya. Ballhandlers Islandia itu nggak mahir, jadi para pelatihnya menginstruksikan pemainnya untuk menjaga bola jauh dari tujuannya.

Pada tahun 2016, Islandia maju ke perempat final kejuaraan Eropa, mengalahkan negara-negara yang luasnya berkali-kali lipat, termasuk Inggris – dan pada akhirnya turnamen itu dijuarai oleh Portugal. Tidak ada satu pun pemain Islandia yang nyaris membawa bola bahkan dalam separuh waktu.


Untuk alasan-alasan semacam ini, sepak bola dianggap tidak cocok dengan pendekatan analitis yang dijelaskan dalam buku Michael Lewis tahun 2003 berjudul “Moneyball” tentang bagaimana tim bisbol Oakland A mendapat keuntungan dari mengevaluasi pemain menggunakan kriteria yang berbeda dari orang lain. Sepak bola tampak mustahil untuk diukur. Sebagian besar permainan melibatkan penyelidikan dan penilaian, menggerakkan bola dari pemain ke pemain sambil menunggu ada ruang yang terbuka.

Dan kemudian satu-satunya gol mungkin datang dari pemain sayap yang telah melakukan sedikit penyesuaian. “Permainan kami tidak dapat diprediksi,” kata Sam Allardyce, yang telah mengelola 12 klub selama hampir tiga dekade sebelum Everton memecatnya tahun lalu. “Terlalu tak terduga untuk membuat keputusan tentang statistik. Kami tidak berbicara tentang bisbol atau sepak bola Amerika di sini. ”

Chelsea membentuk departemen analisis pertama kali pada Premier League 2008. Arsenal kemudian membeli perusahaan analisis statistik, StatDNA. Tetapi manajer klub-klub itu tidak melihat adanya keuntungan dalam menerapkan data ke olahraga, atau mereka terlalu sibuk mencoba mempertahankan pekerjaan mereka untuk mencari tahu bagaimana cara melakukannya.

Beberapa tahun yang lalu, konferensi analitik OptaPro muncul di London sebagai cara bagi sekelompok kecil pemain sepak bola untuk saling mempresentasikan makalah. Meski begitu, semua grafik dengan panah dan peta panas (heatmap) yang diungkapkan tampaknya memiliki sedikit pengaruh pada permainan di atas lapangan.

Ketika metrik baru muncul, komentator dan pelatih merasa bangga karena menolak mereka. Ketika Craig Burley dari ESPN, mantan gelandang Liga Premier, diminta mengudara untuk mengomentari tentang expected goal (xG) atau “gol yang diharapkan,” sebuah formula untuk menghitung seberapa sering sebuah tim seharusnya mencetak gol berdasarkan peluang, dia menjawab dengan tak percaya. “Benar-benar omong kosong,” teriaknya. “Ini seperti aku mengharapkan sesuatu saat Natal dari Santa Claus, tetapi mereka tidak datang.”

Namun, tim seperti Chelsea dan Arsenal memiliki sumber daya yang mereka miliki, yang memungkinkan mereka untuk tetap bisa mengumpulkan talenta terbaik. Dibandingkan dengan mereka, Liverpool pada dasarnya masih berada di posisi seperti tahun-tahun 1990-an. Diperlukan pendekatan yang berbeda agar bisa mengimbangi mereka. Dan semua pemain yang berlari di sekitar lapangan sepak bola jelas melakukan sesuatu. Sesekali, gol pun dicetak. Jika mengumpulkan dan menganalisis data dapat membantu membuat takdir, bukankah bodoh untuk tidak mencobanya?

***


Baca bagian sebelumnya: Petualangan Ian Graham Menemukan Talenta Terbaik di Skuat Liverpool (Bagian 2)

Baca bagian selanjutnya: Petualangan Ian Graham Menemukan Talenta Terbaik di Skuat Liverpool (Bagian 4)

Artikel ini merupakan artikel terjemahan yang pertama kali terbit pada 22 Mei 2019 di halaman The New York Times dengan judul asli “How Data (and Some Breathtaking Soccer) Brought Liverpool to the Cusp of Glory”, ditulis oleh Bruce Schoenfeld.
Artikel sepanjang 5000-an kata ini dibagi ke dalam lima bagian untuk memudahkan pembaca menemukan konteks di masing-masing bagian yang saling berhubungan. Artikel ini dengan gamblang memaparkan bagaimana peran seorang ahli data statistik mempengaruhi ekosistem klub-klub di Premier League sampai saat ini dengan mengambil studi kasus di kesebelasan Liverpool.

 

Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter