Pada menit ke-79 semifinal kedua Liga Champions, awal Mei lalu, bola keluar dari lapangan akibat tendangan sudut Liverpool. Trent Alexander-Arnold, bek sayap berusia 20 tahun, mencoba berjalan ke dalam lapangan agar membiarkan rekan setimnya di Liverpool mengambil tendangan sudut.

Namun, saat ia mulai berjalan, Alexander-Arnold memperhatikan bahwa para pemain Barcelona sedang tampak terganggu. Hanya beberapa yang memandang ke arahnya. “Itu hanya salah satu dari momen-momen itu,” katanya, “ketika Anda melihat peluang.”

Alexander-Arnold berjalan empat langkah, melakukan tipuan seolah-olah akan kembali ke posisinya. Tiba-tiba ia membalikkan arah, berlari kecil mendekati bola, dan menendangnya ke arah area penalti Barcelona.

Saat itu Liverpool telah melakukan comeback yang luar biasa. The Reds mencetak tiga gol tanpa balas, menyamai tiga gol kandang Barcelona pada pertandingan leg pertama. Sebelum kedudukan imbang, Barcelona adalah tim favorit kuat untuk melaju ke babak final, dan hasil pertandingan pertama sudah sangat meyakinkan atas penilaian itu. Setelah itu, seseorang yang ingin memenangkan taruhan $100 dolar untuk Barcelona perlu mengambil risiko $1800 untuk melakukannya.

Selama hampir satu generasi, antara tahun 1975 dan 1990, Liverpool adalah tim yang dominan. Ia memenangkan 10 gelar di divisi utama Inggris. Termasuk memenangkan Piala Eropa, yang lebih dulu ada sebelum Liga Champions, empat kali dalam delapan tahun. Liverpool begitu sukses sehingga untuk sementara waktu dianggap sebagai salah satu ikon Inggris yang paling menonjol. Para penggemar klub itu ada di seluruh Eropa, juga di negara-negara yang sebelumnya tidak meminati olahraga, seperti Australia dan seluruh Amerika.

Klub-klub Inggris pada masa itu dimiliki oleh pengusaha pekerja keras yang menimbun kekayaannya melalui tambang batu atau bisnis tempat parkir. Situasi ini berubah ketika orang-orang terkaya di dunia mulai membelinya. Pada tahun 1997, pengusaha Mesir dan pemilik department store Mohamed al-Fayed mengambil alih Fulham, tim London di divisi kedua, dan membawanya promosi ke Premier League.

Pada tahun 2003, oligarki asal Rusia, Roman Abramovich, yang kaya dari minyak, aluminium, dan baja, membeli Chelsea. Pada tahun 2007, Stan Kroenke, suami dari ahli waris Wal-Mart, mulai mengakumulasi saham Arsenal. Pada tahun yang sama, saham keluarga yang telah mengelola Liverpool selama setengah abad terjual habis kepada dua pengusaha Amerika, Tom Hicks dan George Gillett.


Hicks juga memiliki klub bisbol Texas Rangers dan klub hoki Dallas Stars. Gillett melepas minat bisnis resor ski menjadi tim Nascar dan Montreal Canadiens N.H.L. Liverpool sendiri tetap menjadi pelabuhan setengah juta penduduk yang lama kelamaan semakin memudar, tak lebih dari kota pascaperang yang sudah menghasilkan The Beatles.

Ekonomi pelabuhannya sekadar menjadi daya tarik perusahaan-perusahaan di London atau bahkan Manchester. Dan ternyata Gillet dan Hicks hanya punya sedikit uang untuk sepak bola. Dalam beberapa tahun, Liverpool berhutang ratusan juta dolar, sementara ia masih terus berjuang di lapangan.

Pada Oktober 2010, melalui proses pailit, Hicks dan Gillett dipaksa untuk menerima tawaran 480 juta dolar dari New England Sports Ventures. Ialah John Henry, eks pedagang komoditas dan manajer investasi yang menjabat sebagai pemegang saham mayoritas, seseorang yang tumbuh di kota kecil Missouri dan Arkansas.

Henry menjadi kaya dari algoritma yang ia rancang untuk meramalkan fluktuasi di pasar kedelai. Jenis analisis yang sama juga sudah melekat ke dalam DNA perusahaannya. Hampir tidak ada keputusan di sana yang dibuat tanpa algoritma itu.

Ketika kelompok Henry, yang sekarang dikenal sebagai Fenway Sports Group (FSG), mengakuisisi Liverpool, klub ini belum pernah berakhir di puncak liga dalam dua dekade. Karena Fenway tidak bisa berbelanja sembarangan seperti para syekh dan oligarki, sehingga harus dikelola dengan cerdas.

Dalam enam musim pertamanya di bawah kepemilikan Fenway, Liverpool masuk enam besar hanya sekali. Liverpool cuma pernah lolos ke Liga Champions sekali pada tahun-tahun itu, dan itupun tersingkir sebelum perempat final. Ketergantungan pada angka, banyak orang sepak bola percaya, akan merusak pemain sepak bola yang seharusnya bisa membuat keputusan sendiri di lapangan. Rintangan pertama yang perlu diatasi Klopp jika ia ingin berhasil di Liverpool, surat kabar The Independent menulis, “akan menjadi ikatan yang mendalam klub atas teori bahwa statistik dan analisis pemain dapat memberi banyak jawaban.”

Namun, tim analisis Graham hanya bisa mendorong tim ke arah yang positif secara bertahap, satu rekomendasi untuk sekali waktu. Dan karena Klopp juga mendapat saran dari sumber-sumber yang lebih konvensional, taktik yang ia pilih akhirnya adalah perpaduan antara data-driven dan intuisi. Dalam persiapannya menghadapi semifinal Liga Champions, ia tampaknya fokus pada bagaimana merespon cepat bek yang tidak biasa, bisa menekan Barcelona ke depan, memotong umpan, dan mencoba mengubahnya menjadi serangan balik instan.


Sebagian besar rencana itu berhasil. Di menit-menit awal pertandingan pertama, para pemain Barcelona tampak bingung. Namun, seperti yang sering terjadi dalam sepak bola, keunggulan taktik tidak serta merta dikonversi menjadi gol. Sebaliknya, Luis Suarez, mantan pemain Liverpool, justru mencetak gol untuk Barcelona.

Kehilangan 1-0 bagi Liverpool akan membuat pertandingan kedua lebih dramatis di Anfield, stadion yang memiliki atmosfer luar biasa dan telah menjadi rumah klub sejak abad ke-19. Namun di akhir pertandingan, Lionel Messi, salah satu pemain hebat Barcelona, mencetak dua gol kemudian. Gol terakhir adalah tendangan bebas melengkung di sisi blok pertahanan dan hanya melewati tangan kiper Liverpool yang terlentang. Gol itu seperti menyampaikan pesan bahwa tidak ada persiapan analitik yang bisa melampaui keterampilan pemain seperti itu. “Saat ini,” kata Klopp setelah pertandingan, “ia benar-benar tidak bisa dihentikan.”

Dalam aturan Liga Champions, gol yang dicetak pada laga tandang akan membawa beban tambahan jika skor akhir ditentukan melalui dua laga. Hal itu berarti jika Barcelona mencetak satu gol di Anfield, Liverpool akan membutuhkan lima gol untuk membuat kemenangan. Jika itu belum cukup menakutkan, dua pemain terbaik Liverpool saat itu, Mohamed Salah dan Roberto Firmino, sedang cedera dan tidak akan bermain. Namun, ketika Divock Origi, pengganti Salah, mencetak gol di menit ke-7 pertandingan, atmosfer menjadi hidup kembali. Kemudian Liverpool mencetak dua gol lagi di awal babak kedua. Setelah itu baru tendangan sudut tipuan ala Alexander-Arnold dilakukan.

Sebelum mengambil tendangan bebas, Trent menatap mata Origi. Kemudian, ketika Alexander-Arnold berlari kembali ke sudut, Origi mengubah posisinya. Bola sampai ke kakinya dengan dua lompatan, dan ia segera mengarahkannya ke sisi kiri gawang. Itu adalah jenis gol yang tidak pernah bisa diskenariokan, atau diprediksi dengan perhitungan apa pun. “Kami tidak ada hubungannya dengan gol keempat.”

***

Baca bagian sebelumnya: Petualangan Ian Graham Menemukan Talenta Terbaik di Skuat Liverpool (Bagian 1)

Baca bagian selanjutnya: Petualangan Ian Graham Menemukan Talenta Terbaik di Skuat Liverpool (Bagian 3)

Artikel ini merupakan artikel terjemahan yang pertama kali terbit pada 22 Mei 2019 di halaman The New York Times dengan judul asli “How Data (and Some Breathtaking Soccer) Brought Liverpool to the Cusp of Glory”, ditulis oleh Bruce Schoenfeld.
Artikel sepanjang 5000-an kata ini dibagi ke dalam lima bagian untuk memudahkan pembaca menemukan konteks di masing-masing bagian yang saling berhubungan. Artikel ini dengan gamblang memaparkan bagaimana peran seorang ahli data statistik mempengaruhi ekosistem klub-klub di Premier League sampai saat ini dengan mengambil studi kasus di kesebelasan Liverpool.

 

Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter