Sebagai dosen paruh waktu yang membimbing mahasiswa yang jumlahnya hampir satu RW, mengajar kuliah daring saat masa pandemi COVID-19 jadi tantangan tersendiri. Kelihatannya kuliah daring itu sederhana dan mengasyikkan, tetapi secara nggak sadar justru banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk tidak mengikuti jalannya perkuliahan.

Jika kuliah tatap muka, persiapan dosen cukup menyiapkan materi, datang ke kampus, lalu mengajar sesuai dengan jadwal perkuliahan. Sementara jika kuliah online, dosen harus melakukan persiapan lebih ekstra. Jangan dikira, pekerjaan dosen justru jadi lebih selow saat kuliah online. Salah besar!

Dosen itu perlu menentukan platform apa yang paling pas buat mahasiswa agar bisa mengakses informasi dan materi dengan nyaman, terjangkau, dan tidak boros kuota. Belum lagi jika dosen harus menyiapkan aplikasi, jenis presensi, dan koneksi internet yang memadai.

Sementara saat kuliah tatap muka, hal yang sama sudah disiapkan oleh staf kampus. Apalagi saat masa PSBB di tengah-tengah wabah pandemi corona seperti sekarang, ruang gerak menjadi serba terbatas.

Mahasiswa sudah saatnya saling memaklumi kondisinya masing-masing, kondisi sesama teman sekelas, maupun kondisi bapak/ibu dosen. Jangan sampai para mahasiswa ini menjadi semakin liar membuat alasan yang nggak rasional untuk tidak mengikuti kuliah atau tidak mengerjakan tugas dengan baik.

Berikut ini adaalah beberapa jenis perangai mahasiswa ketika mengikuti kuliah online.

Tipe Silent Reader

Mahasiswa yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka-mereka yang tidak banyak polah saat kuliah online. Mereka adalah jenis mahasiswa yang sangat berhati-hati mengambil sikap dan lebih baik cari aman. Lebih memilih tunduk kepada dosen dan sebisa mungkin mengerjakan semua perintah.


Selama kuliah online berlangsung, mahasiswa ini kelihatan aktif, tapi sebetulnya gerak-geriknya cenderung pasif. Jenis mahasiswa yang punya paham ‘bodo amat’ dan nggak peduli dengan kondisi temen-temen yang lain. Yang penting presensi aman, quiz aman, tugas aman, dan ujian aman. Soal nilai biar ‘nrimo ing pandum’, serahkan semuanya pada bapak/ibu dosen.

Bagi dosen, mahasiswa seperti ini bisa meringankan tugas dosen, tapi sekaligus membikin dosen jadi penasaran. Di balik pasifnya si mahasiswa, apakah ia benar-benar sudah memahami materi kuliah online yang disampaikan dosen? Pun saat ditanya di sela-sela kuliah online, mereka seringkali cuma diam seribu bahasa.

Tipe Caper

Tipe mahasiswa caper biasanya terbagi menjadi dua jenis, yaitu mahasiswa yang cuma berani caper saat kuliah online dan mahasiswa yang memang di dunia nyata doyan cari perhatian.

Tipe pertama biasanya lebih mudah untuk ‘dijinakkan’. Contohnya saat ada mahasiswa yang berisik saat kuliah online, begitu dosen memanggil namanya, maka ia akan dengan sadar segera menghentikan perilakunya.

Tipe kedua ini yang terkadang menyebalkan. Di tengah-tengah situasi pandemi seperti sekarang, cara caper mereka kadang sampai pada taraf mengganggu teman-temannya yang lain. Hobi caper di dunia nyata seakan-akan lebih mudah diduplikasi di dunia online.

Saya beberapa kali mendapati mahasiswa jenis ini. Misalnya saat kuliah daring berlangsung dengan sengaja menghidupkan musik keras-keras, tidak mematikan kamera atau audio saat kuliah berlangsung, atau melempar guyon-guyon receh di fitur chatting.

“Pak, itu si Dolly belum mandi”, “Pak, kuota internet habis”, “Pak, belum sarapan”, “Pak, waktu kuliah habis”. Hadeeeh, bodo amat…


Tipe Tukang Titip Presensi

Mahasiswa jenis ini ternyata tidak hanya terjadi saat kuliah tatap muka, tetapi juga bisa terjadi saat kuliah online. Mereka adalah para anggota tetap LPP (Laskar Pemburu Presensi). Mencoba sengaja bolos sekali, lalu coba bolos untuk kedua kalinya, dan seterusnya sampai ketagihan. Urusan presensi diserahkan dengan titip absen ke teman yang lain. Kan, kuliah online itu presensinya cuma mengisi formulir kehadiran.

Memang benar, presensi adalah salah satu parameter untuk mengetahui keaktifan. Namun, seandainya memang tidak bisa hadir di kelas mbok ya mending nggak usah presensi. Kalau cuma bolos sekali atau dua kali kan nggak masalah asal tetap memantau jalannya perkuliahan. Atau setidaknya masih memenuhi persentase kuota minimal tidak masuk kelas dalam satu semester. Nggak perlu titip presensi.

Nah, yang kadang bikin judeg, sudah kuliah mahal-mahal (tipikal, wkwk) tapi gagal paham apa yang sedang dicari dari kuliah. Kalau memang ingin kuliah tapi nggak pengen kelihatan di kelas, kenapa sih nggak dari dulu coba masuk Universitas Terbuka (UT) saja atau ikut kursus online? Plis deh…

Tipe Bingungan

Mahasiswa yang termasuk ke dalam jenis ini biasanya mahasiswa-mahasiswa yang penuh dengan keraguan. Jati dirinya masih angin-anginan, antara menuruti kata hati untuk fokus kuliah atau memilih untuk males-malesan kuliah karena ketularan teman-temannya yang ‘nggak bener’. Yah, mungkin doi sedang telat mengalami masa-masa jadi ABG.

Mahasiswa jenis ini akan mencari cara agar ia tidak terlihat bingung. Sering bertanya ke teman-temannya yang lain atau saking paniknya langsung tanya ke email atau WhatsApp dosen. Kalau dibales lama, dia akan kirim email atau WhatsApp lagi. Begitu terus diulang-ulang.

Untuk menandai mahasiswa jenis ini salah satunya bisa dilihat dari cara mengirim email. Contohnya saat ada mahasiswa yang saking pekoknya menulis pesan atau isi email di bagian subjek. Sudah begitu, di bagian bawah email ada keterangan ‘sent from iPhone’. Steve Jobs kayaknya bakal sinis kalau melihat ada orang salah kaprah nulis email lewat iPhone kayak gini.

Tipe Sok Lupa

Pernah suatu kali saya mendapati mahasiswa yang baru join kelas online sehari sebelum ujian. Padahal informasi tentang kelas online sudah diberi tahu jauh-jauh hari sebelumnya. Alasannya sangat klasik, yaitu lupa. Lupa kalau keterusan namanya jadi niat lupa. Sementara, niat dan lupa itu bedanya jauh banget, dik.

Sudah begitu, ia merengek-rengek minta ganti jatah relaksasi quiz dan tugas. Ini ibarat main sepakbola pakai VAR, sudah jelas-jelas golnya tidak valid, tapi masih merengek-rengek golnya itu valid.

Tidak semudah itu, ferguso. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Tapi ingat, manusia juga makhluk Tuhan yang harus bisa menerima segala konsekuensi. Dan camkan selalu bila yang namanya kuliah online, pasti semuanya ada jejak digitalnya.

Kalau situ lupa, dosen juga bisa kok pura-pura sok lupa sama situ, hehehe…

Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter