Virus Covid-19 sejak awal memang menakutkan. Dengan begitu cepat dan masif, penularannya membawa malapetaka di segala bidang kehidupan. Bermula dari sebuah kota kecil di Wuhan, China, virus yang terdeteksi sejak awal tahun ini seketika menyebar ke sepenjuru dunia.

Begitu masuk ke Indonesia pada pertengahan Maret 2020, dunia kesehatan mau tak mau harus menanggung wabah mematikan ini. Celakanya, wabah ini tidak hanya mengancam si pasien, tetapi juga mengancam para tenaga medis yang menangani si pasien. Sementara keberadaan obat dan vaksinnya masih belum ditemukan.

Faktanya, sampai sekarang banyak tenaga medis yang gugur karena tertular oleh pasien-pasien yang sedang ditangani. Menurut IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Indonesia menjadi negara yang memiliki tingkat kematian tenaga medis tertinggi di dunia atas wabah ini.

Virus yang menyebar lewat kontak fisik dan droplet ini bukan jenis yang pilih tanding. Siapa saja bisa menjadi korban. Tua muda dengan berbagai macam profesi bisa dengan mudah tertular jika sistem imun tubuh lemah dan punya riwayat penyakit penyerta.

Sampai tulisan ini dibuat, Indonesia sudah mencatatkan lebih dari 7.000 kematian akibat virus ini. Jumlah yang begitu besar untuk nyawa manusia. Sementara jumlah kasus positif harian masih naik turun, bahkan cenderung belum menunjukkan adanya penurunan berarti. Bayangkan, dalam tiga bulan terakhir saja selalu ada lebih dari 1.000 kasus per hari. Rekor sejauh ini ada 3000-an kasus positif dalam sehari ((per tanggal 29 Agustus 2020).

Kasus pertama yang terdeteksi ada di Indonesia pada bulan Maret lalu seperti dianggap enteng. Pemerintah baru bisa membuat keputusan penting terkait pandemi ini setelah korban-korban berjatuhan. Ini masih ditambah dengan simpang siurnya data jumlah kasus positif harian dan jumlah korban yang meninggal.

Kurang transparannya pemerintah Indonesia dalam memberikan data terkini beserta profiling pasien menjadi bukti bahwa penanganan wabah ini belum secanggih negara-negara lain di luar Asia Tenggara yang konon kini tren penularannya mulai menunjukkan penurunan.


Padahal jika pemerintah sejak awal bisa menyampaikan data dengan akurat, terintegrasi, dan terbuka, polanya bisa diketahui dengan mudah. Data tersebut bisa menjadi rujukan untuk menentukan misalnya, di wilayah mana perlu diberlakukan lockdown dan pembatasan sosial yang lebih ketat.

Prioritas penanganan pandemi yang semula berfokus pada pencegahan atas penularan virus ini di beberapa daerah harus dibarengi dengan pemulihan ekonomi. Pro kontra atas kebijakan pemerintah terus berdatangan. Maju kena, mundur kena.

Dari yang awalnya bicara soal cara menaikkan tes harian, aturan protokol kesehatan, kini mulai ramai soal rumor penemuan vaksin corona. Di sisi lain, bukannya terus memperketat mobilitas, pemerintah justru mulai melonggarkan kegiatan-kegiatan yang melibatkan kerumunan dengan dalih new normal alias masa adaptasi kebiasaan baru.

Sebut saja di Surabaya, Gubernur Jawa Timur berencana menggelar konser, mall-mall mulai dibuka dengan pengunjung membludak di sejumlah tempat, moda transportasi publik mulai dibuka untuk umum, juga bioskop-bioskop akan segera beroperasi.

Banyak dari kita kesal mengapa pandemi ini tak segera berlalu. Tak ada yang benar-benar bisa memprediksi kapan pandemi ini bisa enyah. Kalaupun ada, prediksi tersebut seperti kontradiktif dengan usaha-usaha yang dipilih oleh pemerintah. Enam bulan ke belakang, efek penanganan yang dicanangkan pemerintah seperti belum memberi dampak.

Jika kita lihat di sekeliling kita, aktivitas dan situasi kehidupan sehari-hari sudah seperti tidak sedang terjadi pandemi. Masih ada saja yang tidak pakai masker dan berkumpul tanpa memperhatikan jaga jarak. Masyarakat sudah jengah dengan ini semua. Sebagian terpaksa acuh dengan kondisi ini karena bingung dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah.

Pemerintah perlu lebih tegas lagi agar masyarakat tidak lalai. Beri contoh bagaimana cara menggunakan masker dalam aktivitas sehari-hari. Buat aturan yang bisa meringankan masalah-masalah yang diderita oleh masyarakat terdampak pandemi, apa pun caranya.


Terus memakai masker, rajin cuci tangan, serta jaga jarak masih perlu diberlakukan. Jika perlu, lakukan micro lockdown untuk sementara waktu seperti yang pernah dilakukan pada masa-masa awal pandemi. Sebelum jatuh korban semakin banyak, rumah sakit semakin penuh, dan kehilangan tenaga medis lagi dan lagi.

Ini adalah momen yang paling tepat untuk selalu ingat menjaga kebersihan kapan dan dimana pun kita berada. Tak ada salahnya ruang-ruang publik seperti kantor, warung makan, mall, toko, stasiun, terminal, dan bandara dipasangi poster-poster yang berisi ajakan untuk melakukan hal-hal di atas.

Saya hanya bisa berharap ketika pandemi ini selesai, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Ada banyak sekali studi kasus di berbagai negara yang bisa dijadikan pelajaran. Termasuk bagaimana respons pemerintah di masing-masing negara saat membaca dan memberi konteks atas data temuan.

Memang setiap negara punya kebijakan masing-masing untuk menangani keadaan darurat ini. Ada yang berhasil, ada pula yang belum berhasil. Akan sangat disayangkan jika Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta penduduk, menjadi bagian dari negara yang gagal mengatasi pandemi.

Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter