Kereta itu dulu punya gerbong dengan ciri khas warna hijau pupus (hijau kekuning-kuningan). Duduknya berhadap-hadapan di atas bangku panjang seperti kereta rel listrik (KRL) commuter line di Jabodetabek. Pada jam-jam sibuk, kereta itu akan terasa penuh. Orang-orang yang tak kebagian tempat duduk mau tak mau harus berdiri di dalam kereta Prambanan Ekspres (Prameks).

Semenjak tanggal 10 Februari 2021, Prameks relasi Jogja-Solo resmi ditiadakan. Jalur tersebut digantikan oleh KRL yang melayani rute yang sama. Rencana ini sebetulnya sudah mulai terlihat sejak beberapa waktu lalu, ketika lintasan double track dan tiang-tiang penyangga listrik mulai dipasang di sepanjang jalur kereta Jogja-Solo.

Prameks bukanlah kereta listrik, melainkan kereta bermesin diesel elektrik. Memang, rangkaian kereta itu awalnya ditujukan sebagai rangkaian kereta listrik, sebelum penggeraknya kemudian dimodifikasi menjadi mesin diesel elektrik oleh PT INKA. Itu dilakukan karena pada saat itu infrastruktur untuk kereta listrik belum dibangun di sepanjang lintasan kereta Jogja-Solo.

Kendati penyebutan kereta Prambanan Ekspres sudah ada sejak tahun 1994, tetapi kereta itu rasanya semakin populer sejak tahun 2008. Popularitas itu seiring dengan peningkatan jumlah perjalanan kereta Prameks dalam sehari. Total ada sepuluh kali jadwal perjalanan pulang-pergi rute Jogja-Solo dan empat kali jadwal perjalanan pulang-pergi rute Jogja-Kutoarjo.

Pada suatu masa, saya begitu sering menaiki kereta ini. Prameks selalu jadi pilihan utama. Mungkin hampir setiap akhir pekan pulang pergi dari dan ke Jogja. Selain karena harganya murah, kereta ini punya jadwal perjalanan yang cukup banyak dalam sehari. Kebetulan Prameks punya jalur yang cukup strategis untuk melayani perjalanan ke timur (Solo) dan barat (Kutoarjo).

Tak heran kereta ini selalu menjadi primadona banyak orang. Dari mahasiswa, para pekerja komuter yang harus pulang-pergi (ngelaju) di hari yang sama, sampai anak-anak sekolah yang berdarma wisata ke Jogja tiap akhir pekan. Beragam golongan dan latar belakang penumpang dari berbagai kelas akan mudah dijumpai di antara penumpang kereta Prameks.


Para penumpang kereta ini bukan semata mereka yang stasiun di dekat tempat tinggalnya dilewati kereta Prameks, tetapi mereka-mereka yang juga tinggal di kota sebelah juga sangat menikmati peran kereta ini. Sebut saja mereka-mereka yang tinggal di Kebumen, Cilacap, Purwokerto, Ngawi, hingga Wonogiri.

Tak bisa dimungkiri bahwa Prameks adalah kereta yang memiliki peran yang luwes. Apalagi kereta ini selalu tersedia setiap jam dari pagi sampai malam hari. Berbeda dengan fungsi kereta jarak jauh, Prameks bisa dibilang merupakan kereta komuter yang menghubungkan daerah-daerah di selatan Jawa Tengah dan DIY. Stasiun-stasiun besar yang dilewati kereta ini terletak di tengah-tengah kota, yang mana tak jauh dari pusat keramaian atau setidaknya dekat dengan pusat transportasi umum yang lain (seperti terminal dan bandara).

Misalnya saya dulu sering pulang kampung dari Jogja ke Kebumen. Sudah barang tentu jalur perjalanan kereta hanya mentok sampai Kutoarjo saja. Namun, itu tak menjadi masalah. Hanya sepelemparan batu dari stasiun Kutoarjo, sudah bisa ditemui terminal bus dan jalan lintas kabupaten yang hampir tiap jam berlalu lalang kendaraan umum bus kecil maupun besar. Jadi, untuk meneruskan perjalanan sampai tujuan cukup ngetem bus kota di sekitaran situ saja.

Begitu juga bila sesekali saya pergi ke Solo dari Jogja. Letak stasiun Purwosari dan Balapan sama-sama ada di tengah perkotaan. Di depan kedua stasiun tersebut sudah terpacak beberapa halte bus BST (Batik Solo Trans), yang siap mengantar para pelancong ke setiap sisi kota. Atau kalau mau melanjutkan perjalanan lebih jauh dengan bus antarkota, bisa turun di Stasiun Balapan. Di samping stasiun itu terdapat terowongan yang menghubungkan Stasiun Balapan dengan Terminal Tirtonadi.

Jangan heran bila setiap akhir pekan, kereta ini selalu penuh dibanding hari biasanya. Jogja seringkali menjadi daerah tujuan wisata keluarga yang murah dan meriah. Ketika melintasi wilayah DIY, kereta ini akan berhenti di tiga stasiun yang jaraknya tidak terlalu jauh, yaitu Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, dan Stasiun Maguwo.

Kalau mau jalan-jalan di Malioboro, penumpang turun di Stasiun Tugu atau Stasiun Lempuyangan. Kalau mau melanjutkan perjalanan dengan naik pesawat, penumpang bisa turun di Stasiun Maguwo, yang letaknya persis di depan Bandara Adi Sucipto.

Prameks juga menjadi alternatif orang-orang yang ingin naik kendaraan umum dengan menawarkan dua keuntungan: durasi perjalanan yang lebih cepat dan harga lebih murah dibandingkan dengan naik bus kota misalnya. Tiket Prameks hanya bisa dipesan tiga jam sebelum kereta itu berangkat sesuai jadwal dan hanya bisa dipesan di stasiun secara offline. Bahkan dulu ada beberapa calo tiket kereta yang siap membantu calon penumpang membelikan tiket karena alasan malas mengantre atau sedang dalam keadaan terburu-buru.


Bayangkan saja jika naik bus patas AC rute Jogja-Solo biasa dibanderol Rp 15.000, naik Prameks hanya dibanderol Rp 8.000 saja. Jika diperbandingkan secara durasi, perjalanan Jogja-Solo dengan jarak sekitar 25 km, bisa ditempuh bus tersebut antara satu sampai satu setengah jam. Sementara bila naik kereta, durasi perjalanan cukup ditempuh dalam waktu 45 menit saja.

Meskipun termasuk kereta bisnis, pada mulanya Prameks tak dilengkapi AC sama sekali. Kereta Prameks reguler non-AC hanya dilengkapi dengan blower kipas angin. Jika tempat duduk sudah habis, sebagian penumpang diperbolehkan duduk lesehan, sebagian lagi berdiri sambil mengenggam gantungan di bawah langit-langit kereta.

Sejauh yang saya amati, para penumpang Prameks cenderung tertib. Gerbong keretanya selalu bersih, jauh dari kesan kumuh dan pengap. Memang sesekali jumlah penumpang kereta ini membludak, mirip seperti kereta KRL di Jabodetabek pada jam-jam sibuk pergi dan pulang kerja. Hanya pada saat-saat tertentu saja kereta ini menjadi sedikit gerah bercampur bau keringat bila terlalu banyak penumpang.

Beberapa waktu kemudian muncul kereta Prameks yang sudah dilengkapi AC dengan model tempat duduk yang sama layaknya dengan kereta bisnis pada umumnya. Kereta Prameks ber-AC itu awalnya merupakan rangkaian kereta Sriwedari. Sayangnya, dalam sehari kereta Prameks ber-AC ini hanya melayani satu kali perjalanan pulang-pergi. Lambat laun, kereta Prameks non-AC sudah tak dioperasikan lagi dan diganti dengan rangkaian kereta yang ber-AC.

Kereta Prameks menyimpan kenangan manis di benak banyak orang. Apalagi hari-hari terakhir kereta ini beroperasi ada di masa-masa pandemi seperti sekarang ini. Mereka yang kangen naik Prameks, jadi tak bisa merayakan naik kereta ini di hari-hari terakhirnya. Prameks kini hanya menyisakan rute untuk jalur Jogja-Kutoarjo PP.

Ingatan-ingatan akan humanisme perjalanan naik kereta mulai dari antrean membeli tiket, berebut tempat duduk dengan datang lebih awal, hangatnya bertemu teman lama yang sama-sama sedang pulang kampung atau pulang kerja, mendengar keluh kesah orang-orang yang baru kenalan, indahnya tenggang rasa mempersilakan orang tua dan ibu hamil duduk di bangku kereta, atau barangkali takdir menemukan pasangan di atas kereta ini bagi sebagian orang, entah kapan bisa dirasakan kembali.

Yah, semoga saja KRL baru relasi Jogja-Solo membawa angin baru di dunia perkeretaapian sebagai alternatif transportasi publik yang aman dan nyaman. Mengingat kereta ini menjadi penanda baru dioperasikannya kereta listrik di jalur tersebut. Di masa mendatang, saya masih berharap KRL ini bisa melayani rute yang sedikit lebih jauh lagi, misal Solo-Kutoarjo atau Solo-Kebumen PP.

Sayonara, Prameks!

Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter