Hari itu mungkin akan menjadi hari yang bakal diingat oleh Giorginio Wijnaldum lantaran hari itu adalah hari terakhir dirinya berseragam Liverpool. Pada hari itu juga, Liverpool baru saja memungkasi semusim Premier League dengan mempertahankan posisi klasemen empat besar setelah melewati hari-hari yang sulit. Mulai dari parade bek yang cedera, dibantai di kandang Aston Villa dengan skor besar 7-2, gagal di Carabao Cup/FA Cup/Liga Champions, pun berbulan-bulan sulit masuk klasemen empat besar.

Sampai partai ke-37, Liverpool bertengger di posisi kelima. Namun, selisih poin yang sangat tipis dengan posisi ketiga dan keempat, membuat Liverpool masih punya kans masuk dalam zona empat besar. Liverpool memperebutkan zona empat besar bersama Chelsea dan Leicester City.

Pertandingan ke-38 yang digelar secara serempak menyisakan drama-drama di lapangan yang tak kalah menegangkan. Singkat cerita, Liverpool dan Chelsea-lah yang memboyong tiket ke Liga Champions musim depan karena raihan akumulasi poin masing-masing ada di peringkat ketiga dan keempat. Kedua klub tersebut menemani dua klub lain yang sudah memastikan lolos zona Liga Champions beberapa minggu yang lalu, yakni Manchester City dan Manchester United.

Selepas pertandingan itu, pemain bernomor punggung 5 itu tak akan bermain lagi bersama Liverpool karena sudah memutuskan untuk tak memperpanjang kontraknya. Laga melawan Crystal Palace yang digelar di Anfield dengan kemenangan 2-0 menjadi laga terakhirnya untuk Liverpool. Pada laga itu, ia didapuk sebagai kapten sebelum digantikan oleh James Milner pada menit ke-78.

Begitu pertandingan usai, ada semacam upacara kecil di sisi lapangan. Ia dilepas oleh rekan-rekan setimnya sebagai ungkapan rasa terima kasih sudah ikut menjadi keluarga selama bertahun-tahun. Momen yang begitu spesial. Wijnaldum melangkah bagaikan seorang pejuang yang kembali dari medan perang setelah menaklukkan palagan.

Saya kira tak semua eks pemain Liverpool dilepas dengan cara seperti itu, disambut tepuk tangan dan peluk hangat oleh semua staf pelatih dan pemain di akhir laga. Hanya pemain-pemain istimewa yang sudah memberikan dedikasinya kepada klub dengan sepenuh hati. Apalagi kondisi Anfield saat itu sudah memperbolehkan penonton datang ke stadion setelah berbulan-bulan dilarang karena pandemi.


“Seorang arsitek untuk kesuksesan kami, kami membangun Liverpool menjadi seperti saat ini berkat kaki, paru-paru, otak, dan kebesaran hatinya yang indah…”

Seperti itulah tanggapan Jurgen Klopp kala diminta untuk memberikan testimoni atas penampilan Wijnaldum selama ini bersama Liverpool. Tak cuma isapan jempol belaka, Klopp menyebut pemain asal Belanda tersebut sebagai sang legenda Liverpool.

“Kata-kata itu membuat saya begitu emosional,” kata Wijnaldum.

“Tidak semua pemain di Liverpool mengucapkan selamat tinggal dengan cara seperti itu.”

Melihat kiprahnya, Wijnaldum bukanlah pemain yang mencolok. Ia pemain yang biasa-biasa saja. Sampai kemudian ia menjadi salah satu pencetak gol pada leg kedua semifinal Liga Champions 2018/2019 melawan Barcelona. Dalam laga itu, ia menjadi superhero yang bisa menyamakan agregat 3-3 lewat dua gol kandang yang diciptakan hanya dalam waktu jeda dua menit saja.

Pemain yang dulunya didatangkan dari Newcastle United pada tahun 2016 itu kalah pamor dengan popularitas trio lini depan Liverpool. Sama seperti para gelandang Liverpool yang lain, ia pun butuh waktu yang cukup lama sampai kemudian dipercaya sang pelatih untuk menjadi starter. Apalagi barisan gelandang Liverpool saat itu sudah diisi oleh nama-nama gaek seperti Coutinho, Milner, Henderson, dan Emre Can.


Musim 2019/2020 menjadi musim paling kompetitif baginya kendati ia dipercaya menjadi salah satu gelandang pilihan pertama Klopp bersama Jordan Henderson dan Fabinho. Ia selalu diturunkan dalam 37 laga dari total 38 laga Premier League musim itu. Di akhir musim, ia menjadi bagian kejayaan Liverpool mengangkat trofi juara Liga Inggris yang ke-19.

Sebagai gelandang tengah, cara bermainnya bak gladiator. Dengan postur tubuh yang tak besar-besar amat, kakinya kuat dan punya teknik menguasai bola yang mumpuni. Ia adalah jenis pemain yang bisa menjaga bola tetap ada di kakinya dengan dibekali stamina fisik yang bagus. Para pundit menyebutnya sebagai “pass-master” karena akurasi umpan pendeknya ada di atas rata-rata.

Misal pada musim 2019/2020 saja, ia ada di urutan keempat pemain yang melakukan akurasi pass completion terbanyak di liga, di bawah nama-nama seperti Otamendi, Rodri, dan Gundogan. Wijnaldum kala itu mencatatkan 90,9% akurasi pass completion. Musim 2020/2021, persentase pass completion-nya bahkan lebih tinggi yaitu mencapai 92,7%.

Bicara soal “pass-master”, Wijnaldum bukanlah gelandang sejenis Steven Gerrard, Frank Lampard, atau Kevin de Bruyne yang bukan hanya kuat di tengah, tapi juga rajin mencetak gol. Secara atribut, ia lebih mirip dengan gabungan gelandang Harry Winks dan Ross Barkley, Mateo Kovacic dan Gundogan, Juan Mata dan Granit Xhaka, atau Rodri dan Jorginho.

Hanya dalam momen-momen tertentu saja, ia bisa diandalkan untuk menempatkan diri sebagai gelandang yang bisa menciptakan peluang. Selama musim 2020/2021, Wijnaldum hanya sempat mencetak dua gol tanpa pernah membuat asis, yaitu saat bermain di kandang melawan Wolves dan Chelsea. Catatan membanggakan di musim terakhirnya itu, Wijnaldum termasuk pemain Liverpool yang paling konsisten saat diturunkan pun tanpa pernah mengalami cedera panjang.

Tak seperti Fabinho atau Henderson yang lebih sering dipasang sebagai gelandang bertahan, Wijnaldum justru sering membantu serangan dari sisi tengah. Bola di kakinya lebih sering dioper pendek ke para pemain Liverpool. Oleh karena itu, ia tak banyak memberikan asis kepada trio lini depan Liverpool. Strategi ini adalah bagian dari ide Klopp yang lebih suka memulai serangan dari sisi lapangan dan menempatkan pemain kuat di tengah agar tidak mudah ditembus lawan.

Banyak fans Liverpool yang bakal merindukan aksi-aksi pemain yang murah senyum ini di lapangan. Ia sangat layak bermain lebih lama lagi untuk Liverpool seandainya keputusannya adalah tetap memperpanjang kontrak.

“Orang-orang di Liverpool telah menunjukkan cinta kepada saya selama lima tahun. Saya akan merindukan mereka, Anda tahu? Saya berharap bisa bermain lebih lama lagi untuk klub, tetapi sayangnya segalanya berjalan berbeda. Saya harus memulai petualangan baru. Sampai sekarang saya belum menandatangani kontrak di tempat lain.”

Pertimbangan usia dan tawaran kontrak yang tak menarik mungkin menjadi momok mengapa ia tak mau bertahan lagi di Liverpool. Apalagi skuat Liverpool saat ini mulai dihuni oleh pemain-pemain yang sudah mulai menginjak usia 30 tahun atau lebih seperti Milner, Henderson, Shaqiri, Mane, Joel Matip, Van Dijk, juga Firmino. Liverpool pasti akan berpikir keras untuk menjual beberapa pemain yang sudah lewat masanya dan segera mencari pemain-pemain baru yang lebih muda untuk regenerasi.

Jangan lupakan pula kesuksesannya bersama Liverpool bisa ia torehkan dengan bermain bagus di level timnas. Sebagai pentolan yang sukses di klub, kiprahnya bersama timnas Belanda sudah ia buktikan setidaknya selama pertandingan-pertandingan kualifikasi Euro 2020. Ia membawa Belanda kembali ke pentas Euro setelah kali sebelumnya gagal. Dalam beberapa kali kesempatan, Wijnaldum juga sempat menyumbang gol bagi timnas Belanda.

Bagaimanapun juga, Wijnaldum sudah meninggalkan warisan yang berharga bagi Liverpool. Bukan saja warisan dalam jumlah menit bermain, tetapi ia juga ikut menyumbang gol, mengangkat trofi juara, serta menjadi bagian terbaik dari skuat Liverpool saat dirundung suka maupun duka.

Apa pun keputusan gelandang berusia 30 tahun itu adalah pilihan yang terbaik baginya. Sebagai pesepakbola kelas dunia, ia masih punya sisa-sisa mimpi untuk diraih di lain klub sebelum terlambat karena faktor usia.

Wijnaldum meninggalkan Liverpool dengan cahaya bersinar. Warisan dan reputasinya yang gemilang saat bersama Liverpool bakal menjadikannya mudah diterima di mana saja. Semua fans Liverpool tinggal berharap, ia akan selalu berusaha bermain lebih baik serta terus menjadi pemain kunci yang disegani oleh semua orang.

***

NB: Tulisan ini diselesaikan sebelum Wijnaldum menentukan ke klub mana ia akan berlabuh. Dari rumor yang beredar belakangan, Wijnaldum dilirik oleh klub-klub besar seperti Barcelona, Bayern Munchen, dan PSG. Baru pada tanggal 10 Juni 2021, akun ofisial Paris Saint Germain mengumumkan bahwa Wijnaldum diresmikan sebagai pemain baru PSG.

Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter