Kedatangan Klopp ke Anfield pada 2015 bagi banyak fans Liverpool seperti oasis di gurun pasir. Pelatih berpengalaman nan eksentrik yang sebelumnya pernah sukses membawa Borussia Dortmund ke level tertingginya itu memberi semacam pelepas dahaga kepada Liverpool untuk setidaknya kembali optimis meraih mimpi-mimpi yang lama diperam.

Klopp menggantikan Brendan Rodgers yang melatih sejak tahun 2012. Ia sedikit demi sedikit berhasil membangun aura positif bukan hanya kepada para pemain asuhannya, tetapi juga menyalakan semangat Anfield ke segala penjuru Britania. Ia adalah jenis pelatih yang akan berdiri bersama para pemainnya untuk menyambut para suporter yang datang ke stadion.

Kiprahnya bukan tanpa hambatan. Liverpool nyaris meraih juara pada Liga Europa musim 2015/2016. Sayang kesempatan itu harus pupus setelah kalah di laga final melawan Sevilla dengan skor 1-3. Memang bukan harinya Liverpool.

Kembalinya Liverpool ke final Liga Champions musim 2017/2018 pun meninggalkan sejumlah drama. Banyak pencinta sepakbola yang barangkali tak percaya jika Liverpool lolos ke final dan berhadapan dengan Real Madrid, tim yang waktu itu masih dihuni pemain-pemain senior selevel Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Gareth Bale, Luka Modric, dan Sergio Ramos yang kontroversial.

Drama yang menyesakkan malam itu harus mengirim Salah keluar dari pertandingan itu. Ia ditekel keras oleh Ramos sehingga mengalami cedera yang kelak membuatnya tak bisa bermain bersama rekan senegaranya di Piala Dunia 2018. Belum lagi drama blunder yang dilakukan kiper Loris Karius. Berhari-hari cacian dan makian pedas yang ditujukan padanya tak berhenti hingga akhirnya musim selanjutnya ia dipinjamkan ke Besiktas, klub asal Turki.

Benang kusut itu masih dibarengi dengan kemampuan adaptasi pemain-pemain lama Liverpool yang masih belum stabil dan mudah dilanda cedera. Formasi masih belum paten. Komposisi pemain yang diharapkan klop dengan strategi Jurgen Klopp masih belum nyetel. Performanya di Premier League meskipun sudah semakin bagus, tapi rasanya masih suka angin-anginan, terutama saat menghadapi tim yang bertahan sepanjang laga alias ’parkir bus’.

Namun, Klopp terus mencoba dan mencoba. Ia pelan-pelan membeli pemain yang benar-benar dibutuhkan bagi tim sembari terus menemukan pemain akademi Liverpool yang punya kemampuan di atas rata-rata.

Hasilnya? Klopp bisa mengumpulkan pasukan baru seperti Naby Keita, Robertson, Fabinho, Chamberlain, Shaqiri, Virgil Van Dijk, dan Alisson. Kedatangan Van Dijk dan Alisson sempat membuat heboh jendela transfer karena keduanya dibanderol dengan harga yang sangat mahal, bahkan menjadi yang termahal untuk posisi bek dan kiper saat itu.

Dan, jangan lupakan juga bagaimana Klopp berhasil memberi kepercayaan penuh kepada pemain muda berbakat jebolan akademi Liverpool yang masih berusia sangat muda 20 tahun, Trent-Alexander Arnold. Bersama Robertson, ia dinobatkan sebagai bek terbaik di Premier League musim 2018/2019 atas kontribusinya menciptakan umpan-umpan matang yang menghasilkan gol.

Premier League musim 2018/2019 bagi saya adalah musim yang akan selalu diingat. Hampir setiap laga Liverpool selalu dinanti-nantikan untuk ditonton. Bahkan, saya dan mungkin banyak pecinta sejati sepakbola, apapun klubnya, sangat setuju jika musim ini adalah musim paling luar biasa Liverpool dalam beberapa dekade terakhir.

Melihat cara bermain ofensif Liverpool yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dari transformasi heavy metal menjadi rock evergreen, kontribusi dua bek sayap kanan dan kiri yang tak kenal henti, bek dan kiper dengan performa yang memukau, sampai performa pemain bangku cadangan yang benar-benar bisa diandalkan menggantikan para starter.

Belum lagi soal bagaimana lini depan The Reds yang semakin tajam dan merata. Tidak seperti musim 2017/2018 yang gol-golnya banyak didominasi oleh Mohamed Salah. Musim ini trio Firmansah (Firmino-Mane-Salah) bisa dibilang memberikan kontribusi gol yang sama banyaknya.

Hampir semua pemain Liverpool musim ini tampil mengesankan. Banyak opsi pemain yang bisa dipakai, terutama lini tengahnya. Keita, Fabinho, Milner, Henderson dan Wijnaldum secara bergantian sangat bisa menjaga stabilitas tim di lini tengah. Sementara Origi, Shaqiri, dan Sturridge bisa diandalkan menjadi supersub bila para starter mulai kelelahan.

Pertandingan semi final melawan Barcelona di ajang Liga Champions menjadi bukti lain jika Liverpool tak hanya menang secara mental tetapi secara taktik. Kalah telak di Camp Nou di leg pertama dengan skor 3-0, tetapi masih bisa melakukan remontada dengan skor lebih telak di Anfield, 4-0.

Messi dkk dibuat tak berkutik oleh skuat Liverpool meskipun tanpa Salah dan Firmino. Empat gol di Anfield justru dicetak bukan oleh trio Firmansah, melainkan oleh Wijnaldum dan Origi. Ini adalah salah satu sejarah yang perlu dicatat dalam buku tahunan Liga Champions.

Satu-satunya rival Liverpool di Premier League musim 2018/2019 adalah Manchester City di bawah asuhan Pep Guardiola. Harus diakui, komposisi pemain-pemain City sejak musim ini digelar sungguh tanpa cela. Pemain berharga mahal dengan talenta-talenta yang sudah bukan lagi bau kencur. Apalagi mereka dilatih oleh salah satu pelatih terbaik dunia yang sudah matang dengan filosofi gaya bermainnya.

Sayang, trofi Premier League 2018/2019 harus diberikan kepada Manchester City. Di laga terakhir, City menang telak di kandang Brighton dengan skor 4-1. Sementara pada saat yang sama Liverpool juga menang atas Wolves di Anfield dengan skor 2-0.

City dan Liverpool menjadi dua tim Premier League yang bisa mengumpulkan poin pertandingan di atas 90 poin dalam semusim. Perolehan poin pertandingan Liverpool (97 poin) hanya kalah satu poin dari City (98 poin). Liverpool hanya pernah kalah sekali (oleh City) dalam semusim, tetapi jumlah pertandingan yang berakhir seri City jauh lebih sedikit ketimbang Liverpool.

Peraih golden boot di Premier League musim 2018/2019 jatuh ke tiga pemain sekaligus, masing-masing dengan koleksi 22 golnya, termasuk Salah, Mane, dan Aubameyang (Arsenal). Van Dijk terpilih menjadi pemain terbaik Premier League. Alisson menyabet penghargaan golden glove karena sudah melakukan 21 kali clean sheets dalam semusim, lebih banyak dari Ederson (kiper Man. City).  Sungguh, musim yang fantastis.

Kini Liverpool masih harus bergegas menyiapkan diri menghadapi Tottenham Hotspurs yang dilatih oleh Mauricio Pochettino di laga puncak. Dua tim senegara yang sudah amat sering bertemu dalam kompetisi liga. Namun, pertandingan yang akan dihelat 1 Juni nanti adalah pertandingan yang mempertaruhkan seluruh Eropa, tentang siapa yang berhak mengangkat trofi Liga Champions.

Sekali lagi, musim ini adalah musim yang sangat pantas diingat bagi suporter Liverpool! Never Give Up dan ingat selalu wejangan Klopp sebelum laga melawan Wolves, apapun hasilnya.

#YNWA