Belum lama ini saya mendapati tweet dari sebuah akun yang mencuit bahwa pemilik akun tersebut baru saja kena semprot seorang ibu-ibu karena hal sepele. Hal sepele yang dimaksud adalah perkara salah masuk ruang toilet lantaran si ibu-ibu salah membaca simbol di bagian pintu masuk toilet.

Kronologi dari isi cuitan tersebut yaitu sebagai berikut.

Melihat isi cuitan tersebut, saya kembali teringat dengan pelajaran tentang metafora dalam dunia desain. Istilah metafora atau ‘metaphors’ secara menurut kamus KBBI merujuk pada pengertian sebagai berikut.

metafora/me·ta·fo·ra/ /métafora/ n Ling pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan

Dalam dunia komputer dan desain, istilah metafora sebetulnya memiliki definisi yang kurang lebih sama dengan definisi menurut sudut pandang dunia kebahasaan. Lebih gamblangnya, metafora merupakan sebuah cara mengasosiasikan segala hal yang ada di dunia nyata ke dalam dunia desain (komputer) melalui simbol atau ikon.

Contoh dari metafora jamak ditemui ketika kita menggunakan aplikasi dan perangkat lunak yang ada di komputer maupun smartphone. Misalnya ketika kita ingin memindahkan karakter tertentu dalam jendela MS Word maka digunakan perintah ‘Cut’, yang mana jika diperhatikan dalam jendela teks editor MS Word akan disimbolkan dengan ikon berbentuk ‘gunting’.

Dalam keseharian, ini sama halnya dengan simbol atau ikon yang sering kita temui pada sebuah toilet. Jika umumnya cukup ditulis dengan teks ‘Pria’ dan ‘Wanita’ untuk membedakan toilet pria dan wanita, pada beberapa tempat cukup disimbolkan melalui ikon yang mudah dimengerti.

Sekarang kita kembali perhatikan isi dari cuitan di atas, yang juga menampilkan dua ikon berbeda untuk mengasosiasikan toilet pria dan wanita. Bagi saya, ketika si ibu tidak sadar bahwa toilet yang dimasukinya adalah toilet pria, itu bukanlah kesalahan dia.

Lalu apa yang sedang terjadi? Saya yakin si ibu itu salah menafsirkan bentuk ikon toilet pria yang kalau kita lihat sekilas bentuknya memang seakan-akan itu adalah bentuk seorang wanita. Jika saya tiba-tiba ingin masuk ke dalam toilet yang sama, mungkin saya juga akan menafsirkan hal yang sama. Atau kalaupun saya menyadari perbedaan kedua ikon tersebut, setidaknya saya butuh waktu yang agak lama untuk membandingkan perbedaan kedua ikon tersebut

Jika si ibu itu tidak salah, apakah lantas kita harus menyalahkan si desainer ikon tersebut? Saya kira juga tidak. Menurut persepsi desainer, kedua ikon tersebut jelas-jelas ikon yang bisa membedakan mana toilet pria dan wanita.

Namun, sayangnya persepsi desainer tidak sepenuhnya benar. Bagi beberapa orang, penggunaan ikon tersebut akan mudah dimengerti. Namun, bagi beberapa orang yang lain bisa jadi justru akan sulit dimengerti. Sehingga bisa disimpulkan jika jenis ikon yang digunakan di desainer kurang tepat atau kurang familiar bagi kebanyakan orang.

Nah, di sinilah peran dari studi user experience (UX) itu penting. Drama yang dicuitkan melalui Twitter di atas bisa menjadi pelajaran berharga untuk si desainer. Dengan kata lain, si desainer lain kali perlu mempertimbangkan untuk menggunakan ikon yang familiar atau setidaknya lebih jelas perbedaannya ketimbang menggunakan desain ikon seperti di atas.

Misal gunakan ikon-ikon yang sederhana dan lebih mudah dimengerti seperti di bawah ini. Daripada alih-alih ingin membuat desain ikon toilet yang kreatif, ternyata malah merepotkan orang lain, ya kan?

Satu hal yang harus diingat, ketika istilah ‘metaphors’ pertama kali digunakan dalam dunia desain, salah satu tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah desain (design problem solving) seperti yang dijelaskan dalam paper ini. Dalam studi UX, sudah menjadi hal yang lumrah bila ekspektasi seorang desainer ternyata berlawanan dengan apa yang dipikirkan oleh kebanyakan pengguna (user).

Jadi, pertanyaan atas ‘siapa yang salah?’ pada judul artikel ini rasanya tidak perlu dijawab.

Oya, kalau mau lihat-lihat desain ikon toilet yang unik, aneh, dan lucu, bisa coba kunjungi halaman ini juga. Namun, tetap saja desain-desain itu tidak menjamin ikon-ikon tersebut bisa dipahami dengan mudah oleh rakyat Indonesia. Hehe…