Jika diingat-ingat, ternyata sudah sejak 20 tahun yang lalu saya mendengarkan lagu ‘More Than Words’. Namun, justru bukan lagu versi Extreme yang lebih dulu saya kenal, tetapi gubahan versi Westlife.

Ya, di masa keemasannya, grup boyband tenar asal Irlandia itu pernah mengcover dan memasukkan lagu ‘More Than Words’ dalam album debut Westlife pada tahun 1999. Westlife berhasil mengaransemen lagu itu menjadi lagu yang manis dan enak didengar.

Album masterpiece yang diberi nama Westlife itu telah melambungkan nama Westlife menjadi boyband yang tersohor di seantero dunia atas tembang-tembang popnya yang easy listening saat itu. Boyband kesukaan generasi milenial di masanya.

 

Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu kalau lagu itu aslinya adalah lagu milik grup band rock Extreme asal Boston, Amerika Serikat. ‘More Than Words’ sendiri ditulis oleh duo vokalis dan gitaris Extreme, yaitu Gary Cherone dan Nuno Bettencourt. Petikan gitarnya yang renyah dan ikonik membuat orang yang baru pertama kali belajar gitar langsung tertarik untuk mempelajari cara memainkan genjrengan gitar di lagu itu.

Single balada akustik ini diciptakan tahun 1990 dan dimasukkan ke dalam album kedua Extreme, Pornograffitti. Lagu tersebut pernah menduduki peringkat pertama Billboard Hot 100 di Amerika Serikat. Terang saja, lagu ini hampir pasti ada dalam daftar lagu kompilasi VCD yang berisikan lagu-lagu bergenre slow rock atau slow rock ballads terbaik.

‘More Than Words’ mempunyai nafas yang tidak jauh berbeda dengan lagu-lagu balada rock populer semacam ‘Wind of Change’ (Scorpions), ‘You’re All I Need’ (White Lion), ‘I Live My Life For You’ (Firehouse), ‘To Be With You’ (Mr. Big), ‘When I See You Smile’ (Bad English), ‘Hotel California’ (Eagle), dan lain sebagainya.

Saat tulisan ini dibuat, video klip ‘More Than Words’ versi Extreme yang dilepas di halaman Youtube sudah dimainkan hingga 438 juta kali. Gary dan Nuno yang bersahut-sahutan menyanyikan lagu ‘More Than Words’ di dalam video klip bernuansa hitam putih itu terlihat sangat menjiwai lagu legendaris ini. Sementara pada platform streaming musik Spotify, lagu tersebut sudah dimainkan hingga 227 juta kali. Jumlah yang begitu fantastis.

Pada helatan Jogjarockarta 2019 di Yogyakarta kemarin, Rajawali Indonesia mengundang Extreme sebagai bintang internasional. Sebagai bagian dari pemuncak festival, Extreme juga didatangkan bersamaan dengan Power Trip, kelompok thrash metal asal Texas.

Line up lokal yang ikut unjuk gigi sebelum dua band internasional itu tampil diantaranya Tumenggung (Jogja), Trojan (Bali), Down for Life (Solo), ILP (Jakarta), NTRL (Jakarta), Edane (Jakarta), dan Jamrud (Jakarta). Masing-masing band naik panggung sesuai jadwal sejak pukul 3 sore sampai menjelang tengah malam.

Cuaca Jogja hari itu terlihat mendung sejak pagi. Saya datang ketika Down for Life sedang merapal lagu-lagu pilihan dari dua album yang pernah mereka rilis, Simponi Kebisingan Babi Neraka (2007) dan Himne Perang Akhir Pekan (2013). Para pasukan babi neraka, julukan fans Down for Life, sudah memadati bagian depan sisi panggung.

Bagian yang unik dari penampilan Down for Life adalah ketika mereka membawa barisan choir penyanyi gereja berjubah putih-putih ke atas panggung di sepanjang penampilannya untuk mengisi backing vocals. Aura pertunjukan musik metal sore itu menjadi terasa sakral. Apalagi saat mereka menyanyikan ‘Liturgi Penyesatan’ dan ‘Prosa Kesetaraan’.

Band selanjutnya adalah grup progresif metal asal Jakarta, ILP (Indra Lesmana Project), yang merupakan side project musisi jazz ternama Indra Lesmana. ILP tahun lalu juga dihadirkan pada festival Jogjarockarta 2018. Penampilan mereka selalu mengundang decak kagum, bahkan buat siapa saja yang baru melihat penampilannya untuk pertama kali. Band yang begitu mengedepankan skill dengan partitur njelimet pun sangat bisa mendefinisikan musik progresif metal ala Indonesia dengan ciamik.

Petikan gitar yang melodius, efek distorsi yang meraung, pukulan drum yang bertenaga serta raungan keyboard digital Indra Lesmana membuat irama progresif yang dihasilkan terdengar berisi dan membuat kepala mengangguk-angguk. Track istimewa yang dimainkan menjelang petang itu adalah single terbaru ILP berdurasi delapan menitan yang baru dirilis tahun ini berjudul ‘Apocrypha – Verse II’.

ILP mengundang decak kagum penonton Jogjarockarta 2019
ILP mengundang decak kagum penonton Jogjarockarta 2019

Selepas maghrib, gantian NTRL ft. Bimo, reinkarnasi band pop punk NETRAL, yang menghajar panggung festival. Kali ini NTRL ditemani oleh ex drummer NETRAL, yaitu Bimo. Uniknya Bimo tidak tampil bergantian dengan Eno. Akan tetapi, Bimo dan Eno memainkan lagu-lagu NTRL menggunakan dua set drum berbeda secara bersamaan.

NTRL membuka konser mereka dengan lagu ‘Walah’. Oya, tahun ini mereka baru saja merilis boxset album XXV yang menandai 25 tahun band ini berkiprah di kancah musik Indonesia. Boxset tersebut memuat kompilasi lagu-lagu lama NETRAL yang diaransemen ulang oleh versi NTRL. Terima kasih om Bagus, Coki, dan Eno yang sudah menutup konser dengan lagu ‘Desaku yang Kucinta’ karya L. Manik versi pop punk.

Tanpa menunggu terlalu lama, di belakang panggung sudah bersiap salah satu pentolan band cadas Indonesia generasi 90-an, yaitu Edane. Mereka sebelumnya juga sempat tampil pada Jogjarockarta 2018. Edane mengakui pada gelaran Jogjarockarta ini mereka membawakan set list yang berbeda dari tahun lalu. Sosok yang paling ditunggu Edane adalah permainan gitar khas Eet Sjahranie yang mengingatkan publik akan sosok gitaris AC/DC, Angus Young.

Mereka membuka pertunjukan dengan lengkingan sang vokalis Ervin saat menyanyikan satu track dari album Edan (2010), yaitu ‘Living Dead’. Dalam show kali ini Edane tidak menyanyikan lagu ‘Jadi Beken’, track favorit saya dari album yang sama. Lagu itu sempat dinyanyikan pada Jogjarockarta tahun lalu.

Edane menyanyikan single populer yang membikin penonton sing along lewat lagu ‘Kau Pikir Kaulah Segalanya’ dari album 170 Volts (2002) di bagian tengah pertunjukan. Dan jangan lupakan mereka saat mengcover lagu ‘Back in Black’ milik AC/DC. Di atas panggung, Eet juga lihai memperagakan aksi-aksi bermain gitar sambil melompat-lompat. Eet benar-benar makin tua makin menjadi. Hail Edane!

Edane unjuk kebolehan di antara metalhead
Edane unjuk kebolehan di antara metalhead

Bila tahun lalu bintang utama musisi lokalnya adalah God Bless, maka tahun ini adalah Jamrud. Jamrud termasuk salah satu band rock Indonesia tahun 2000-an yang hingga saat ini masih terus produktif merilis album. Meskipun sang vokalis, Krisyanto, sempat vakum dari Jamrud pada tahun 2007-2011, tetapi belakangan Jamrud sudah mulai aktif kembali menjadi bagian line-up konser maupun festival musik.

Bagi jammers, panggilan fans Jamrud, hadirnya Jamrud di festival musik kali ini menyimpan kenangan tersendiri. Jamrud yang awalnya dikenal lewat lagu ‘Putri’, semakin dikenal setelah menelurkan album Ningrat tahun 2000. Ciri khas band jebolan promotor Log Zhelebour ini adalah lagu-lagu rock yang dikemas dengan lirik nakal dan sedikit jorok.

Saking banyaknya pustaka lagu Jamrud, saya beberapa kali sulit mengikuti lagu-lagu dari band yang awalnya bernama Jamrock ini. Beberapa lagu yang masih saya ingat malam itu termasuk ‘Kabari Aku’, ‘Ningrat’, ‘Waktuku Mandi’, juga ‘Sydney 090102’. Selebihnya, benar-benar blong.

Namun, satu hal yang membuat saya senang malam itu adalah baik Krisyanto dan Aziz masih menjadi dynamic-duo yang mengawal jeda antarlagu, selain penampilannya yang masih terlihat powerful dan berkarakter seperti dulu. Krisyanto mengenakan kupluk dan kacamata hitam, sementara Aziz mengenakan kaos hitam dan celana kargo pendek. Perpaduan paripurna gaya vokalis dan gitaris Jamrud selama bertahun-tahun.

Jamrud membawa penonton kembali ke tahun 2000-an
Jamrud membawa penonton kembali ke tahun 2000-an

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15. Itu artinya sebentar lagi band Extreme naik panggung. Ada satu hal yang mengganjal buat saya sebetulnya, yaitu mengapa justru Extreme dulu yang tampil baru kemudian Power Trip. Secara usia dan popularitas, Extreme pastinya jauh lebih cocok kalau dipasang menjadi pemuncak festival. Tapi ya sudah, nggak ada yang tahu apa alasan pastinya.

Extreme menjadi penampil yang diberi durasi cukup panjang, hampir satu setengah jam. Mereka memainkan belasan lagu dari album yang paling lawas sampai yang paling baru. Nomor-nomor yang dimainkan seperti ‘Monster’, ‘Get The Funk Out’, dan ‘Rest in Piece’. Extreme benar-benar bukan cuma ‘More Than Words’. Ada sekian banyak lagu yang menasbihkan bahwa Extreme adalah band rock, bukan sekadar band balada cinta-cintaan, meskipun banyak lagunya yang sulit dinyanyikan bersama penonton.

Dari delapan ribuan penonton yang hadir di festival ini sudah barang tentu banyak yang menantikan Extreme menyanyikan lagu ‘More Than Words’. Single sing along tersebut dimainkan di bagian tengah set list. Sebelum lagu tersebut dimainkan, Gary bilang “oke, lagu selanjutnya pasti kalian banyak yang tahu”. Gary kemudian membiarkan penonton menyanyikan lagu tersebut di bagian awal lagu diiringi petikan gitar yang catchy ala Nuno Bettencourt.

Satu penampilan istimewa malam itu adalah ketika Nuno memainkan single Extreme dari album Waiting for The Punchline (1995) berjudul ‘Midnight Express’. Ini adalah lagu instrumental yang mengandalkan kelincahan permainan gitar Nuno. Melihat penampilannya memainkan lagu itu, saya sangat setuju jika ia adalah salah satu gitaris terbaik dunia yang memiliki karakter.

Visual yang megah saat giliran Extreme manggung
Visual yang megah saat giliran Extreme manggung

Para punggawa Extreme tahu diri jika banyak lagu mereka yang tidak terlalu populer bagi kebanyakan penonton. Untuk menunjukkan kesan yang tak terlupakan di ujung penampilannya, Extreme lebih percaya diri menyanyikan lagu band lain yang lebih mudah dicerna pendengar. Tak diduga, lagu Queen berjudul ‘We Are The Champions’ dipilih menjadi lagu penutup pentas.

Hujan rintik-rintik mulai turun malam itu, sementara Power Trip masih urung unjuk kebolehan menghajar panggung. Beberapa penonton terlihat menyerah, keluar lebih dulu dari stadion atau sebagian ada juga yang menepi untuk mencari tempat berteduh sambil duduk-duduk.

Penonton yang tadinya beristirahat sambil duduk-duduk sontak berdiri mendekati panggung lagi. Panggung yang tadinya terlihat gelap seketika menyala. Power Trip membuka giliran pentas dengan musik yang terdengar cadas dan beringas. Riley Gale, sang frontman sekaligus vokalis Power Trip hadir dengan setelan rambut gondrong sembari mengenakan trucker hat. Itu adalah gaya khasnya ketika manggung.

Saya termasuk yang memilih untuk tidak menonton Power Trip sampai selesai. Hanya dua lagu pembuka saja yang sempat ditonton untuk menjawab rasa penasaran. Selain bukan band thrash metal yang cukup familiar di telinga saya, waktu juga sudah terlalu malam untuk menyaksikan konser di bawah rintik hujan.

Power Trip, penampil terakhir di Jogjarockarta 2019
Band thrash metal Power Trip, penampil terakhir di Jogjarockarta 2019

Buat saya, pertunjukan musik dengan harga tiket kurang dari 300 ribu dan bisa menyaksikan banyak band dalam sehari sudah cukup mengobati kerinduan menonton konser secara langsung. Hal yang membedakan gelaran tahun ini dengan tahun lalu adalah jumlah panggung yang hanya ada satu dan kualitas audio yang tak sebaik tahun lalu.

Dengan tata panggung yang masih lumayan, kualitas audio yang masih bisa diterima dengan baik, area konser yang lapang, dan ketersediaan fasilitas yang memadai, berharap acara festival musik buat orang-orang yang gandrung dengan musik rock seperti ini tetap ada di tahun-tahun mendatang!

Bonus video klip dari mas-mas ganteng: