“Hey Google, mainkan lagu Dewa 19 di Spotify”

Sebuah perangkat tiba-tiba berbunyi, menjawab perintah tersebut dengan suara asisten perempuan, “Baik, lagu Dewa 19 akan dimainkan di Spotify”. Seketika kemudian, perangkat tersebut memainkan lagu-lagu hits Dewa 19 melalui speaker mungilnya.

Perangkat itu adalah Google Nest Mini, perangkat yang awalnya disebut dengan Google Home Mini. Namun, sejak tahun 2019, perangkat tersebut bersalin nama menjadi Google Nest Mini atau biasa disebut sebagai Google Home Mini (Generasi Kedua).

Nest Mini masih memiliki bentuk yang mirip dengan Home Mini yang pertama kali dirilis pada tahun 2017. Konon sejumlah perbedaan yang paling mencolok diantara keduanya adalah suara speaker jadi lebih keras, sensitivitas microphone yang lebih andal (ada di tiga sisi permukaan), serta bentuk fisik bagian belakangnya yang sedikit berbeda dibanding versi awalnya.

Memang benar, untuk sebuah speaker kecil berbentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih 10 sentimeter ini, volumenya terdengar keras dan berisi (menjangkau sudut 360 derajat), dengan kualitas suara yang lumayan. Saking kerasnya, saya hampir tak pernah menyetel volume Google Nest hingga 100%. Untuk ruangan berukuran 5×5 meter, volume suara 50% sudah lebih dari cukup untuk mendengarkan musik.

Suara treble dan bass masih bisa dikatakan seimbang. Di bagian pengaturan perangkat ini via aplikasi Google Home juga bisa diatur secara manual besar kecil treble dan bass-nya. Untuk memainkan lagu yang didominasi suara bass, kualitas audionya masih ramah diterima oleh telinga. Namun, jika volumenya terlalu keras, maka suaranya akan terdengar sedikit pecah dan kurang nyaman. Untuk yang terakhir ini, sebetulnya juga terjadi di banyak speaker mini.

Saya sudah dari beberapa tahun lalu ingin merasakan sensasi menggunakan speaker pintar satu ini. Buat saya, definisi speaker pintar bukan semata karena ia bisa dihubungkan melalui koneksi nirkabel, tetapi kita sebagai pengguna juga bisa memberikan perintah suara kepada speaker tersebut.


Kenapa perintah suara ini penting? Penting, agar kita sebagai pengguna tidak perlu repot memencet-mencet tombol/button yang biasanya terdapat di sisi-sisi speaker. Lagipula Nest Mini ini sama sekali tak dilengkapi tombol. Untuk mengontrol speaker melalui fisik Nest Mini, pengguna bisa melakukan tap atau menyentuh bagian-bagian tertentu pada permukaan speaker.

Si asisten kadang-kadang budek karena pengucapan suara manusia yang tidak bisa dikenali/didengarkan dengan jelas oleh asisten. Kadang memberikan respons, tetapi ternyata tidak sesuai dengan yang kita perintahkan. Saya beberapa kali mencoba memanggil Nest Mini pada jarak lebih dari 5 meter, ia sudah mulai bingung atau tak memberikan respons sama sekali.

Jangan khawatir, berhubung Google Nest ini termasuk perangkat yang mendapat dukungan legal dari Google Indonesia, maka Google Nest ini sudah mendukung penuh perintah dalam Bahasa Indonesia. Dengan kata lain, Google Nest bisa menerima perintah secara bilingual, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sekaligus.

Suara si asisten perempuan di speaker ini sudah pasti tak akan seintim suara Samantha, karakter virtual yang mejeng di film komedi romantis fiksi sains Her (2013). Soal aksen Bahasa Indonesia, memang terdengar sedikit kaku, tapi masih bisa ditoleransi. Setidaknya ia masih bisa merespons saat saya beri perintah “Ok Google, berikan saya satu tebak-tebakan!”, “Hey Google, bangunkan saya pukul 05 pagi!”, atau “Ok Google, apa berita terbaru hari ini?”.

Dari segi tampilan fisik, Nest Mini memiliki beberapa pilihan warna: Charcoal, Sky, Coral, dan Chalk. Untuk menyalakan Nest Mini harus selalu tersambung dengan listrik, tidak ada mekanisme penyimpanan baterai seperti pada speaker mini pada umumnya. Begitu kabel power tersambung dengan stop kontak, maka indikator LED (empat titik lampu) yang ada di permukaan speaker akan menyala, menandakan perangkat sedang melakukan sinkronisasi dan mencari sinyal WiFi.

Satu hal yang membedakan Nest Mini ini dengan Home Mini dari bentuk fisiknya, yaitu terdapatnya lubang paku di sisi belakang perangkat. Lubang ini sangat berguna ketika Nest Mini ingin dicantolkan di tembok atau lemari alih-alih cuma diletakkan di atas meja.


Soal konektivitas, Nest Mini mendukung Bluetooth dan WiFi. Bluetooth bisa diaktifkan jika pengguna ingin melakukan mirroring audio pada perangkat smartphone/laptop ke Nest Mini. Jadi, Nest Mini bisa berlaku seperti layaknya speaker-speaker Bluetooth pada umumnya.

Sementara itu, konektivitas WiFi wajib diaktifkan jika pengguna ingin menghubungkan atau sinkronisasi perangkat-perangkat Smart Home/IoT yang ada di dalam satu ruangan. Misal jika pengguna punya Chromecast, Smart Lamp/Light, Smart Universal IR Remote, dan sebagainya, berkeinginan mengontrol perangkat tersebut melalui voice command Nest Mini.

Saya masih berkeinginan untuk melengkapi beberapa perangkat IoT tersebut untuk memaksimalkan fungsi si asisten pintar. Sepertinya ke depan bakal makin banyak perangkat yang mendukung voice search. Selain itu, beberapa aplikasi mobile populer selain Spotify, seperti Youtube, Netflix, dan Tune In (Radio) sudah bisa dikontrol lewat Nest Mini.

Nest Mini saat ini banyak dijual di beberapa market place seperti Shopee dan Tokopedia. Banderolnya sampai tulisan ini dirilis yaitu sekitar 500-ribuan. Satu paket Nest Mini terdiri dari speaker, adaptor dan kabel power, serta buku panduan.

Oya, satu lagi. Ada satu fitur yang paling saya suka saat menggunakan Nest Mini, yaitu fitur Routine. Fitur ini adalah fitur yang harus diatur/didaftarkan terlebih dahulu melalui aplikasi Google Home. Fitur ini memberikan kebebasan buat pengguna untuk mengontrol beberapa kebiasaan atau rutinitas sehari-hari melalui satu perintah.

Misal saat saya memberikan perintah “Ok Google, selamat malam!”, maka Nest Mini bisa memberikan beberapa respons/aksi sekaligus, seperti mengatur alarm buat besok pagi, mematikan lampu kamar, kemudian menyetel lagu pengantar tidur.

Keren, bukan? Hehehe…

Komentar

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter