Hajatan sepakbola empat tahunan EURO 2020 sudah hampir berakhir. Sejauh ini sudah ada beberapa momen yang bakal diingat penikmat sepakbola dan masuk catatan sejarah. Pertama, EURO 2020 digelar pada tahun 2021 karena dilaksanakan di tengah-tengah pandemi.

Penonton di beberapa negara dunia disuguhkan bagaimana sepakbola masih bisa dinikmati ketika tanpa penonton, sedikit penonton, dan bahkan dengan penonton penuh di stadion. Negara seperti Hungaria menjadi contoh yang paling membanggakan, bagaimana pemerintahnya berhasil mengatasi pandemi dan bisa menghadirkan full penonton ke dalam stadion.

Kedua, momen ketika Christian Eriksen tiba-tiba jatuh di lapangan saat menjamu Finlandia. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun saat menyelamatkan nyawa seorang atlet yang butuh pertolongan dengan segera. Timnas Denmark mendapatkan apresiasi dan dukungan dari semua penggemar sepakbola atas kejadian itu. Tanpa Eriksen, Denmark yang dicap sebagai tim kuda hitam nyatanya bisa lolos hingga babak semi final.

Ketiga, laga final EURO 2020 mempertemukan Italia dan Inggris. Dua negara yang mempunyai kompetisi liga sepakbola paling populer di seluruh dunia. Sebuah pertunjukan akbar partai final ideal yang bakal sangat menyenangkan karena diisi oleh pemain-pemain ‘mewah’ kelas dunia.

Italia lolos dari fase grup dengan cara yang terbilang mudah. Italia satu grup dengan negara-negara seperti Swiss, Wales, dan Turki. Tiga pertandingan fase grup berhasil dilibas tanpa pernah kebobolan, pun sempat mencetak 4 gol dalam satu pertandingan. Pasukan Roberto Mancini baru merasakan kebobolan saat babak knock-out. Mereka lolos ke final setelah berhasil mengalahkan Spanyol di semi final setelah menang lewat adu penalti.

Sementara itu, Inggris lolos dari fase grup dengan cara yang sedikit sulit, bahkan sedari awal meragukan bisa lolos sampai ke final. Three Lions satu grup dengan negara Kroasia (finalis Piala Dunia 2018), Skotlandia, dan Ceko. Pasukan Gareth Southgate hanya bisa meraup dua kemenangan dan sekali seri, pun dengan kemenangan tipis.

Di babak 16 besar, Inggris langsung bertemu Jerman, yang bisa dibilang termasuk dalam tim unggulan EURO kali ini. Beruntung, Inggris menang 2-0 atas Jerman. Setelah itu, mereka sempat menghajar Ukraina dengan skor 4-0 di perempat final, serta menumbangkan kuda hitam Denmark melalui babak perpanjangan waktu dengan skor 1-2.


Melihat komposisi pemain kedua negara, pertarungan di laga final akan sengit. Masing-masing negara punya sederet penyerang muda potensial yang dibawa di EURO kali ini. Italia punya nama-nama seperti Federico Chiesa, Nicolo Barella, Manuel Locatelli, juga Bryan Cristante. Sementara Inggris punya nama-nama seperti Bukayo Saka, Mason Mount, Phil Foden, juga Raheem Sterling.

Di lini pertahanan, Gli Azzuri masih punya dua bek veteran, Bonucci & Chiellini, yang masih paten jadi andalan. Sementara itu, Three Lions punya dua bek matang yang sedang berada di puncak kariernya sebagai pesepakbola profesional, John Stones & Harry Maguire. Kedua negara juga punya penjaga gawang jempolan yang jarang kebobolan selama EURO kali ini. Italia digawangi Donnarumma, sementara Inggris digawangi Pickford.

Masing-masing pelatih adalah mantan pemain andalan timnas masing-masing di masanya. Jika bicara soal keberuntungan, Inggris mungkin lebih sering dibicarakan ketimbang Italia. Pasalnya, laga final EURO 2020 kali ini akan digelar di Stadion Wembley yang terletak di London. Otomatis Inggris seperti sedang bermain di kandanganya sendiri.

Apalagi tekanan timnas Inggris atas jargon “football is coming home” kembali digaungkan di seantero Britania Raya. Maklum saja, sebagai negara yang turut mewarisi tradisi olahraga sepakbola, justru Inggris belum pernah mengangkat trofi juara EURO. Sementara itu, Italia terakhir kali mengangkat trofi juara EURO baru sekali, yakni pada tahun 1968.

Bagi kebanyakan orang, gaya sepakbola Italia dan Inggris bisa dikenal dengan mudah karena punya benang merah. Misal, Italia sering dikaitkan dengan gaya sepakbola yang cenderung hati-hati, kadang perlu cerdik/licik, tetapi tetap terampil memainkan bola di atas lapangan. Sedangkan Inggris sering dikaitkan dengan gaya sepakbola yang cenderung mengandalkan pemain-pemain dengan postur fisik yang kuat, punya kecepatan, dan gaya mengolah bola kick & rush (direct pass).

Buat saya, dalam kompetisi EURO kali ini, kesan yang saya tangkap dari dua klub tersebut masih unik, tetap punya ciri khas. Jika melihat permainan Italia sedari awal, permainan mereka sangat meyakinkan, bahkan bisa menempatkan lima pemain sekaligus di lini depan. Akibatnya, dalam beberapa laga mereka berhasil mengonversi peluang menjadi gol lebih banyak.

Berbeda dengan Inggris. Permainan Inggris sedari awal justru cenderung membosankan. Skuat Inggris meski diisi oleh penyerang muda dengan daya ledak tinggi, tetapi justru kesulitan membuat gol. Secara penguasaan bola, mereka bisa sangat mendominasi, tetapi dalam beberapa kali kesempatan malah gagal diselesaikan dengan baik.


Baik Italia maupun Inggris punya kualitas pemain cadangan yang sama-sama apik. Keduanya dibekali sederet bek sayap andalan. Italia punya Di Lorenzo (kanan) dan Spinazzola (kiri). Sayangnya, Spinazzola sedang cedera panjang sehingga tak bakal dimainkan di laga Senin dini hari nanti. Italia kemungkinan akan menurunkan Emerson, sebagai pengganti Spinazzola.

Inggris punya Luke Shaw (kiri) dan Kyle Walker (kanan). Pada laga-laga sebelumnya, Shaw cukup banyak mendapat sorotan karena sering memberikan asis kepada para penyerang di depan. Sementara Walker bakal jadi pilihan utama Southgate meskipun ada sejumlah alternatif bek kanan seperti Reece James dan Kieran Trippier.

Dalam laga final nanti, saya memprediksi kedua tim akan sama-sama kesulitan mencetak gol karena beberapa alasan. Pertama, kedua tim punya materi penjaga gawang dan pemain belakang senior yang sudah teruji secara mental dan pengalaman, sehingga tembok pertahanan akan sulit dijebol.

Kedua, pertemuan terakhir di ajang EURO 2012 saat babak perempat final menjadi bukti nyata. Pertandingan itu berakhir dengan skor kacamata dan dilanjutkan dengan adu penalti. Italia saat itu berhasil memungkasi adu penalti dengan keunggulan 4-2. Tendangan panenka Pirlo ke gawang Joe Hart menjadi peristiwa ikonik saat itu.

Prediksi skor 90 menit mungkin akan berakhir dengan 1-1. Gol penentu akan terjadi di babak pertambahan waktu dengan skor akhir 2-1 untuk kemenangan Inggris. Tahun ini rasanya saat yang tepat untuk “football is coming home” buat Inggris! GO ENGLAND!

Prediksi Line-Up

ITALIA

INGGRIS

Komentar
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter