Stori

Bubarnya Tabloid BOLA dan Ingatan-Ingatan Mengenal Sepakbola

Bubarnya Tabloid BOLA

Mendengar kabar jika Tabloid BOLA akan segera mengakhiri masa edarnya rasanya sungguh disayangkan. Di satu sisi ada perasaan sedih, tetapi di sisi yang lain ada perasaan nrimo karena memang sudah saatnya. BOLA pada akhirnya mengikuti beberapa majalah dan tabloid lain yang sudah kukut lebih dulu pada tahun-tahun belakangan.

BOLA menjadi primadona tabloid sepak bola di eranya. Saya masih ingat betul, segmen pembaca majalah ini bukan hanya orang dewasa yang mengerti olahraga sepak bola. Namun, pada masa internet belum bisa diakses semudah sekarang, BOLA adalah bacaan sepak bola yang paling ditunggu oleh para remaja yang baru mengenal sepakbola melalui tim-tim kesayangan mereka, setidaknya pada tahun-tahun 90-an.

Meskipun sebagian besar isi tabloid tersebut membahas sepak bola Eropa (Serie A dan Premier League) yang populer, tetapi ia juga selalu mengulas rupa pertandingan sepak bola lokal, termasuk profil para pemainnya. Selain sepak bola, laporan dari cabang olahraga lain juga ikut diselipkan ke dalam tabloid tersebut, misalnya Bulutangkis, Bela Diri, Atletik, dsb. Tabloid yang terbit setiap hari Selasa dan Jumat itu menjadi oase untuk para pecinta olahraga di Indonesia di tengah rutinitas sehari-hari.

Ulasan-ulasan yang ditulis oleh kontributor gaek seperti Ian Situmorang, Weshley Hutagalung, Rob Hughes, M. Kusnaeni, dan Ronny Pattinasaranie selalu menarik untuk diikuti. Bacaannya enak dan selalu menyajikan sudut pandang yang segar. Aneka liputan dan wawancara eksklusif menjadi bonus bila ada kompetisi olahraga bergengsi semacam Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champions.

Saya termasuk pembaca BOLA sejak Piala Dunia 1998. Entah kenapa Piala Dunia tahun itu terasa spesial dan menjadi animo masyarakat dimana-mana. Setiap orang membicarakan kehebatan Ronaldo, tapi justru Brazil kalah oleh Perancis di partai final dengan skor telak 0-3. Pertandingan sepakbola pertama yang saya tonton sampai selesai pada dini hari.

Seketika itulah saya tertarik untuk mencari BOLA edisi kemenangan Prancis atas Brazil. Dari yang sebelumnya hanya bisa mengkliping majalah-majalah sepakbola lawas yang didapat dari pasar loak, sejak saat itulah saya mulai mengenal dan membaca BOLA.

Meskipun tidak berlangganan, jika sedang ingin membaca tabloid ini, saya selalu membelinya di lapak koran langganan Baba Gentong. Ia adalah satu-satunya lapak koran dan majalah paling lengkap di kota tempat saya tinggal. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah. Kebiasaan-kebiasaan membeli BOLA seperti itu biasanya dilakukan setelah pulang sekolah saat SMP maupun SMA. Tabungan uang jajan sekolah masih cukup untuk membeli tabloid BOLA selama sepekan.

Pernah ada suatu masa di mana saya titip beli kepada Ibu untuk membelikan tabloid BOLA bila ia membeli tabloid NOVA kepada tukang koran yang beredar naik motor setiap pagi hari. Memegang kertasnya yang masih hangat dan aromanya yang khas membikin tabloid tersebut eman-eman untuk segera dibaca. Biasanya saya baru sempat membaca tabloid tersebut ketika pulang sekolah.

Daya tarik tabloid BOLA selain karena kovernya yang berwarna dan gagah, judul-judulnya pun singkat dan kreatif. Misalnya dalam beberapa edisi diberi judul ‘Rusia Membara’, ‘Wonderkid Jangan Hilang Lagi’, ‘Derbi Milano Panas’, ‘Libas, Mancini!’, ’The Real Salah’, ‘Puas Barca?’ dan sebagainya. Belum lagi, bonus posternya yang menggoda untuk dikoleksi. Komik Si Gundul yang sangat ikonik. Juga teka-teki silangnya yang membuat rasa penasaran untuk menyelesaikannya.

Di tengah perjalanan tabloid BOLA, sempat muncul tabloid Soccer. Sebagai sesama tabloid di bawah naungan Kompas Gramedia (KG) Group, Soccer hanya berfokus pada sepakbola. Tidak ada rubrik khusus yang membahas soal olahraga selain sepakbola. Rupa tabloidnya penuh warna (full color), tidak seperti BOLA yang berselang-seling antara full color dan hitam putih. Daya tarik Soccer saat itu adalah ketika BOLA tak lagi menyertakan bonus poster, maka Soccer-lah yang melakukannya. Oleh karenanya, banyak orang yang mulai beralih membaca Soccer ketimbang BOLA.

Tak bisa dimungkiri, salah satu kekuatan BOLA pada masanya adalah bonus posternya. Sangat mudah menjumpai pemandangan ruang-ruang publik yang dipenuhi poster BOLA, dari rental Play Station, tukang cukur, warung kelontong, sampai kamar dan lemari pribadi. Poster seringkali melambangkan fanatisme seseorang akan klub yang dibelanya atau pemain yang diidolakannya.

Semasa kuliah, saya sudah tak rutin lagi membeli tabloid BOLA. Hanya sesekali membeli jika kebetulan ada momen atau edisi spesial. Atau cukup membeli Bola Vaganza yang terbit setiap bulan sekali. Toh, sehari-hari saya bisa membaca tabloid itu di warung burjo sebelah kos yang selalu berlangganan BOLA. Atau cukup membaca ulasan-ulasan sepakbola yang ada di internet.

Fenomena munculnya web-web sepakbola yang kian ramai membuat KG Group seperti melakukan blunder. Tahun 2013 KG Group menerbitkan edisi BOLA yang terbit harian, dikemas ke dalam Harian BOLA. Dalam perjalanannya, harian tersebut nyatanya hanya berjalan sekitar 2 tahun 4 bulan saja, sementara versi Selasa-Jumat nya masih terus diterbitkan.

Setelah majalah musik favorit Rolling Stone Indonesia bubar, kini gantian tabloid bola favorit BOLA dan majalah BolaVaganza yang punya nasib sama. Majalah dan tabloid itu telah jadi kenangan yang tak lagi mengisi rak-rak buku saya. Terima kasih sudah menjadi bagian dari masa remaja dan mengenal berbagai pengetahuan seputar dunia sepakbola dunia dan lokal!

BOLA terdisrupsi digital menjadi bolasport.com. Apakah situswebnya menawarkan sesuatu yang tak terlupakan seperti versi cetaknya? Yang jelas, rimba online sudah penuh sesak dengan booming informasi serupa jamur yang terus tumbuh di musim hujan. Hanya waktu yang bisa menjawab.