Tableau dikenal sebagai peranti visualisasi data yang cukup powerful. Peranti tersebut pertama kali dirilis pada tahun 2003. Seiring dengan berkembangnya kajian big data dalam beberapa tahun belakang, peranti tersebut semakin diperlukan bagi para penggila data, terutama untuk menyajikan visualisasi data ke dalam bentuk yang nyaman dipandang.

Salah satu keunggulan Tableau adalah bisa digunakan untuk menampilkan aneka rupa grafik dan diagram sesuai format atau sumber data yang juga bermacam-macam, entah itu data dari database, csv, excel, dan sebagainya. Integrasi Tableau dengan infrastruktur cloud juga memungkinkan layanan ini memproses data yang berukuran sangat besar.

Pada dasarnya ada beberapa versi Tableau yang tersedia. Ada yang versi gratis (free) maupun yang berbayar. Dalam percobaan kali ini saya mencoba menggunakan Tableau Desktop versi gratis. Topik yang diulas untuk melakukan uji coba ini yaitu menampilkan performa Klub Liga 1 Indonesia dari tahun 2017-2019.

Mengapa data yang diambil hanya pada tahun 2017-2019? Sebetulnya lebih karena data musim sebelum tahun 2017, kompetisi sepakbola Indonesia sedang dibekukan oleh FIFA, juga beberapa kali mengalami perubahan sistem kompetisi yang tidak konsisten (misal suatu kali pernah Liga 1 dibedakan menjadi grup timur dan grup barat Indonesia).

Dalam setiap musim, Liga 1 Indonesia diikuti oleh 18 klub berbeda yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Sehingga dalam satu musim, setiap klub akan menjalankan 34 pertandingan yang berbeda, 17 kali home dan 17 kali away.

Sebagai catatan, ada beberapa klub yang bergabung (merger) dan bersalin nama menjadi satu klub gabungan, misalnya PS Tira (2018) menjadi PS Tira Persikabo (2019), lalu Perseru Serui (2018) menjadi Perseru Badak Lampung (2019). Agar tidak menimbulkan ambiguitas, maka penamaan sebelum dan sesudah berubah akan dibedakan.

Data yang diperlukan pada percobaan kali ini adalah data klasemen akhir yang berisi data jumlah kemenangan (menang, seri, dan kalah), jumlah gol dan kemasukan, serta poin akhir berdasarkan peringkat klasemen.

Melalui data tersebut saya ingin melihat beberapa hal dari tiga visualisasi yang terdiri dari posisi klasemen tiap klub pada musim 2017-2019, jumlah menang-seri-kalah pada musim 2017-2019, serta jumlah gol dan kebobolan pada musim 2017-2019.

Dari visualisasi di atas, saya bisa memperoleh beberapa insight sebagai berikut:

  • Klub yang peringkatnya secara konsisten mengalami penurunan dari tahun 2017 hingga 2019 adalah Bhayangkara FC dan PS Barito Putera. Sementara klub yang posisi klasemennya terus mengalami peningkatan dari 2017 hingga 2019 adalah Persela Lamongan (meskipun selalu bersaing di dekat zona degradasi).
  • Ada beberapa klub yang mengalami perubahan klasemen akhir secara drastis dari tahun 2018 ke 2019. Misalnya klub-klub yang peringkat klasemennya tiba-tiba naik termasuk Bali United FC dan Persipura Jayapura. Sedangkan klub klub-klub yang posisi klasemennya turun drastis termasuk Persija Jakarta dan PSM Makassar.
  • Bagian unik yang lain adalah klasemen PS Tira. Pada tahun 2018 posisi akhir ada di peringkat ke-15. Ketika merger dan berubah nama menjadi PS Tira Persikabo, posisinya masih stagnan ada di peringkat yang sama.

Dari visualisasi di atas, saya bisa memperoleh beberapa insight sebagai berikut:

  • Dalam tiga musim terakhir, Persegres menjadi tim yang paling sering kalah di ajang Liga 1. Mereka hanya bisa meraih 2 kali menang, 4 kali seri, dan 28 kali kalah dalam satu musim, tepatnya pada musim 2017.
  • Dalam tiga musim terakhir, jika jumlah kemenangan diakumulasi, Bali United menjadi tim yang paling sering menang di ajang Liga 1. Total mereka sudah mengenyam 52 kali kemenangan dari 102 pertandingan. Dengan kata lain mereka sudah menorehkan 50% lebih pertandingan dengan hasil menang.

Dari visualisasi di atas, saya bisa memperoleh beberapa insight sebagai berikut:

  • Rekor jumlah kebobolan paling banyak dalam tiga musim terakhir diraih oleh Persegres yang sudah mengoleksi 104 kebobolan pada tahun 2017. Sedangkan klub yang paling sedikit kebobolan dalam tiga musim terakhir yaitu Persija Jakarta, mereka pernah hanya kebobolan sebanyak 24 kali dalam semusim pada tahun 2017.
  • Jumlah gol paling banyak dari tahun ke tahun diraih oleh Bali United (76 gol, peringkat 2, musim 2017), Persebaya (60 gol, peringkat 5, musim 2018), dan Arema (59 gol, peringkat 9, musim 2019). Dari data ini ditemukan pola yang menarik, karena ternyata klub yang juara Liga 1 justru belum pernah mencetak lebih banyak gol dari klub-klub yang ada di bawahnya. Uniknya lagi, Arema yang total mengoleksi 59 gol dalam semusim justru hanya bisa bertengger di posisi 9 klasemen Liga 1 2019.
  • Rekor jumlah gol paling banyak paling banyak dalam tiga musim terakhir diraih oleh Bali United FC pada tahun 2017 dengan perolehan 76 gol.

Tentu masih ada insight lain yang bisa dibaca melalui visualisasi data di atas.

Oya bagi Anda yang tertarik untuk mendapatkan data mentah yang saya gunakan pada artikel kali ini bisa diunduh secara gratis pada tautan di bawah. Silakan gunakan data berekstensi .csv tersebut untuk kepentingan belajar menganalisis data. Jangan lupa colek saya jika Anda punya analisis yang oke atas data tersebut.