Bagi siapapun, tahun 2020 adalah tahun yang muram. Pandemi COVID-19 yang datang di awal tahun membuat sebagian besar rencana disusun sejak 2019 terpaksa kandas. Pandemi membuat banyak orang harus bersabar menahan diri untuk tidak membuat dan mendekati kerumunan. Termasuk pergelaran musik atau konser, harus ditunda dan sebagian beralih ke konser virtual.

Namun, sisi positifnya, menurut saya tahun ini banyak musisi yang masih berkarya meskipun harus bekerja dari rumah (work from home). Entah itu merilis proyek single, album, boxset, atau gimmick-gimmick lain yang sebagian juga hasil dari merespon situasi pandemi.

Nah, daftar album musik berikut adalah beberapa album musik yang setidaknya berhasil mengambil tempat tersendiri dalam ingatan saya selama tahun 2020. Untuk itu, agaknya terlalu naif jika saya memberi judul daftar berikut sebagai ‘album terbaik’ alih-alih ‘album paling asik’.

Saya membagi daftar berikut menjadi masing-masing lima album lokal dan internasional. Album-album berikut saya pilih karena ada lebih dari satu lagu yang saya suka di album tersebut. Selain itu, dari konsep dan garapan musiknya pun menyenangkan sekaligus cocok dengan genre-genre yang paling saya minati: rock, metal, dan pop.

***

MORFEM – Binar Wajah Sebaya (EP)

MORFEM - Binar Wajah Sebaya

MORFEM adalah band rock bentukan Jimi Multhazam, vokalis yang juga merupakan frontman band nu wave The Upstairs. Single “Binar Wajah Sebaya” ketika itu diperkenalkan melalui Instagram. Para followers-nya dipersilakan untuk melakukan cover minus one dengan salah satu instrumen, entah itu gitar, bass, ataupun drum.


Saya sendiri sudah mendengarkan MORFEM sejak album Hey, Makan Tuh Gitar (2012). Banyak yang bilang MORFEM adalah Weezer-nya Indonesia karena menggunakan distorsi gitar rock alternatif nan easy listening ala-ala musik rock Amerika. Selain warna musik yang cocok buat saya, diksi-diksi yang diciptakan oleh Jimi saat menulis lagu juga menarik untuk diulik.

Album Binar Wajah Sebaya ini adalah album EP yang hanya berisi lima lagu. Keempat lagu sisanya diambil dari single di album-album sebelumnya. Entah kenapa lagu-lagu yang masuk ke dalam EP ini adalah lagu-lagu favorit yang saya suka: “Tiba-Tiba Terjadi”, “Bocah Cadel Lampu Merah”, “Planet Berbeda”, dan “Senjakala Cerita”.

Satu Per Empat – Pasca Falasi

Satu Per Empat - Pasca Falasi

Saya mengenal band asal ibukota ini ketika pertama kali mendengarkan lagu “Montase di 7 Pagi” melalui aplikasi streaming Spotify. Judul lagunya yang unik ala-ala lagu pengiring kopi dan senja kekinian, ditambah nama band yang juga unik Satu Per Empat, seketika membuat saya iseng menyetel lagu tersebut. Baru kemudian gandrung mendengarkan track lain semisal “Ephemeral” dan “Hiatus”.

Kesan pertama saat mendengarkan lagu tersebut sekilas band ini suaranya mirip Robby Navicula. Sementara begitu didengarkan melalui headset, suara detail instrumennya membuat saya berdecak kagum, padat dan berisi. Musik yang mereka bawakan seperti perpaduan antara rock n roll dan grunge.

Satu Per Empat merilis album penuh bertajuk Pasca Falasi pada 9 Oktober 2020. Sebelumnya mereka secara bertahap memperkenalkan beberapa single dan video musik yang ada di album tersebut, termasuk “Alibi Abadi” (Juli 2019), “Ephemeral” (Agustus 2019), “Supernova” (September 2019), “Montase di 7 Pagi” (Januari 2020), dan “Hiatus” (Mei 2020).

Death Vomit – Dominion Over Creation

 


Death Vomit - Dominion Over Creation

Sebetulnya ada beberapa rilisan metal lokal lain yang menarik untuk disimak. Namun, saya lebih memilih memasukkan Death Vomit. Salah satu alasannya karena merekalah dedengkot death metal nasional yang sudah cukup lama tidak merilis album.

Terakhir kali Death Vomit merilis album yaitu pada tahun 2014 lewat album Forging A Legacy. Seperti album-album sebelumnya, lirik-lirik lagu Death Vomit di album keempatnya ini masih ditulis dalam Bahasa Inggris.

Benang merah musik Death Vomit masih sangat terasa di sepanjang lagu album ini, apalagi album ini disusun secara tematik. Dibanding album-album sebelumnya, album ini cenderung memiliki tempo sedang dengan growling ala death metal. Selain itu, suara Sofyan Hadi, gitaris sekaligus vokalis Death Vomit, kali ini lebih mudah untuk didengarkan pelafalannya.

Simak single pertama album ini “Where The Devil Blessed” yang juga dirilis dalam bentuk video lirik di Youtube. Single kedua yang belakangan dibuat video klipnya, “Ancient Spell of Evil”, juga menawarkan garapan yang apik. Album Dominion Over Creation menunjukkan bahwa Death Vomit masih eksis dalam skena metal Indonesia.

Burgerkill – Killchestra (EP)

Burgerkill - Killchestra

Pasukan metal hardcore dari Bandung, Burgerkill, termasuk salah satu band metal lokal yang paling produktif saat ini. Mereka bukan saja malang melintang di skena nasional, tetapi juga sudah bisa diterima di skena metal internasional.

Album Killchestra adalah salah satu bukti yang sahih. Killchestra adalah album ekletik perpaduan musik metal Burgerkill yang dipadukan dengan grup orkestra tersohor asal Praha, Republik Ceko, yaitu Czech Symphony Orchestra (CSO). Burgerkill bukan band metal pertama yang bekerja sama dengan CSO. Sebelumnya Dimmu Borgir pada tahun 2012 juga pernah berkolaborasi dengan CSO.

Album ini pertama kali dirilis melalui rilisan fisik edisi spesial hanya 300 kopi yang berisi Boxset Vinyl + CD and Gatefold Vinyl. Langsung ludes diserbu para begundal. Album ini termasuk mini album karena hanya berisi enam lagu yang mewakili lagu-lagu Burgerkill di album-album sebelumnya.

Lagu-lagu yang termasuk di album ini yaitu “Anjing Tanah”, “Penjara Batin”, “An Elegy”, “Only the Strong”, “Angkuh” dan “Tiga Titik Hitam”.

FSTVLST – II

FSTVLST - II

FSTVLST II adalah tajuk album kedua FSTVLST setelah merilis album perdananya enam tahun lalu dengan tajuk Hits Kitsch. Tujuh dari sembilan lagu yang ada di album ini sebetulnya sudah dirilis terlebih dahulu pada sekitaran tahun 2018 dan 2019 melalui halaman ofisial fstvlst.id.

Sejak awal band yang berdomisili di Yogyakarta ini sudah mengonsep album keduanya sedemikian rupa sehingga hanya orang-orang yang sudah mendaftarkan diri di situswebnya itulah yang bisa mendengarkan sekaligus mengunduh ketujuh lagu tersebut secara penuh dan gratis! Single perdana yang juga dirilis bersamaan dengan video musiknya berjudul “Gas!” pada 2018 langsung menarik animo festivalist, sebutan penggemar FSTVLST.

Lagu berjudul “Telan” dan “Opus” menjadi dua lagu lain yang menarik untuk disimak di album ini. Sementara itu, rilisan fisik untuk album ini baru dikeluarkan di bulan Desember 2020. Bagi yang tertarik membaca ulasan lebih detail tentang album ini bisa baca review album II yang saya tulis di tautan ini.

***

The Strokes – The New Abnormal

The Strokes - The New Abnormal

Saat pertama kali mendengarkan single “Bad Decisions”, saya langsung menahbiskan bahwa album The Strokes tahun ini harus masuk ke dalam jajaran album terbaik tahun ini. Paling nggak masuk 50 besar. Satu artikel di situsweb musik NME ini ternyata menempatkan album The New Abnormal di urutan ke-4 album terbaik tahun 2020.

Sebagai produser di album ini, Rick Rubin berhasil memoles album ini menjadi album yang asik didengarkan di segala suasana. Suara gitar Nick Valensi dan Albert Hammond Jr saling bersahut-sahutan, menghasilkan bebunyian meriah dan berisi.

Apalagi karakter suara Julian Casablancas yang terdengar sengau dan malas berpadu dengan suara bass lembut Nikolai Fraiture. Track favorit di album ini selain yang sudah disebut di atas adalah “The Adults Are Talking”, juga “Ode To The Mets” yang bagian intronya mengingatkan suara efek video game tahun 80-an (pembuka video klip lagu ini memperlihatkan game Space Invaders).

Taylor Swift – .folklore

Taylor Swift - folklore

Saya mengenal lagu-lagu Taylor Swift dari album Fearless (2008). Meski bukan album pertamanya, album tersebut bisa dibilang adalah titik balik seorang Taylor Swift mulai dikenal banyak orang di jagat dunia. Sebelumnya ia lebih dikenal sebagai penyanyi yang melantunkan lagu-lagu country.

Tidak sulit menemukan musisi perempuan solo yang menyanyikan lagu-lagu pop TOP 40 saat ini dengan dandanan yang modis dan suara yang mewah. Entah kenapa saya lebih nyaman ketika Taylor Swift menyanyikan lagu-lagu pamungkasnya. Mungkin karena ia tampil lebih sederhana dan nggak norak seperti kebanyakan penyanyi pop mainstream.

Album .folklore semakin mengukuhkan identitas Taylor Swift sebagai perempuan yang tidak sekadar bernyanyi dengan merdu, tetapi juga bisa menyanyi sambil bercerita (storytelling). Itulah kekuatan album ini dibandingkan album-album sebelumnya yang lebih ngepop.

Siapa yang tidak bergetar kala ia duet dengan Bon Iver saat menyanyikan “exile”? Atau apa kesan pertama saat mendengarkan “cardigan”? Saya yakin berkat dua lagu itu, pendengarnya bakal dibuat ketagihan memutar album ini berulang kali.

John Petrucci – Terminal Velocity

John Petrucci - Terminal Velocity

Melihat jejaknya, terakhir kali John Petrucci merilis album penuh solo instrumental yaitu lima belas tahun yang lalu lewat album Suspended Animation. Sebagai gitaris progresif yang disegani bersama Dream Theater, John Petrucci punya sederet amunisi bermain gitar yang memukau.

Album instrumental Terminal Velocity menunjukkan bagaimana Petrucci adalah gitaris multitalenta yang bisa memainkan beragam genre. Album ini berisi 9 track instrumental yang merangkum nada-nada gitar bertema progresif, blues, old-rock, country, groovy, sampai melodious ala Joe Satriani.

Single pembuka album ini “Terminal Velocity” berhasil membuat telinga saya penasaran untuk mendengarkan lagu-lagu selanjutnya di album ini. Track paling favorit di album ini selain “Terminal Velocity” tentu saja “The Way Things Fall”, “Happy Song”, dan “Temple of Circadia”. Tak diragukan lagi, album ini sangat cocok dipakai sebagai pembuka mood penyemangat di pagi hari.

AC/DC – Power Up

AC/DC - Power Up!

Meskipun personel AC/DC sudah berkepala enam, energi mereka sungguh luar biasa. Bukan hal yang mudah bagi band rock semacam AC/DC yang di setiap penampilannya menawarkan lengkingan bernada tinggi pun atraktif di atas panggung.

Single “Shot in The Dark” dipilih menjadi lagu pertama yang diperkenalkan oleh AC/DC. Lagu yang sangat cocok dijadikan sebagai lagu pembuka konser AC/DC. Memang secara musikalitas dan karakter album tidak ada yang baru di album ini, bahkan cenderung mengulang kesuksesan album Back in Black.

Bagian menyenangkannya adalah kembalinya para personel AC/DC yang menggarap album Rock or Bust (2014). Mereka adalah Brian Johnson, Phil Rudd dan Cliff Williams. Konon pasca album tersebut, AC/DC sempat mengalami bongkar pasang personel dan hanya meninggalkan Angus & Stevie Young.

Buat saya sih, album ini menjadi semacam nostalgia classic rock ala AC/DC, tapi digarap dengan instrumen-instrumen yang lebih modern.

Lost Society – No Absolution

Loct Society - No Absolution

Sebagai pendengar musik thrash metal yang baik, sulit rasanya untuk tidak memasukkan Lost Society ke dalam daftar ini. Riff-riff thrash metal yang mengisi banyak bagian di album ini sangat mudah untuk dicerna dan tidak njelimet. Lumayan bisa membuat kepala mengangguk-angguk sambil mendaras lirik-liriknya.

Band metal asal Finlandia ini merilis album No Absolution di bawah bendera label rekaman metal paling berbahaya saat ini, Nuclear Blast. Materi metal yang ada di album ini membawa pengaruh lagu-lagu metal 80-an ala Anthrax atau Metallica.

Beberapa track mengasyikkan di album ini diantaranya “No Absolution”, “Blood on Your Hands”, dan “Outbreak (No Rest for The Sickest)”. Album ini dipungkasi dengan sebuah lagu pendinginan yang sangat reflektif berjudul “Into Eternity”.

We came so far, just to throw it all away
When did we fall? When did we start to stray?
We lost our hope
And our dreams died today
We won’t get far until we fade away
Into eternity

Komentar

You can subscribe to my newsletter to get updates (no spam).

powered by TinyLetter