Ragam

Nol ke Satu, Inovasi atau Globalisasi?

Saya baru saja menuntaskan membaca buku berjudul Zero to One karya Peter Thiel & Drake Masters. Buku ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris, tetapi saat ini sudah tersedia versi bahasa Indonesianya, diterbitkan oleh Gramedia. Sempat kesulitan mencari buku ini karena stoknya habis. Akhirnya, buku ini saya peroleh dari sebuah situs jual buku online.

Thiel mengumpulkan pengalaman-pengalamannya mengelola bisnis teknologi ke dalam buku ini. Buku ini lahir dari catatan mahasiswa Stanford bernama Drake Masters yang giat mencatat gagasan yang disampaikan oleh Peter Thiel saat mengisi di kampusnya pada 2012.

Buku ini banyak bercerita tentang makna Zero to One, yang mengejawantahkan perbedaan prinsip perusahaan yang mengusung model zero (horizontal/globalisasi) dan one (vertikal/inovasi). Bagaimana perusahaan besar di dunia bisa berkembang dengan inovasi-inovasinya tanpa meniru produk yang sudah ada atau populer terlebih dahulu. Termasuk bagaimana dampak pertarungan inovasi dalam mempengaruhi keberlangsungan sebuah usaha/bisnis, apakah mampu mempunyai daya yang benar-benar bisa bermanfaat untuk banyak orang, serta bisa membingkai masa depan yang lebih baik?

Thiel percaya bahwa sebuah inovasi baru akan memberikan manfaat lebih banyak jika memiliki kelebihan dua puluh kali lipat dibanding teknologi yang sudah ada. Thiel juga termasuk orang yang percaya bahwa tidak ada hubungannya antara pendiri yang tak lulus kuliah/DO (seperti kisah Bill Gates/Steve Jobs) dengan kesuksesan mendirikan perusahaan. Karena ia percaya semua perusahaan itu berbeda titik awalnya.

Buku ini berusaha menjawab pola pikir yang salah dari kebanyakan perusahaan startup yang kian hari semakin menjamur, dengan persaingan yang semakin ketat, dan tak semuanya bakal sukses. Buku ini mendedah bagaimana sistem monopoli dan kapitalisme sebuah perusahaan teknologi bekerja. Buku ini mengajarkan bagaimana menumbuhkan ide-ide baru yang segar. Buku ini memaparkan bagaimana mengelola keahlian dan sifat individu manusia dalam sebuah perusahaan.

Bagi yang belum kenal, Thiel dulunya adalah seorang founder Paypal bersama kelima teman-temannya yang lain. Mereka awalnya terdiri dari beragam latar belakang dan sifat individu yang berbeda, tetapi mempunyai visi yang sama untuk mengembangkan sebuah inovasi yang sebelumnya belum pernah ada sejak kemunculan internet.

Beberapa kunci kesuksesan Paypal juga ditulis dalam buku ini. Hingga saat ini Paypal telah menjadi salah satu sistem pembayaran online terbesar di dunia. Banyak ecommerce yang memanfaatkan Paypal untuk membayar produk-produk yang tersedia online.

Setelah kesuksesan Paypal, para pendirinya memilih untuk mendirikan perusahaan lain yang dinilai masih mempunyai peluang besar untuk sukses. Seperti apa yang kemudian dilakukan oleh Thiel. Thiel termasuk salah satu investor pertama Facebook, pemodal utama SpaceX (yang didirikan Elon Musk), serta pendiri Thiel Fellowship, sebuah lembaga yang didirikan untuk mendorong kaum muda agar memprioritaskan belajar ketimbang menempuh pendidikan formal.

Menurut saya ini adalah salah satu buku entrepreneurship/startup terbaik yang pernah saya baca. Bukunya tak terlalu tebal dan isinya cenderung gamblang.