Stori

Saatnya Beralih ke Spotify

MEREBAKNYA beragam aplikasi pemutar musik streaming online belakangan ini membuat saya selalu ingin ikut merasakan pengalaman menggunakan aplikasi tersebut. Saya merasa, kehadiran aplikasi-aplikasi tersebut bisa mengurangi ketergantungan saya untuk mengunduh file musik ilegal. Setidaknya ini yang saya rasakan sejak menggunakan aplikasi streaming Apple Music.

Harganya yang terjangkau dan kualitas konten yang ditawarkan oleh aplikasi tersebut bisa diandalkan. Dari segi bitrate, musik yang disediakan terkadang lebih baik dari file unduhan ilegal. Keuntungan lainnya, aplikasi streaming tak memerlukan storage (penyimpanan) yang besar karena seluruh file musik disimpan dalam penyimpanan awan (cloud storage) yang bisa diakses kapan saja melalui berbagai perangkat. Pengguna cukup bermodal koneksi internet yang stabil.

Jutaan lagu bisa dipilih sesuai selera. Musik-musik rilisan baru bisa dinikmati lebih cepat alih-alih harus membeli album fisik. Aplikasi streaming mampu memanjakan penggunanya dengan beragam fitur menarik. Misalnya membuat playlist mandiri, memilih lagu berdasarkan kata kunci (nama lagu, artis, album, dsb.) maupun genre & mood.

Saya sendiri sudah berlangganan Apple Music sejak setahun yang lalu, bahkan ketika masih menggunakan laptop bersistem operasi Windows. Awalnya saya hanya menggunakan iTunes sebagai pengganti Winamp yang sudah tak dikembangkan lagi. Namun sejak Apple Music dirilis bulan Juni 2015 lalu dan mendukung akun iTunes Indonesia, saya mulai tertarik dengan Apple Music. Ulasan lebih lengkap mengenai aplikasi Apple Music pernah saya tulis di sini.

Selain Apple Music, sebenarnya ada bermacam-macam layanan streaming musik yang pernah saya coba, misalnya Deezer & 8tracks. Deezer fungsinya hampir sama dengan Apple Music, sedangkan 8tracks merupakan layanan audio streaming yang mengizinkan penggunanya untuk membuat playlist sendiri, sehingga dapat dibagikan ke pengguna yang lain. Namun, untuk menikmati fitur premium aplikasi tersebut, pengguna harus membayar melalui kartu kredit.

Spotify sebenarnya adalah pemain lama aplikasi streaming musik. Aplikasi yang ditemukan oleh Daniel Ek & Martin Lorentzon itu dikembangkan sejak tahun 2006. Bermula di kota Stockholm, Swedia, kemudian digarap dalam sebuah tim bernama Spotify AB.

Aplikasi Spotify secara resmi rilis dua tahun kemudian. Namun, ketika itu belum banyak negara yang bisa menggunakan aplikasi ini, salah satunya karena soal hak cipta. Seiring waktu berjalan, Spotify berkerja sama dengan banyak pihak, termasuk artis dan label mayor di banyak negara.

Begitu Spotify muncul sejak 1 April 2016 di Indonesia, maka ini adalah kabar baik. Jika sebelumnya pengguna di Indonesia harus menerobos melalui VPN untuk bisa menggunakan atau membuka halaman Spotify, kini tak perlu lagi.

Dari beberapa review yang saya baca, Spotify masih lebih unggul ketimbang Apple Music. Berikut adalah beberapa pandangan saya soal aplikasi Spotify.

Aplikasi & Fitur

Jika dibandingkan aplikasi Apple Music, aplikasi Spotify terasa lebih ringan dan lebih powerful. Baik pada perangkat desktop maupun pada perangkat mobile. Apple Music awalnya didesain hanya untuk pengguna Mac & iOS, baru belakangan aplikasi tersebut bisa dinikmati pada sistem operasi di luar Apple.

Pembagian musik berdasarkan genre dan mood yang ditawarkan Spotify lebih lengkap ketimbang Apple Music. Semisal, pada Apple Music tak ada pembagian untuk musik Metal dan Punk, tetapi di Spotify ada. Apple Music tak menyediakan pembagian berdasarkan mood dan kumpulan lagu berdasarkan genre yang spesifik, tetapi di Spotify ada. Spotify menawarkan pengkategorian playlist yang lebih lengkap dan sering diperbarui. Apple Music hanya menyediakan fitur “For You” yang fungsinya memberikan rekomendasi lagu, artis, dan album berdasarkan pilihan genre yang kita pilih sebelum menggunakan Apple Music.

Playlist berdasarkan genre dan moods pada Spotify
Playlist berdasarkan genre dan moods pada Spotify

Pengguna Spotify bisa mem-follow teman-teman mereka. Mereka juga bisa melihat lagu apa yang sedang diputar oleh teman-teman yang mereka follow. Termasuk integrasi ke layanan last.fm, sebuah layanan untuk merekam musik yang sedang dimainkan dari pemutar musik pengguna. Fitur semacam ini tak ditemukan di Apple Music.

Jika pada Apple Music ada fitur Connect, pada Spotify ada fitur Follow. Connect berfungsi untuk mengikuti linimasa artis idola, yang sayangnya kurang berguna. Connect berfungsi sebagai tombol untuk menghubungkan pengguna dengan update-update terbaru dari musisi idolanya. Fitur Follow pada Spotify tak hanya difungsikan untuk mengikuti artis idola, tetapi juga playlist.

Sayangnya Spotify belum mendukung perangkat keras pemutar musik populer seperti iPod. Perangkat keras yang mendukung penuh Spotify yaitu Mighty Audio. Spotify menyediakan mode offline jika Anda telah berlangganan Spotify Premium. Namun, file offline tersebut hanya bisa didengarkan, pengguna tak akan bisa menemukan file unduhan sehingga bisa diputar di pemutar musik selain Spotify.

Hal lain yang tak kalah menarik, aplikasi Spotify di perangkat mobile bisa dijadikan semacam ‘remote’ untuk mengendalikan pemutar musik Spotify pada komputer, asal keduanya sama-sama online.

Koleksi Lagu

Ada yang mengatakan bahwa salah satu keunggulan Spotify adalah kelengkapan lagunya. Menurut saya tidak demikian. Hingga tulisan ini dimuat, saya tak menemukan album Bintang di Surga milik band Peterpan. Padahal album tersebut adalah album terlaris Indonesia yang pernah mendapatkan rekor 3 juta rilisan fisik terjual. Jika Anda cek, maka Anda akan menemukan album ini di Apple Music.

File lagu di Apple Music menggunakan bitrate 256 kbps dalam format AAC. Sedangkan file lagu di Spotify menggunakan bitrate 320 kbps dalam format MP3.

Koleksi lagu di Spotify hanya bisa diunduh lewat perangkat mobile. Namun, Spotify tidak mempunyai sistem penjualan file audio seperti iTunes Store pada Apple Music.

Screen-Shot-2015-06-30-at-9.00.11-AMBerlangganan

Metode pembayaran via kartu kredit adalah momok bagi masyarakat Indonesia. Tak banyak penduduk yang memiliki kartu kredit. Oleh karena itu, biasanya diakali dengan cara titip ke orang lain yang punya kartu kredit atau membeli semacam GiftCard (ala Apple) sebagai alternatif pembayaran. Saya biasanya menggunakan cara kedua, meski harus kena biaya charge.

Kenapa dulu saya memilih Apple Music? Selain karena bisa diputar via iTunes for Windows, tentu juga karena saya sedikit dimudahkan dalam hal pembayaran untuk menikmati fitur premiumnya. Untungnya Spotify punya metode pembayaran selain kartu kredit, yaitu menggunakan layanan pihak ketiga bernama Doku.

Untuk berlangganan Apple Music saya harus membayar 69.000 per bulan. Dengan harga segitu saya masih harus tambah biaya charge. Sedangkan untuk berlangganan Spotify, saya cukup membayar 49.000 per bulan melalui layanan Doku, yang bisa dibayar melalui mesin debit ATM terdekat.

bi_graphics_apple music vs spotify_02MELIHAT beberapa keuntungan dan kelemahan di atas, rasanya saya lebih memilih Spotify dibanding Apple Music. Untuk menggunakan Apple Music pengguna harus membayar terlebih dahulu. Untuk menggunakan Spotify, pengguna tak harus membayar, tetapi bisa juga menikmati versi gratisnya.

Berikut adalah beberapa perbandingan fitur akun Spotify yang gratis dan premium:

spot-premium

 

  • Ivan Syah

    saya juga pake spotify gan.. thank buat review nya