Stori

Balada Si Burung Kepodang

[su_dropcap style=”flat” size=”4″]K[/su_dropcap]ali pertama mendengarkan Silampukau datang dari seorang teman yang merekomendasikan band ini lewat jejaring Facebook. Lantas saya mengecek salah satu track videonya via Youtube. Ada beberapa video yang muncul dalam daftar hasil pencarian, tetapi saya lebih tertarik untuk mendengarkan “Malam Jatuh di Surabaya”. Dari judulnya, saya bisa merasakan nuansa nostalgianya.

Melihat dan mendengarkan Silampukau yang direkam saat tampil di Jooks Cafe itu seketika mengingatkan saya pada duo folk asal Norwegia, Kings of Convenience. Suara-suara gitar yang ditonjolkan, serta duo gitarisnya yang saling bergantian nyanyi sambil memainkan gitar dengan penuh penghayatan semakin menambah khusyuk suasana kafe itu. Di pertengahan lagu, satu pemain ukulele datang untuk bergabung dengan mereka berdua, kemudian muncul pemain simbal dan bass.

Silampukau banyak terinspirasi dari The Dubliners, band folk lawas asal Irlandia dan George Brassens, penyanyi solo beraliran folk asal Perancis. Menilik album terbarunya, Dosa, Kota, dan Kenangan, lagu-lagu Silampukau setidaknya memiliki benang merah yang tidak dimiliki oleh band-band folk/balada Indonesia lain seperti Dialog Dini Hari atau Payung Teduh.

Secara tematik, album Silampukau sangat kontekstual. Album balada kota yang begitu dekat dengan Surabaya, kota tempat para personelnya sehari-hari bermukim. Di beberapa lagu seperti “Si Pelanggan”, “Puan Kelana”, “Malam Jatuh di Surabaya”,  “Lagu Rantau (Sambat Omah)”, dan “Bianglala”, kata ‘Surabaya’ berulang kali disebut.

Pemilihan lirik di album ini tak banyak bicara soal puja puji cinta, juga tak memelihara kenaifan. Kharis, si penulis lirik pada hampir semua lagu Silampukau, terlihat piawai merakit kata demi kata untuk menghasilkan bait-bait nostalgis.

silampukau2

Simak salah satu bait lagu “Si Pelanggan” yang ditulis sebagai respon atas penutupan lokalisasi Dolly. Bait berikut menggunakan diksi-diksi yang jarang digunakan dalam lirik lagu berbahasa Indonesia, seperti ‘bir’, ‘kafir’, ‘ceracau’, ‘lingsir’, ‘dengung’, ‘hambar’, ‘nyinyir’, dan ‘matrimoni’ (berarti ‘pasangan’).

Di dasar kerat-kerat bir
yang kutenggak dalam kafir,
di ujung ceracau malam yang lingsir,
di dengung hambar aspal yang terus bergulir,
di lubang-lubang nyinyir ranjang matrimoni,
kupertanyakan nasibmu Dolly, oh Dolly.

Dosa, Kota, dan Kenangan adalah album kedua yang dirilis oleh Silampukau di bulan April 2015 lalu. Sebelumnya, mereka pernah merilis sebuah mini album bertajuk Sementara Ini. Album tersebut hanya berisi 5 lagu, termasuk “Pagi Itu”, “Cinta Itu”, “Hei”, “Sampai Jumpa”, dan “Berbenah”. Lagu “Berbenah” mereka bawakan sejak tahun 2008 lalu sebelum mereka vakum dan bangkit lagi di tahun 2014. Lagu-lagu di album Sementara Ini juga dapat Anda nikmati secara gratis melalui situsweb mereka: silampukau.com.

Silampukau dalam bahasa Melayu kuno berarti burung kepodang. Konon burung kepodang mempunyai suara yang merdu. Satu alasan kenapa band ini dinamai Silampukau adalah karena mereka ingin membuat merdu dunia dengan lagu-lagu yang mereka bawakan.

Beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan mereka pentas di Kaliandra, di sebuah penginapan dekat kaki Gunung Arjuna, Prigen, Jawa Timur. Kali itu Silampukau hadir dengan tiga personel, terdiri dari dua gitaris utama (Eki dan Kharis), serta satu pemain bas tambahan. Formasi mereka saat tampil langsung sering berganti-ganti, tetapi Eki dan Kharis akan selalu ada sebagai personel tetap. Mereka juga jarang tampil dengan full instrumen seperti yang bisa didengarkan pada versi album.

Malam itu Silampukau tampil di sebuah halaman yang tidak terlalu luas, disaksikan oleh sekitar 30-an penonton. Mereka menyanyikan hampir satu album penuh yang ditutup dengan lagu “Sampai Jumpa”.

Jika Bali punya Dialog Dini Hari, Jakarta punya Payung Teduh, Bandung bangga punya The Panas Dalam, maka Surabaya harus bangga punya Silampukau!