Stori

Membaca Judul Buku Mojok

Lewat tulisan ini saya tidak akan bercerita banyak tentang isi Buku Mojok. Buku yang merupakan hasil karya 30 penulis dengan 50 artikel yang dipilih oleh seorang editor. Seorang editor yang juga dipilih melalui tiga syarat: bukan anggota Kru Mojok, setidaknya pernah membaca Mojok.co, dan belum pernah menulis untuk Mojok.co. Kelima puluh artikel terpilih tersebut dibagi ke dalam lima tema: Politik, Olahraga, Sosial Budaya, Agama, serta Hukum & HAM. Testimoni tentang buku ini bisa Anda jumpai lewat fanpage Buku Mojok. Saya hanya akan sedikit mengingat kembali sedikit perjalanan dapur Mojok selama setahun yang lalu.

Tapi tunggu, sebelum Anda melanjutkan membaca tulisan ini lebih jauh, Anda bisa sambil memainkan lagu yag saya sarankan ini. Sebuah lagu dari penyanyi folk Bob Dylan berjudul Blowing in The Wind. Lagu pengiring yang juga saya putar berkali-kali ketika menulis artikel ini.

Membaca judul buku ini selalu mengingatkan saya saat pertama kali mendapati Mojok.Co kebanjiran pengunjung. Entah apakah ini sebuah kebetulan atau memang sengaja memilih judul buku Mojok dengan judul salah satu artikel Mojok yang paling booming. Sayang sekali di pengantar buku ini tidak dijelaskan mengapa editor Iffah Hannah memilih judul “Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia” sebagai judul buku kumpulan tulisan terpilih Mojok.Co.

Di hari ketika Mojok.co memuat artikel tersebut, situsweb Mojok sempat overload, kadang hidup kadang mati. Beberapa pembaca mengeluhkan Mojok yang sulit diakses. Saya yang berjaga sebagai webmaster terus mencoba mengatasi masalah tersebut. Sementara itu, beberapa Kru Mojok terus memantau perkembangan jumlah pengunjung real-time melalui Google Analytics. Itu tak terjadi dalam sehari, tetapi berhari-hari sehingga menyebabkan kuota bandwidth hosting bulanan habis sebelum sebulan penuh. Kala itu, solusi terbaik agar Mojok bisa segera pulih kembali adalah dengan upgrade hosting.

Dari tulisan karya mas Iqbal Aji Daryono itulah untuk pertama kalinya Mojok.Co dikutip oleh banyak media daring. Backlink untuk artikel itu semakin hari semakin bertambah. Efek sharing di media sosial seperti Facebook dan Twitter juga menambah jumlah kunjungan mendadak tinggi. Jika biasanya efek lonjakan pengunjung untuk satu artikel Mojok–yang mengikuti tren pemberitaan atau isu terkini–habis dalam hitungan hari, maka tulisan itu efeknya terasa hingga beberapa bulan ke depan. Imbas yang disebabkan karena perpaduan momen yang pas (pasca Pilpres), akun Facebook dengan banyak follower, dan gaya penulisan yang santai (diawali dengan sapaan ‘Halo teman-teman, sudah makan?’). Beberapa dinding Facebook teman-teman saya banyak yang ikut membagikan artikel tersebut. Bahkan saya sendiri mendapat banyak laporan dari teman yang sedang berada di luar negeri juga membaca artikel tersebut. Efek yang luar biasa.

Saya masih ingat, beberapa hari setelah tulisan itu dimuat di Mojok, kiriman artikel yang masuk ke surel redaksi Mojok mencoba menggunakan gaya penulisan judul artikel yang mirip “Surat Terbuka untuk bla bla bla”. Namun sayang, beberapa dari artikel tersebut belum ‘mojok banget’. Toh kami juga tidak akan mau menggunakan judul yang sudah tidak segar lagi.

Jargon “nakal, banyak akal, segar, menghibur” adalah beberapa kata kunci yang sering digunakan Mojok untuk menilai sebuah artikel yang masuk ke meja redaksi sehingga layak muat ke situsweb. Untuk urusan memilah tulisan dan editorial, silakan baca pengantar buku ini yang berjudul “Rahasia Kritikan”, ditulis oleh Kepala Suku Mojok, Puthut EA.

Tema tulisan di Mojok sebenarnya sangatlah luas, tidak hanya dipagari oleh tema-tema seperti yang tercantum dalam Buku Mojok. Sesekali kami membuat pekan menulis untuk topik-topik terentu seperti #PekanMengenangKampus, #PekanMenulisKota, #PekanMenulisKuliner, dan #PekanOlahraga. Mojok pernah dinominasikan sebagai media online yang menyuarakan kebebasan berpendapat dalam penghargaan DW Awards untuk kategori People Choice for Indonesia (meskipun tidak menang). Internet Sehat juga pernah memasukkan Mojok sebagai salah satu situs yang bertema keislaman, karena memang ada cukup banyak tulisan yang membahas soal keyakinan.

Membaca tulisan-tulisan di Mojok—tak hanya tulisan-tulisan yang ada di buku ini belaka—sesungguhnya mengajarkan saya (dan mungkin juga Anda) untuk bersikap adil dalam memahami persoalan, cek dan ricek, bernalar, menghibur, dengan cara penyampaian yang satir ataupun sarkasme sekalipun. Tak jarang membaca kolom komentar di bawah artikel Mojok terasa lebih menggelikan ketimbang membaca isi artikelnya.

Selamat kepada para penulis Mojok yang karya-karyanya dipilih dan dimuat ke dalam buku ini. Buat para pembaca Mojok, buku ini layak dikoleksi karena setahu saya tidak banyak media alternatif yang memberikan penghargaan untuk karya-karya terpilih agar dibukukan. Buat Anda yang tertarik untuk menulis di Mojok ataupun mereka yang pernah menulis tapi belum layak, buku ini juga bisa dijadikan acuan agar tulisan-tulisan Anda diterima oleh editor Mojok.

Tabique.

 

Beberapa testimoni tentang Mojok.Co: