Stori

Dari Gemerlap Economics Jazz Bersama Saksofonis Dave Koz

Panggung masih gelap ketika Choky selesai memberikan jeda pengantar untuk penampil selanjutnya. Beberapa pemain band tampak mendekati alat musik masing-masing. Tak lama kemudian, gemuruh tepuk tangan dan teriakan penonton menggema di sepenjuru ruangan. Lampu-lampu mulai menyala. Dave Koz berjalan dari balik panggung sambil memegang saksofon. Sebuah lagu yang tidak asing bagi penonton lamat-lamat mulai terdengar.

Lagu berjudul “Manusia Bodoh”, single yang pernah dipopulerkan oleh Ada Band itu, menjadi pembuka penampilan Dave Koz dalam rangkaian acara Economics Jazz malam itu. Kali itu bukan kali yang pertama Dave Koz memainkan lagu “Manusia Bodoh”. Saat tampil di Jakarta Jazz Festival 2012 lalu, Dave Koz sudah membawakan lagu itu untuk menyapa penggemarnya di Indonesia.

Dave menjadi headliner Economics Jazz 2015, setelah sebelumnya ada Tohpati bersama Dewa Budjana serta Marcell yang memeriahkan panggung terlebih dahulu. Musisi jazz beraksentuasi pop (smooth jazz) asal Los Angeles itu memainkan lagu-lagu terbaiknya, termasuk “Castle of Dreams”, “And Then I Knew”,  ‘Together Again”. dan lain-lain. Ia juga memainkan lagu “Keliru”, lagu lawas yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi pop Indonesia, Ruth Sahanaya. Sebegitu populernya lagu itu, tak mampu membendung penonton di Grha Sabha Pramana (GSP) untuk melakukan sing along.

Salah satu aksi panggung Dave Koz
Salah satu aksi panggung Dave Koz

Kelompok musik yang mengiringi penampilan Dave Koz malam itu termasuk pemain gitar, bass, drum, dan keyboards. Dalam satu kali penampilannya, Dave Koz melepaskan salah satu tangannya agar bisa bergerak bebas mengikuti irama. Sementara tangan lainnya menahan kunci-kunci (keys) pada saksofon. Di kesempatan yang lain, ia bersama pemain gitar dan bass-nya membentuk formasi yang seirama dan serasi. Mereka berdiri sejajar menari-nari, menggoyangkan badan, sambil memainkan alat musiknya masing-masing. Koz tidak hanya menggunakan satu jenis saksofon alto, tetapi juga menggunakan saksofon jenis soprano dan tenor.

Selain Dave Koz, bintang tamu lain yang turut mengisi penampilannya malam itu adalah Michael Paulo. Michael Paulo dikenal sebagai seorang saksofonis serbaguna dan kosmopolitan dalam genre pop, soul, dan jazz selama hampir 20 tahun terakhir. Ia sering mengisi bagian saksofon untuk musisi-musisi kenamaan lain, seperti Al Jarreau, James Ingram, Oleta Adams, Kenny Loggins, Patti Austin, Jeffrey Osborne, Jeff Lorber, David Benoit, Carl Anderson, Bobby Caldwell, Johnny Mathis, dan lain-lain.

Michael Paulo yang sempat sakit setibanya di Indonesia, malam itu bersikukuh untuk tetap tampil di panggung Economics Jazz. Dua lagu panjang ia mainkan secara duet bersama Dave Koz. Perpaduan dua saksofonis yang tampil memukau. Koz-Paulo berakrobat dengan saksofon masing-masing, bersahut-sahutan, dan saling mengisi bagian satu dengan yang lain.

Kunjungan Dave Koz ke Indonesia kali itu merupakan lawatan terakhir dalam rangkaian maraton tur konsernya sebelum kembali ke Los Angeles. Sebelumnya, Koz dan rombongan menghadiri rangkaian tur tiga minggu di Jepang dan China. Repertoar yang disampaikan Dave Koz di jeda antarlagu, sesekali diimbuhi pesan-pesan dalam Bahasa Indonesia yang membuat penonton riuh. Terutama ketika ia mengatakan “Aku cinta Indonesia” dengan logat Amerika-nya.

Tohpati, Dewa Budjana, dan Marcell

Tohpati dan Dewa Budjana malam itu tampil dalam satu paket. Keduanya menjadi pembuka rangkaian acara Economics Jazz yang dimulai pukul 19.30 WIB. Keduanya, yang juga pernah tergabung dalam Trisum bersama Balawan, dikenal sebagai pemain gitar yang gaya permainannya kalem saat tampil di depan publik. Kontras dengan jemarinya yang lincah ketika memetik senar gitar yang aduhai didengar dalam format akustik.

Lagu-lagu seperti “Kromatik Lagi”, “Caka”, dan “Lukisan Pagi”, menjadi beberapa sajian instrumental duo gitaris terbaik Indonesia malam itu. Tak lupa, lagu “Dan” milik Sheila on 7 juga dibawakan menjelang akhir penampilannya. Selain menggunakan gitar akustik, Tohpati dan Budjana juga sempat tampil dengan memainkan gitar elektrik.

Setelah Tohpati dan Budjana menyempurnakan penampilannya malam itu, gantian penyanyi solo pop Marcell Siahaan yang maju ke depan panggung. Marcell, yang juga tergabung dalam grup rock Konspirasi sebagai drummer, membawa banyak pemain musik malam itu. Setidaknya terdapat pemain gitar, bas, drum, tiga pemain saksofon, dan tiga backing vocal. Sing along dalam penampilan Marcell malam itu terjadi saat memainkan lagu hits “Firasat”. Menariknya, Marcell juga membawakan lagu “Tolong Bu Dokter”, lagu milik band rock The Flowers, dalam format pop.

Sangat disayangkan, kondisi sound saat penampilan Tohpati & Dewa Budjana, juga Marcell tidak maksimal. Sound system terdengar tidak seimbang. Setidaknya itu yang saya rasakan dari tempat saya duduk di bagian tribun atas, pojok sebelah timur. Bagian yang paling mengganggu adalah saat penampilan Marcell di atas panggung. Suara Marcell seringkali sulit didengarkan artikulasinya. Berbeda halnya ketika Dave Koz melangsungkan penampilannya. Suara saksofon terdengar lebih mendominasi dan nyaman dicerna oleh telinga.

Akhir Economics Jazz Ke-20

Gedung GSP sebelumnya telah sering dijadikan venue Economics Jazz. Gedung yang biasa digunakan untuk acara wisuda itu bisa menampung ribuan manusia. Baru kali itu saya menyaksikan sebuah konser indoor di dalam tribun yang semua penontonnya diberi tempat duduk. Pikir saya, menonton di dalam ruangan akan terasa lebih nyaman ketimbang menonton konser outdoor. Ternyata sama saja. Di dalam ruangan terasa gerah. Hanya ada kipas angin yang jumlahnya tidak banyak.

Suasana penonton Economics Jazz 2015
Suasana penonton Economics Jazz 2015

Selain perkara sound system, saya sempat mengamati dan melihat dua orang penonton yang mencoba komplain ke panitia. Pertama, komplain seorang pemuda lelaki yang merasa sorot lampu yang diarahkan kepadanya terlalu lama sehingga membuat mata silau. Kedua, komplain seorang ibu paruh baya yang merasa kegerahan menyaksikan konser di bagian paling atas tribun, sementara kipas angin yang ada di bawah tidak bergerak ke segala penjuru. Semoga hal-hal ini bisa menjadi pelajaran penting panitia Economics Jazz dalam hal tata letak, suara, dan panggung pada event-event selanjutnya.

Tiket ludes dua minggu sebelum hari H dengan jumlah penonton kurang lebih mencapai 3000-an. Baliho Economics Jazz yang terpampang di depan gapura selamat datang UGM tampak sudah dilabeli ‘SOLD OUT’. Animo masyarakat kelas menengah ke atas di Jogja tentang gelaran Economics Jazz yang diadakan hampir setiap tahun sepertinya sudah menyimpan kesan tersendiri. Kesan musik jazz yang eksklusif masih ada tetapi tidak semahal di kota besar seperti di Jakarta.

Durasi keseluruhan Economics Jazz yang hampir 4 jam itu cukup memuaskan untuk harga tiket yang dipatok dari harga 100.000 hingga 400.000, yang terbagi dalam beberapa kelas. Choky Sitohang yang dipilih sebagai MC juga pilihan yang tepat. Ia membawakan acara dengan baik layaknya memandu sebuah kontes pencarian bakat di televisi.

Malam itu juga dihadiri beberapa petinggi sponsor acara. Tony Prasentiantono, penggagas gelaran Economics Jazz selama ini, sekaligus komisaris Bank Permata yang menjadi sponsor utama, juga hadir untuk memberikan sambutan. Tak ketinggalan, rektor UGM, Dwikorita Karnawati, juga memberikan pengantar-pengantar yang sifatnya cenderung normatif dan terlalu akademis.

Gelaran Economics Jazz tahun ini adalah gelaran Economics Jazz yang ke-20 sejak pertama kali digelar pada tahun 1987. Beberapa tahun terakhir telah sukses menghadirkan musisi jazz kelas dunia seperti David Benoit (2012), Casiopea (2013), dan Lee Ritenour bersama Phil Perry (2014). Kabarnya, Economics Jazz tahun 2015 akan berlangsung dua kali. Selanjutnya akan diadakan sekitar bulan Oktober 2015 dalam rangka ulang tahun FEB UGM dengan mengundang lagi Casiopea.

Bentuk tiket Economics Jazz 2015
Bentuk tiket Economics Jazz 2015

Penampilan Dave Koz ditutup dengan lagu “You Make Me Smile”. Lagu populer yang ia ciptakan pada tahun 1993 dan masuk ke dalam salah satu albumnya, Lucky Man. Dave Koz, yang kini berusia 52 tahun, sudah menelurkan 18 album, menyematkan namanya ke salah satu jajaran musisi-musisi smooth jazz kelas dunia.

“We want more! We want more! We want more!”, sorak penonton. Mereka meminta Dave Koz untuk lanjut memainkan lagu tambahan sebagai penutup.

Akhirnya, track encore “All You Need is Love” dimainkan sebelum Dave Koz benar-benar mengakhiri aksi panggungnya malam itu. Lampu-lampu kembali dimatikan. Semua penonton menyalakan dan mengangkat gadget mereka sebagai bentuk suka cita, pengganti lilin-lilin dalam kegelapan. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 00.00 WIB. Economicz Jazz malam itu pun ditutup dengan anggun.