Stori

Yang Terlewatkan dari Sheila on 7

“Lagu ini dulu tercipta dari Eross. Jadi waktu itu Eross pernah suka sama seorang perempuan. Beberapa tahun kemudian mereka berdua bertemu lagi secara tidak sengaja. Eross bilang ‘dulu waktu kenal pertama kayaknya biasa aja, sekarang setelah menikah kok tambah cantik ya?’,” ujar Duta saat memberikan pengantar untuk lagu “Yang Terlewatkan”. Eross tampak sedikit tersipu malu sambil mulai memainkan gitarnya. Gitar berwarna cokelat muda yang tak lain adalah seri Fender Signature Eross Chandra. Dari gitar itulah suara-suara british ala SO7 keluar dari pengeras suara yang disaksikan oleh hampir seribuan penonton.

Sheila on 7 naik ke atas panggung sekitar pukul 22.30. “Selamat Datang” menjadi lagu pembuka yang dinyanyikan SO7. Lagu-lagu yang dibawakan malam itu sebagian diambil dari album terbaru SO7 bertajuk Musim yang Baik, seperti “Satu Langkah”, “Buka Mata Buka Telinga”, dan “Lapang Dada”. Beberapa lagu lama SO7 juga tidak luput mereka bawakan. Beberapa lagu dinyanyikan secara medley. Lagu-lagu lama yang masuk setlist termasuk “J.A.P. (Jadikan Aku Pacarmu)”, “Seberapa Pantas”, “Pemuja Rahasia”, dan “Radio”/”Kita”.

SO7
Sheila on 7 saat di atas panggung.

Malam itu Sheila On 7 tengah menjadi headliner rangkaian acara closing ceremony Artefac yang diselenggarakan oleh FE UNS untuk memperingati Dies Natalis UNS ke-39. Acara diadakan di Lapangan Mangkunegaran, Surakarta. Venue acara tersebut sempat mengalami dua kali pergantian. Awalnya acara akan dilangsungkan di Lapangan GOR UNS, kemudian diganti ke Lapangan Sriwedari. Menjelang hari-H, acara akhirnya dipindahkan ke Lapangan Mangkunegaran, Banjarsari.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30. Saya datang ketika Fisip Meraung mulai menguasai panggung. Dari namanya sudah menggambarkan bahwa mereka adalah band kampus yang suka berkoar-koar. Baru kali itu saya menyaksikan penampilan band tersebut.

Fisip Meraung termasuk band kampus UNS yang cukup populer di kancah indie/kampus. Band yang menurut saya justru absurd. Saya sulit menemukan genre yang pas untuk band ini. Mereka sendiri menyebutnya sebagai genre humourcore. Genre yang digunakan untuk menyebut band yang menyanyikan lirik-lirik jerat jerit yang direpetisi, berbahasa Jawa, dan durasi untuk tiap lagu tidak sampai dua menit! Penonton lebih banyak tertawa ketimbang menikmati musiknya. Tema lirik-lirik lagunya tak sarat makna, hanya untuk lelucon dan hiburan semata.

Fisip Meraung terdiri dari tiga personel ala band punk yang terdiri dari Taufiq Cahya Sudirman (gitar, vocal), Megananda Amek (bass, vocal), dan Athif Rasyid (drum). Dua personelnya, Taufik dan Amek, rajin mengeluarkan humor-humor Jawa yang segar di sela-sela pengantar lagu. Saya sendiri tercengang dengan judul-judul lagu yang mereka garap, misalnya “Gedhang Goreng”, “17+ Campursaru”, “Ngentasi Memean”, “Helmku Kesampar Sikil”, “Es Teh”, dan lain-lain. Jika Anda tertarik mendengarkan, bisa coba simak lagu-lagu mereka di sini. Belakangan saya baru tahu, mereka sudah menelurkan 10 album yang kebanyakan bisa diunduh secara cuma-cuma.

Lagu berjudul “Balen”–dalam bahasa Indonesia berarti ‘balikan’, untuk menyebut pasangan yang telah kandas kemudian kembali lagi–menjadi lagu pamungkas. Sudah tidak asing bagi penonton untuk sing-a-long di bagian ini. Nomor yang dimainkan secara akustik dan berirama patah hati. Dengan mengajak satu penonton naik ke atas panggung, Fisip Meraung setidaknya telah berhasil meninggalkan kesan baik malam itu.

MC gantian naik ke atas panggung untuk menyapa penonton Artefac. Tak lama kemudian Payung Teduh yang digawangi oleh Is (vocal & guitar), Comi (contrabass), Cito (drum) dan Ivan (guitalele), membuka penampilannya dengan lagu “Kucari Kamu”. Payung Teduh menyapa penggemarnya dengan gaya khasnya: teduh dan hangat. Seperti halnya Fisip Meraung, Payung Teduh juga berawal dari komunitas kampus, tepatnya kampus FIB Universitas Indonesia.

Solo malam itu terasa mengalir. Ada semacam ikatan genre yang menjadi irisan genre musik Payung Teduh dengan kota yang melahirkan musik keroncong seperti “Bengawan Solo”, ciptaan Gesang. Di beberapa warung makan yang pernah saya singgahi di Kota Surakarta, masih banyak dijumpai musisi-musisi jalanan yang lihai memainkan langgam keroncongan. Kelompok mereka biasanya ditandai dengan permainan alat musik gitar, ukulele, dan contrabass.

Payung Teduh memainkan beberapa lagu yang menjadi andalannya, seperti “Untuk Perempuan yang Sedang di Dalam Pelukan”, “Resah”, “Rahasia”, “Angin Pujaan Hujan”, “Menuju Senja”, dan “Berdua Saja”.

Sepasang muda mudi yang berdiri di samping kiri saya tampak meresapi setiap nada dan lagu Payung Teduh. Mulutnya menari-nari. Menirukan vokalis Is melantunkan lagu-lagu melodramatisnya. Sesekali tubuhnya ikut bergoyang-goyang kecil sambil mengikuti irama ukulele. Penampilan Payung Teduh purna, ditutup dengan lagu “Tidurlah”.

***

Terlepas dari hal-hal yang di luar pakem, termasuk beberapa kali pergantian venue dan sedianya akan menyediakan kelas tribun penonton, penampilan Payung Teduh dan Sheila on 7 tidaklah mengecewakan. Dengan tiket masuk seharga 35.000 dan 50.000 (OTS), banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berbondong-bondong hadir malam itu.

Sound system yang digunakan juga tidak buruk. Setidaknya saya masih bisa mendengarkan konser dengan nyaman dari jarak 50 meter di depan panggung. Di bagian lain, atmosfer penonton tidak terlalu beringas. Selain karena penampilnya yang bukan bergenre rock, gerombolan penonton yang hadir juga rasanya bukan tipe penonton yang gemar menyaksikan konser.

Di sepanjang hari itu, Kota Solo tampak cerah. Barisan lampion yang diterbangkan panitia Artefac di tengah acara telah cukup menghias langit menjadi berwarna. Ini adalah kali kedua saya menyaksikan langsung konser Sheila on 7. Kebetulan keduanya diselenggarakan oleh event organizer kampus.

Sheila on 7 menutup perjumpaannya dengan lagu lawas “Melompat Lebih Tinggi”. Sebuah nomor asik dan menghentak yang seringkali dipilih tim belakang panggung SO7 untuk mengakhiri sebuah konser. Sekaligus mengingatkan saya pada soundtrack film “30 Hari Mencari Cinta” yang keluar tahun 2003. Yang terlewatkan, dua belas tahun yang lalu…

Kupetik bintang, untuk kau simpan
Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan
Sebagai pengingat teman
Juga s’bagai jawaban
Semua tantangan…