Teropong

Delapan Belas dan Hari-Hari Menjelang Sidang

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.10. Jika sesuai rencana, maka sidang akan dimulai tepat pada pukul 14.15. Saya bergegas menuju ke ruang sidang di lantai 2, ruang RPL.

“Mas, belum selesai, di dalam masih ada orang,” seseorang menegur saya ketika saya sudah terlanjur membuka pintu. Di dalam ruangan itu ternyata masih berlangsung sidang yang lain. Saya menunggu sekitar 10 menit lagi sebelum dosen-dosen penguji dan pembimbing berganti ke sesi selanjutnya.

Hari itu adalah hari Senin, 2 Maret 2015. Saya sudah dua kali menerima informasi revisi pergantian jadwal. Di jadwal yang pertama kali dikeluarkan, saya seharusnya sidang di hari Kamis sebelumnya. Sedangkan di jadwal revisi–yang dikirim lewat pesan singkat, seharusnya saya sidang di hari Kamis yang akan datang. Untungnya pemberitahuan pergantian jadwal sidang yang dimajukan itu dilakukan tiga hari sebelumnya. Saya lega. Setidaknya saya tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk sidang.

Hari Minggu, tepat sehari sebelum sidang, saya sempatkan datang ke lab hingga malam hari. Saya memastikan semuanya telah siap. Slide presentasi utama, slide presentasi cadangan, naskah, dan video demo saya masukkan ke dalam sebuah folder yang mudah diakses.

Prosesi sidang berjalan. Sesekali gugup. Di hari itu saya diuji oleh empat orang. Dua dosen pembimbing dan dua dosen penguji. Kebetulan mereka termasuk dalam dosen-dosen muda yang masih berumuran sekitar 30 hingga 40-an tahun. Salah tiga dari empat dosen sudah bergelar doktor. Beliau-beliau adalah lulusan dari beragam negara, ada yang lulus dari dalam negeri, Eropa, Singapura, juga Jepang. Dua dosen penguji dipilih karena bidang yang digeluti cukup mendekati topik penelitian tesis yang saya kerjakan.

Saya hampir mengakhiri slide terakhir di bagian kesimpulan. Waktu yang terlihat di jendela laptop sudah menunjukkan durasi 13 menit. Detik terus bergerak. Pertanda bahwa waktu yang saya gunakan sudah cukup tepat waktu. Kini giliran saya memutarkan video demo aplikasi yang berlangsung selama dua menit. Presentasi pun selesai. Tepat waktu.

Saya belajar dari pengalaman saat sidang pra pendadaran yang terlalu banyak memakan waktu presentasi. Sehingga saat sidang tesis saya bisa menyusun strategi agar tidak menghabiskan waktu presentasi yang maksimal hanya 15 menit. Di sesi sidang, saya juga menyiapkan sebuah video demo aplikasi. Saya memangkas beberapa slide sidang pra dan memperbaiki beberapa bagian.

Pikiran mencoba rileks, tenang, dan fokus. Tanya jawab pun berlangsung begitu saja.

“Menarik. Saya kira ini adalah salah satu topik yang menarik di bidang AR,” penguji pertama membuka sesi tanya jawab dengan memberikan sambutan singkat. Saya sedikit lega. Di detik-detik selanjutnya, saya lebih banyak bersikap pasif. Jika ada pertanyaan, barulah saya mencoba menjawabnya dengan jitu. Waktu empat puluh menit untuk sebuah sidang akhir terasa begitu cepat.

Saya termasuk orang yang tidak gampang puas dengan apa yang pernah saya kerjakan. Selalu saja ada kurangnya. Dan saya selalu ingin segera memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut. Masukan-masukan dari dosen penguji dan pembimbing tentulah sangat berharga. Selalu ada saja hal-hal yang perlu direvisi meskipun kita sudah teguh, sudah berusaha mengerjakannya sebaik mungkin.

Hari ini kebetulan adalah hari ulang tahun saya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bulan Maret menjadi lebih berkesan. Ucapan-ucapan. Harapan-harapan. Mimpi dan kenyataan. Semua mengalir di setiap hembusan nafas.

Di pagi ini, secangkir kopi robusta terasa begitu nikmat. Saya tahu, revisi naskah dan perihal kelulusan masih harus dituntaskan.