Ragam

Di Balik Kesempatan Kedua

Second Chance, album kedua NOAH setelah Seperti Seharusnya akhirnya dirilis pada bulan Januari 2015. Album yang sudah lama sekali digembar gemborkan bakal rilis pada akhir tahun 2014 ternyata molor. Pihak Musica, selaku produser album-album NOAH, berencana merilis beberapa lagu baru, sedangkan sisanya diisi dengan lagu-lagu lama Peterpan yang diaransemen ulang. Setidaknya akan ada 4 seri album NOAH di tahun 2015 dengan masing-masing 10-12 lagu untuk tiap album.

Album Second Chance sendiri memuat 12 lagu dengan komposisi 3 lagu baru dan 9 lagu lama Peterpan (sebelum berganti nama menjadi NOAH). Tiga lagu baru tersebut adalah “Hero”, “Seperti Kemarin”, dan “Suara Pikiranku”. Steve Lillywhite, sengaja dihadirkan oleh pihak Musica untuk secara khusus menjadi produser rekaman untuk ketiga lagu tersebut. Steve adalah produser kenamaan asal Inggris yang sudah terbiasa menggarap album-album milik U2, The Rolling Stones, Sigur Ros, Beady Eye, The Killers, dan lain-lain.

Hero merupakan single pertama NOAH yang ditulis dalam lirik berbahasa Inggris sudah mulai diperkenalkan pada tahun 2014 lalu, kemudian disusul single kedua Seperti Kemarin. Single “Hero” sebenarnya lagu lama Peterpan yang dulu sempat dinyanyikan secara akustik saat melawat ke sebuah kafe di London pada tahun 2008 lalu. Hero versi album Second Chance terdengar begitu mewah secara aransemen. Begitu juga dengan dua lagu baru lainnya.

Jika melihat kilas balik karya-karya Peterpan, secara lirik NOAH tidak menunjukkan perkembangan. Gaya khas Ariel saat menulis lirik di ketiga lagu baru tidak muncul di album ini. Mengingat lirik “Hero” ditulis oleh Giring Nidji. Sedangkan lirik “Seperti Kemarin” ditulis oleh Dewi Lestari. Dari ketiga lagu baru NOAH, secara aransemen saya paling suka lagu “Suara Pikiranku”. Meskipun secara lirik lagu ini terdengar cukup kelam. Bercerita tentang sebuah perasaan yang sulit diungkapkan dalam sebuah hubungan.

Sembilan lagu lain yang termasuk dalam album Second Chance yaitu “Langit Tak Mendengar”, “Dilema Besar”, “Membebaniku”, “Menunggu Pagi”, “Menunggumu”, “Walau Habis Terang”, “Dara”, “Tak Ada yang Abadi”, dan “Menunggumu”. “Langit Tak Mendengar”, “Dilema Besar”, dan “Membebaniku” adalah lagu-lagu favorit saya. Bagi saya, mendengar ketiganya seperti mendapat nafas baru karena hasil aransemen lebih tampak berbeda dibanding lagu yang lain, terutama di bagian intro lagu. Suara gitar akustik di lagu “Menunggu Pagi” dan “Dara” juga terdengar semakin renyah.

Saya rasa, usaha NOAH dalam memperbaharui beberapa instrumen adalah cara yang masuk akal untuk memperkenalkan lagu-lagu lama Peterpan kepada penggemar baru NOAH. Masuknya David sebagai pengisi keyboard yang khas juga menambah kekayaan lagu-lagu NOAH di album Second Chance.

Keluarnya Reza, sang drummer baru-baru ini tentu akan menjadi momok untuk perjalanan NOAH selanjutnya. NOAH tak lagi digawangi seorang drummer yang cukup memiliki karakter bagi lagu-lagu NOAH.

Wawancara NOAH dengan Majalah Rolling Stone Indonesia edisi Januari 2015 memberikan angin segar. Kabarnya lagu fenomenal “Mimpi yang Sempurna” akan diaransemen menjadi tidak sesederhana dulu. Selain itu, lagu “Satu Hati”, salah satu lagu di album Taman Langit, juga termasuk dari 40an lagu Peterpan yang bakal diaransemen ulang oleh NOAH.

Mendengarkan Second Chance seperti kembali menikmati lagu-lagu lama Peterpan dengan iringan yang lebih fresh. Saya masih menunggu karya-karya NOAH selanjutnya di tahun ini…