Stori

Menikmati Hip Hop Berbahasa Jawa

Saya, mungkin juga Anda, mengenal JHF (Jogja Hip Hop Foundation) pertama kali ketika mendengar lagu “Cicak Nguntal Boyo”. Lagu itu dirilis tahun 2009 ketika terjadi cek cok antara KPK dan Mabes Polri. Sebuah lagu yang berisi kritik untuk dua lembaga yang seharusnya bisa menjadi penegak hukum dan melindungi rakyat, bukan malah saling melempar batu.

Ana cicak nguntal boyo
Boyo coklat nyekel godo
Ojo seneng nguntal negoro
Mundak rakyatmu dadi sengsoro
(Cicak Nguntal Boyo)

Beranjak dari situ, JHF kemudian merilis single-single yang sangat kultural bertajuk “Jogja Istimewa”, “Song of Sabdatama”, kemudian “Jogja Ora Didol”. Lagu-lagu tersebut telah terbukti menjadi sebuah kebanggaan untuk masyarakat Jogja. Menyanyikan lagu itu mengingatkan mereka tentang Jogja yang adiluhung, Jogja yang mempunyai ciri khas, pun Jogja yang menyimpan banyak tradisi. Sebuah lagu yang seringkali dinyanyikan di perhelatan akbar yang membawa spirit Yogyakarta.

Lirik-lirik JHF yang berbahasa Jawa, seringkali mengutip syair-syair dan puisi dari beberapa sastrawan dan kitab kuno. Mereka menggarapnya dengan gaya ‘jula juli’, syair yang dilagukan ketika pertunjukan ludruk dimulai. Di banyak lagunya, mereka juga mengandalkan parikan-parikan Jawa yang dikemas dengan kreatif, kritis, dan terkadang nakal.

JHF sendiri memang mengakui bahwa mereka menciptakan sebuah lagu karena sebuah peristiwa. JHF bukan unit hip hop yang gemar merilis album. Album yang baru-baru ini dirilis Semar Mesem Romo Mendem: The Book of Sindhunata merupakan sebuah kompilasi lagu-lagu yang pernah dibawakan oleh JHF selama kurun waktu 2006-2013. Antologi yang didalamnya memuat syair-syair Romo Sindhu yang dilagukan oleh JHF dalam irama hip hop.

Ada 14 lagu dalam album tersebut. Sebagian besar karyanya sudah sering dibawakan di pentas-pentas JHF. Sebagian lainnya tercipta dari hajatan Poetry Battle yang diselenggarakan oleh JHF tahun 2006 dan 2009. Poetry Battle adalah acara yang menantang para pesertanya untuk membuat bit-bit hip hop Jawa dengan konten yang diambil dari puisi-puisi Indonesia. Diambil dari karya-karya yang surut di tengah-tengah gempuran budaya-budaya Barat.

Beberapa kali saya mendengarkan lantunan lagu-lagu di album Semar Mesem Romo Mendem, banyak pelajaran yang bisa diambil saripatinya. Dalam kebiasaan masyarakat Jawa, nilai-nilai itu begitu luhur. Nilai-nilai tentang laku kehidupan, kekuasaan, dan manusia yang bersahaja. Lagu “Ngelmu Pring” misalnya, mengajarkan tentang sebegitu banyaknya manfaat tanaman bambu. Manusia diibaratkan seperti bambu, bisa menebarkan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain. Lagu-lagu lain yang mengajarkan tentang kehidupan bisa ditemukan juga dalam “Ngelmu Petruk”, “Sembah Raga”, dan “Suwukan Jaran Kepang”.

“Jula Juli Lolipop” adalah sebuah kritik terhadap orang-orang yang menjual karya tetapi minim kreativitas. Ada juga lagu berjudul “Jula Juli K-Pop” yang berisi kritik terhadap generasi yang lupa akan budayanya sendiri. Generasi yang mudah dipengaruhi oleh budaya negara lain dan mencak-mencak ketika budaya di negaranya sendiri dicuri oleh negara lain. Kritik-kritik lainnya juga dijumpai dalam track “Ora Cucul Ora Ngebul”, “Jula Juli Jaman Edan”, dan “Jula Juli Guru”,

Ngemut permen permen lolipop
Bunder tur gepeng rasane legi
Kepengen beken, pengen dadi ngetop
Karyane laris tur senine mati
(Jula Juli Lolipop)

Selain bertemakan pelajaran hidup dan kritik sosial, di album ini juga memuat lirik-lirik yang bertema nakal, kocak, dan jenaka. Lagu-lagu tersebut dapat didengarkan dalam “Cintaku Sepahit Topi Miring”, “Tulkiyem Ayu”,  dan “Rep Kedhep”. Seperti misalnya pada sebuah lagu yang dilaras melalui sebuah puisi, yang mengisahkan sosok Ranto Gudel di lagu “Cintaku Sepahit Topi Miring”. Mbah Ranto dalam lagu ini dikisahkan sebagai seorang pelawak, peminum, yang akhirnya menyadari kehidupannya yang sia-sia.

Sengkuni ledha-ledhe,
mimpin baris ngarep dhewe.
eh barisane menggok,
Sengkunine malah ndeprok
(Cintaku Sepahit Topi Miring)

Beberapa aransemen lagu di album ini juga terdengar menggunakan alat musik tradisional gamelan. Di beberapa lagu saya mendengar suara-suara gong. Atau pada saat memutar lagu “Suwukan Jaran Kepang”, saya mendengar bebunyian yang menggambarkan seekor kuda pedati yang sedang berlari.

Saya menikmati membaca pengantar Kill The DJ di bagian awal buku album tersebut yang berjudul Setiap Kata Mempunyai Nyawa. Saya jadi ingat saat menjumpai pengamen-pengamen di dalam bus kota yang terkadang menyanyikan lagu-lagu cengeng dan meminta belas kasihan. Namun, jika kita anggap cengeng adalah soal selera, maka siapa yang tidak berusaha peduli dengan lirik-liriknya. Barangkali kata-kata dalam lirik itulah yang membentuk nyawa sebuah lagu. Lagu bukan hanya bisa dinikmati lewat selera, tetapi dengan mencerap lirik-liriknya kita seringkali diingatkan pada sesuatu hal.

Musik hip hop tak hanya melulu didengarkan dalam dunia malam dan musik elektronik (DJ). Tak selalu mempunyai lirik-lirik yang berbahasa asing dan menggunakan bit-bit modern. Album ini setidaknya telah membuktikan bahwa musik hip hop bisa dikawinkan dengan karya sastra yang mempunyai nilai kearifan lokal.