Uncategorized

Rak, Buku, dan Hadiah

“Wow, rakmu penuh, banyak sekali buku-bukumu,” kata seorang teman ketika suatu kali berkunjung ke kos.

Tanggapan itu bukan yang pertama. Sebelumnya, beberapa orang teman yang baru pertama kali mengunjungi kos-kosan saya juga mengatakan demikian. Buku-buku yang tersusun rapi dalam sebuah ruang kecil berukuran 3×3 itu ternyata menarik banyak orang.

Rak buku itu adalah rak buku yang saya desain sendiri tujuh tahun yang lalu, ketika masih awal-awal tinggal di Jogja. Selain memang difungsikan untuk rak buku, rak tersebut saya pikir juga bisa digunakan untuk meletakkan benda-benda yang lain. Maklum, ketika itu kos saya hanya dimodali dengan meja dan kursi.  

Saya merancang rak itu dengan ukuran panjang x lebar: 2m x 2m. Kemudian saya bagi secara horizontal membentuk empat bagian sambil diukur lebar antar bagiannya. Di bagian belakang rak itu nantinya tembus pandang, bersisian dengan dinding tembok yang berwarna hijau. Saya gambar rancangan itu di atas selembar kertas. Siap untuk dibawa ke tukang kayu dekat kos.

Pak Mogok, adalah nama panggilan tukang kayu yang saya temui di rumahnya. Konon alasan ia dipanggil ‘mogok’ adalah karena ia sering terlambat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya.

Ketika saya datang, di halaman rumahnya terhampar hasil pekerjaannya merakit kayu menjadi berbagai rupa seperti meja, kursi, lemari, pintu, jendela, dan lain-lain. Saya serahkan desain yang saya rancang, lalu membicarakan jenis kayu yang akan digunakan dan soal harga. Begitu semuanya deal, saya segera berpamitan dan mengingatkannya agar bisa selesai tepat waktu. Saya juga memintanya untuk mengantar rak tersebut langsung ke kos jika sudah jadi.

Dua minggu kemudian, rak itu akhirnya tiba di kos. Saya harus berterimakasih kepada Pak Mogok. Rak itu masih kokoh berdiri hingga sekarang.

Semakin bertambah hari, rak itu semakin dipenuhi oleh buku-buku dan benda-benda. Buku-buku yang ada di rak itu terdiri dari beragam bentuk. Ada buku-buku kuliah, laporan-laporan praktikum, majalah, novel, dan buku-buku umum. Saat masih kuliah S1, buku-buku kuliah masih mendominasi isi rak buku.

Mahasiswa di awal-awal kuliah biasanya masih rajin belajar melalui buku dan modul. Apalagi bagi yang kuliah di jurusan teknik seperti saya. Keseharian selalu dipenuhi dengan kertas-kertas tugas dan laporan, baik yang dicetak digital maupun ditulis tangan. Sebagai arsip pribadi, saya juga terbiasa menyimpan salinan-salinan tersebut.

Buku Google Story mungkin adalah buku non kuliah pertama yang saya beli di sebuah pameran buku. Sejak saat itulah saya jadi tertarik untuk membaca lebih banyak buku. Maklum, di kota tempat saya dibesarkan, tidak banyak toko-toko yang menjual buku seperti novel, biografi, cerpen, dll. Toko-toko itu lebih banyak menjual buku-buku pelajaran sekolah.

Kuliah di Jogja bagi saya adalah sebuah keberuntungan. Disini banyak tersebar toko-toko buku. Toko-toko yang tak pernah kering dengan kehadiran buku-buku rilisan terkini.  Saya lebih mudah untuk mencari buku-buku yang saya sukai. Buku-buku yang membuat saya penasaran dengan isinya.

Saya bukan tipe pembaca buku yang lahap. Untuk membaca tuntas sebuah buku, saya bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan. Pada saat yang bersamaan, saya terkadang juga membaca buku-buku yang lain jika ada yang menarik. Buku-buku itu seringkali saya baca menjelang tidur malam. [su_pullquote align=”right”]Saya bukan tipe pembaca buku yang lahap. Untuk membaca tuntas sebuah buku, saya bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan. [/su_pullquote]

Akhir-akhir ini saya mulai cukup sering menghadiahi beberapa orang dekat saya dengan buku. Buku-buku yang saya berikan sebagai hadiah agar bisa disimpan dan berharap kelak akan dibaca. Dan saya baru menyadari sebuah perasaan yang tidak enak sekaligus mengkhawatirkan tentang nasib buku-buku itu.

Saya tidak pernah tahu dan mungkin tidak perlu tahu bagaimana nasib buku-buku itu. Saya tidak peduli jika buku-buku itu memang bukan buku yang mereka sukai. Bukan buku-buku yang membuat mereka agar gemar membaca. Namun, alangkah bahagianya saya,  jika suatu saat nanti mereka bisa memberikan kesan tersendiri setelah membaca buku-buku itu. Kemudian menceritakan semua itu untuk saya.