Uncategorized

Menyelamatkan Indonesia

Mengenal Jokowi tidak terlepas dari pengalaman saya bertemu dengan Jokowi. Saya masih ingat ketika Jokowi tiba-tiba hadir di tengah-tengah penonton Rock in Solo (RIS) 2013. Saya kebetulan ikut menonton acara itu. Yang tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang gubernur Jakarta menyempatkan hadir berjalan kaki memasuki venue dan ikut berkerumun diantara metalhead tanpa pengawalan yang ketat. Ia berjalan dan terus diikuti oleh pendukungnya untuk diwawancara dan meminta foto bareng. Saya pun dengan leluasa mudah untuk mengambil gambarnya. 

Jokowi hadir di Rock in Solo 2013
Jokowi hadir di Rock in Solo 2013

Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, dalam sebuah perbincangan di kedai kopi, saya diajak beberapa orang teman untuk mengobrol dan diskusi santai. Disana ada Mas Puthut, Mas Danu, dan juga Mas Randi. Kami membincangkan banyak hal saat itu. Kebetulan topik yang sedang populer adalah pengangkatan Jokowi sebagai gubernur Jakarta yang baru.

Kami merasakan bahwa Jokowi adalah sebuah fenomena baru di Indonesia. Ketika bangsa ini sedang krisis figur pemimpin yang dipercaya, Jokowi muncul sebagai sosok yang berbeda. Di balik badannya yang kecil dan kurus itu, ia mulai dielu-elukan rakyat melalui gayanya saat melakukan blusukan. Dengan blusukan itulah ia dekat dengan rakyat karena ia merasa bahwa ‘manusia harus dimanusiakan’.

Memang jika boleh jujur, tidak ada yang spesial dan hebat dari seorang Jokowi. Dengan latar belakang sebagai pengusaha kayu lulusan Fakultas Kehutanan UGM, ia hanyalah orang yang hadir membawa angin segar dalam style kepemimpinan yang berbeda dari figur pemimpin yang lain, terutama di Indonesia. Karakter kepemimpinan Jokowi telah berhasil mengambil hati rakyat. Bukan hanya rakyat Surakarta (Jokowi pernah menang telak di pemilihan walikota yg kedua kalinya hingga 90%), tetapi juga rakyat Jakarta.

Hingga pada akhirnya kami berempat sepakat untuk membuat sebuah platform kerelawanan: Jokowi Center. Inisiatif tersebut lahir karena kami pikir Jokowilah sosok ideal yang bisa sebenarnya dijadikan teladan orang lain sebagai figur pemimpin yang sedang dibutuhkan bangsa ini. Melalui wadah ini kami tidak hanya sekadar menjadi pendukung Jokowi, tetapi juga sebagai sayap nonformal yang akan mengkritisi kebijakan-kebijakan Jokowi jika kelak ia terpilih sebagai presiden.

Dengan adanya situsweb Jokowi Center, masyarakat dapat dengan mudah menemukan berita dan informasi tentang Jokowi. Kami juga berharap dengan hadirnya situsweb tersebut melahirkan partisipasi langsung dari pembaca untuk ikut menulis ide, pendapat, dan kritik terhadap kerja-kerja dan kebijakan Jokowi. Sampai saat ini Jokowi Center sudah melakukan beberapa kegiatan. Selain mengelola dan melakukan pembaharuan konten situsweb, kami juga sering melakukan diskusi, review buku-buku Jokowi, membuat buku Jokowi, mengelola akun Twitter @Jokowi_Ina, dan yang terbaru adalah meluncurkan Radio Jokowi.

Jokowi untuk Indonesia

Seperti layaknya karyawan dalam sebuah perusahaan. Karyawan yang bekerja dengan baik dan memiliki prestasi unggul, ia akan dipilih atasannya until naik pangkat. Sama halnya dengan Jokowi. Pengalamannya sebagai walikota Surakarta selama dua periode dan gubernur Jakarta, serta hasil-hasil kerjanya yang bisa diapresiasi, rasanya Jokowi pantas untuk naik level. Bu Mega dengan mudah memilih figur Jokowi. Ia adalah salah satu figur capres yang bukan berasal dari petinggi partai.

Jika ada masyarakat Indonesia yang masih ragu dengan Jokowi karena beliau tidak amanah menjalankan janjinya untuk memimpin Jakarta selama 5 tahun, mereka harus kembali berpikir sejenak: apakah yang membutuhkan Jokowi hanya masyarakat Jakarta? Bagaimana jika rakyat di seluruh penjuru Indonesia membutuhkan pemimpin seperti beliau? Siapa yang harus diutamakan? Rakyat harus memilih pemimpin yang tepat. Rakyat sudah lelah memilih capres yang hanya mengumbar janji. Rakyat harus memilih sosok yang memiliki banyak pengalaman dan teruji. Paling tidak, Jokowi selama ini dikenal sebagai figur yang sederhana, peduli dengan warganya, mau bekerja, serta transparan dalam pemerintahan.

Soal Jokowi adalah boneka PDIP, itu adalah soal lain. Politik selalu penuh negosiasi. Kita tidak bisa melawan aturan bahwa untuk nyapres, seseorang harus menunggangi sebuah parpol. Ini juga bukan berarti bahwa PDIP (yang memperoleh suara terbanyak pada Pemilu 2014) adalah partai yang lebih baik dari partai-partai lainnya. Memenangkan sebuah pertarungan politik memerlukan strategi yang jitu dan basis yang kuat.

Bersama kawan-kawan relawan di Radio Jokoei
Bersama kawan-kawan relawan di Radio Jokoei

Relawan Jokowi adalah relawan organik. Mereka adalah orang-orang yang sadar dan sudah bosan dengan pemimpin-pemimpin yang begitu-begitu saja. Saya menyaksikan sendiri ketika beberapa dari relawan-relawan itu — yang sebelumnya memilih untuk masuk golongan putih pada Pemilu 9 April — dengan mudah memberikan dukungan kepada Jokowi. Merekalah orang-orang yang masih punya kepercayaan tinggi kepada sosok (bukan partai) yang menawarkan kebaruan bagi Indonesia.

Dari dua kandidat capres, kita hanya diberikan pilihan yang dapat dipertaruhkan secara ‘head to head’ pada 9 Juli nanti. Saya tidak ingin Indonesia jatuh lagi ke tangan yang salah. Jatuh ke tangan orang yang pernah mencoreng demokrasi negara ini. Tidak ingin dipimpin orang yang haus kekuasaan tanpa bukti dan pengalaman. Tidak ingin Indonesia kembali ke zaman Orba yang membungkam kebebasan berpendapat dengan penculikan dan penghilangan. Saya memilih Jokowi untuk menyelamatkan Indonesia.