Uncategorized

Mengagumi Seorang Mayoret

Wahai pembaca, seberapa sering dirimu berimajinasi tentang memiliki sesuatu. Katakanlah memiliki seorang kekasih atau pacar misalnya. Dirimu pasti akan membayangkan sosok kekasih yang paling sempurna yang ada di dunia ini. Sosok yang bagimu unik dan tiada duanya. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga saat dirimu dan dirinya berpacaran dengan perasaan yang berlebih. Menghabiskan malam-malam panjang untuk memadu kasih.

Saat aku menulis cerita ini, entah kenapa aku ingin punya pacar seorang mayoret. Dalam bayanganku, ia adalah seorang wanita yang tangkas dan ulet. Senyumnya selalu lebar. Sama seperti yang ia pamerkan kepada para penonton dalam sebuah parade. Ia meliuk-liuk di jalanan. Berdiri paling depan sambil memberikan kode-kode tertentu kepada barisan drum band di belakangnya. Tubuhnya yang gemulai tentu ia dapatkan dari latihan-latihannya yang berat, juga tanggung jawab memiliki tubuh yang proporsional sebagai seorang mayoret.

Setiap hari Selasa dan Jumat sore aku akan mengantarkannya pergi latihan berbaris di sebuah lapangan dekat kampus. Helm di kepalaku masih terpasang dan aku turun dari sepeda motorku sambil menerima helm dari pacarku. Aku akan melepasnya dengan nada bicara yang demikian:

“Baik-baik ya sayang, tetap semangat latihannya. Sampai ketemu nanti.”

Pada sebuah sore, aku pernah menyaksikannya sedang latihan drum band bersama teman-temannya. Ia berjalan kesana-kemari dan memperagakan berbagai macam gerakan yang lincah. Ia memutar-mutarkan tongkat latihan sambil tersenyum. Sesekali ia mencuri pandang ke arahku. Aku akan membalasnya dengan senyum dan tatapan mataku yang tajam. Rasa berdesirku kembali memuncak.

Sore itu pacarku memakai kaus dan rok berwarna biru muda. Ia tampak cantik dari kejauhan dengan latar benda-benda pertunjukan yang berwarna-warni. Di sebelahnya ada segerombol wanita yang menggengam rumbai-rumbai. Sisanya yang lain, beberapa pria dan wanita sedang berlatih menabuh snare drum, meletup-letupkan bass drum, serta meniup terompet dan pianika. Tentu ada seorang yang lain yang memberikan aba-aba.

Di hari-hari yang lain, aku sering mengajaknya makan malam. Makan malam di restoran-restoran mewah. Membawanya pergi berkeliling kota. Jika hari hujan, aku akan mengajaknya berteduh di sembarang tempat. Tubuhnya pasti menggigil karena hujan. Jika hari terlalu panas, aku akan mengajaknya mampir ke sebuah warung es krim. Es krim yang akan membasahi bibir merahnya yang agak kering.

Kita akan saling menatap saat senja mulai tiba. Ketika purnama datang aku tak akan lupa memberitahunya:

“Sayang, keluarlah malam ini barang sebentar. Lihatlah ke langit. Ada sesuatu yang sayang sekali jika kau lewatkan. Beri kesanmu setelah melihatnya ya.”.

Tak lama berselang ia memberi kesan untuk bulan di malam itu. Ia memberitahuku melalui sebuah pesan:

“Sayang, malam ini cerah sekali. Bulannya begitu sempurna. Aku tadi melihatnya dengan bahagia. Anginnya semilir, mencoba menepis-nepis bahuku”.

Aku pernah memberikannya sebuah kejutan yang tak terduga. Hari itu hujan sedang datang deras sekali. Sementara pacarku baru saja pulang dari latihan fitness, kemudian mandi di kos. Selepas ia mencatok rambutnya yang panjang, ia kuminta turun dari kamar kosnya di lantai dua untuk membukakan pintu buatku. Jreng-jreng! Aku sudah berdiri di depan kosnya. Kubawakan dua bungkus bakso hangat yang akhirnya kami makan bersama-sama.

Malam minggu menjadi malam yang asyik bagi kami berdua. Aku biasanya mengajaknya menonton film sambil banyak mengobrol. Ia akan berceloteh banyak tentang hari-harinya sebagai seorang mayoret. Latihan-latihannya yang melelahkan. Membincangkan beberapa temannya yang berlatih dengan serius dan gembira. Bercerita tentang kuliah-kuliahnya di jurusan psikologi yang penuh dengan tugas. Ya, aku cukup mendengarkan dan memberi kesempatan baginya untuk berbagi. Sesekali aku timpali dia dengan topik-topik yang lain.

Sebulan sudah kami berpacaran. Hubungan kami masih baik-baik saja. Menginjak bulan kedua, hubungan kami mulai ada sedikit friksi. Gangguan-gangguan kecil yang untung saja masih bisa kami pahami berdua. Untuk kejadian-kejadian yang seperti itu, kami akan berbaik hati saling maaf memaafkan. Bulan ketiga kami pun masih baik-baik saja. Namun, rasanya ada sesuatu yang aneh dalam hubungan ini. Hubungan ini terasa hambar dan kehilangan topik-topik pembicaraan yang menarik.

Suatu hari pada bulan ketiga aku mengajaknya pergi keluar. Namun, kali itu responnya tak begitu bagus. Aku lebih baik membiarkannya terlebih dahulu selama beberapa hari. Barangkali ia sedang gundah atau sedang mengerjakan sesuatu yang tidak boleh kuganggu.

Ternyata benar. Hatinya sedang galau. Pacarku sedang mengalami masa-masa yang tidak membahagiakan sebagai seorang mayoret. Posisinya sebagai seorang mayoret mulai digantikan oleh temannya yang lain. Padahal pacarku sangat menyukai hobinya sebagai seorang mayoret. Baginya mayoret adalah satu-satunya hobi yang menyenangkan. Ia bisa bersolek, ia bisa menjaga tubuhnya agar lebih membentuk, juga ia bisa menghibur orang lain.

Sepertinya ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa posisi seorang mayoret itu mempunyai usia. Ia sudah 3 tahun menyandang sebagai mayoret utama dalam tim drum bandnya. Berbagai kejuaraan mayoret terbaik pernah ia dapatkan, tak hanya sekali saja. Aku sebagai kekasihnya tak dapat berbuat apa-apa selain meyakinkannya bahwa ada hal lain yang bisa tetap ia lakukan disamping rutinitas kuliahnya.

Ini adalah bulan keempat kami berpacaran. Pacarku semakin susah dihubungi. Ia sudah tak lagi tergabung dalam tim drum band. Ia mulai fokus dengan skripsinya yang harus segera ia selesaikan.

Hatiku semakin berdebar-debar menginjak bulan kelima. Ada sesuatu yang membuatku yakin bahwa hubungan ini tak lama lagi akan berakhir. Aku masih mengajaknya makan malam dengan intensitas yang berkurang dari bulan-bulan sebelumnya. Tetapi aku masih cukup sabar menerima keadaan ini.

Hari sabtu, minggu keempat di bulan keenam kami berpacaran, pacarku akhirnya diwisuda. Aku tentu bangga mendengar kabar itu. Ia akhirnya menyusulku yang sudah diwisuda terlebih dahulu tujuh bulan sebelumnya. Aku datang ke tempat ia diwisuda. Aku mencarinya, tetapi tak pernah ketemu. Padahal siang itu aku akan memberi kejutan tiba-tiba. Serumpun bunga yang kupesan khusus sehari sebelumnya di florist favoritku tak jadi kuberikan padanya.

Aku sedih melihat bunga-bunga yang kubeli sendiri nampak layu di depan mataku. Dua batang cokelat yang harusnya kuberikan buatnya, kini kumakan sendiri. Pahit.

Aku coba mengiriminya ucapan selamat wisuda.

“Sayang, selamat ya atas wisudanya. Semoga ilmunya berguna. Aku tadi datang mencarimu. :)”

Ternyata ia masih membalas pesanku.

“Iya. Terima kasih buat selama ini. Maaf jika hari ini kamu mencariku di tempat wisuda. Sepertinya aku sudah tak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Bye. :)”

Dunia gelap. Aku dihentikan oleh sebuah peristiwa. Sesuatu yang tak mudah kupahami. Seperti halnya lelaki yang lain, aku hanya bisa tenggelam dalam ekspektasi-ekspektasiku.

Sampai sekarang aku belum juga mendapatkan pekerjaan tetap. Rasanya belum ada satu pekerjaan pun yang cocok denganku. Pada masa itu, aku sesungguhnya merasa bahagia masih ada perempuan secantik dia yang menerimaku sebagai seorang pengangguran. Pada saat yang sama aku juga merasa berduka karena aku sudah tak lagi punya dambaan hati. Seseorang yang kukagumi karena dia seorang mayoret.

Kini aku kembali menjadi seperti diriku yang dulu. Melewati malam-malam yang sepi. Rasa rinduku belum tandas pada hari-hariku. Pesan-pesan singkatku tak lagi ia balas. Aku hanya bisa menerka-nerka. Ia mungkin sudah tak peduli denganku. Ia mungkin mulai merajut lembar-lembar masa depan yang baru. Ia barangkali sudah meninggalkan kota ini untuk selamanya.

Jalanan mulai macet saat hari berangkat menuju petang. Kendaraan-kendaraan mulai melambatkan jalannya pada sebuah perempatan. Sore itu aku melihat rombongan parade drum band melintasi jalan tempatku berpijak. Mayoret yang menari-nari di barisan paling depan mengingatkanku akan mantan kekasihku. Namun tetap saja, senyum itu senyum yang lain. Dia adalah masa laluku. Aku paham. Nada-nada drum band itu tak lagi bergemuruh seperti dulu. Sebuah balada percintaan yang membuatku hanyut bersama datangnya senja.

Ah, sudahlah. Aku harus menyadari bahwa ini adalah kisah rekaan. Jika ini benar-benar terjadi, pasti akan sangat menyenangkan. Tentu tidak dengan kisah-kisah setelah aku tak lagi berpacaran. Kisah ini akan berlanjut dengan ratapan patah hati yang begitu pedih. Tak sampai hati aku berbagai cerita patah hati kepada para pembaca sekalian.

Maaf pembaca jika ceritaku ini terlalu menyedihkan untuk kau baca. Paling tidak dirimu sudah membaca imajinasiku yang cukup liar dan tentu saja unik. Dirimu pasti punya cerita lain yang tak kalah serunya dengan ceritaku ini. Mau coba bercerita?