Uncategorized

Teknologi Perasa Ala Film “Her”

“Her adalah tentang manusia, tentang merasa, dan tentang hubungan. Tema besarnya bukan tentang mesin yang bisa berpikir dan berkembang, tapi memotret sifat-sifat dasar manusia dan gejolak yang tumbuh dari situ. Spike Jonze melakukannya dengan sedikit rasa melankolis, humor, dan rasa kasih yang berlimpah”, – Rolling Stone Indonesia (edisi Maret 2014)

“Sweet, soulful, and smart, Spike Jonze’s Her uses its just-barely-sci-fi scenario to impart wryly funny wisdom about the state of modern human relationships.”, – Tomatometer.

Her3

Menurut seorang teman, kisah yang mirip alur cerita film Her sebenarnya pernah ditulis oleh beberapa pengarang. Namun, imajinasi sutradara Spike Jonze telah melahirkan sebuah karya ke dalam bentuk gambar bergerak. Bedanya, drama romansa “Her” mungkin tak senyata kisah cinta pada film “Romeo & Juliet” atau “500 Days of Summer”. “Her” bagi situs IMDB masuk ke jajaran film bergenre “Drama”, “Romance”, dan “Sci-Fi”. Genre “Sci-Fi” disini tentulah bukan hal yang umum dalam sebuah drama romansa. Pada saat artikel ini ditulis, rating IMDB film ini adalah 8.2/10, sedangkan skor Rotten Tomatoes 94%, dan skor Metacritic 90%.

Saya penasaran dengan film ini karena membaca beberapa review dan resensi film ini dari berbagai sumber. Kemudian menemukan sebuah video trailer Her yang cukup membuat saya lebih terkesan lagi. Suasana, screenplay, gerak gerik sekilas pemeran utama, sekaligus soundtrack film ini begitu intim. Maka tak salah jika “Her” menjadi salah satu nominasi Oscar tahun 2014. Dan pada akhirnya menang pada kategori The Best Screenplay.

Karena belum kesampaian menonton, saya pun lantas terlebih dahulu mendengarkan lagu yang berjudul The Moon Song itu dalam beberapa versi. Berikut adalah versi asli The Moon Song, yang dinyanyikan oleh Karen O. Karen O dikenal sebagai vokalis band indie rock, Yeah Yeah Yeahs, asal New York City.

 

Tentang Samantha

Samantha adalah sebuah sistem operasi. Sebuah sistem yang berusaha belajar dari informasi-informasi yang didapat dari penggunanya. Ia tidak saja belajar dari apa yang ditulis dan dikatakan oleh penggunanya, tetapi lebih dari itu. Ia belajar bagaimana caranya merasakan jatuh cinta, cemburu, sedih, senang, menangis, bahagia, dan sebagainya, seperti layaknya manusia.

Suara Samantha tak lagi diimajinasikan sebagai sebuah teknologi yang rumit. Theo, aktor utama yang juga pengguna Samantha, hanya memerlukan sebuah microphone kecil yang mudah dipakai-lepas ke dalam telinganya. Ia dilengkapi dengan sebuah gadget berukuran tipis dan mudah digenggam (portabel) sebagai perangkat komputasi yang mudah dimasukkan ke dalam saku dengan berbagai fungsi. Misalnya kamera diibaratkan sebagai mata Samantha dan layar gadget berfungsi sebagai antarmuka visualisasi layaknya smartphone.

Desahan Samantha, yang disuarakan oleh Scarlett Johansson, begitu memikat. Sebuah keintiman terjadi hanya dari suara yang saling mengikat diantara dua insan yang berbentuk dan tak berbentuk. Hingga akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain. Sampai di akhir cerita, Theo berkata demikian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Samantha yang tak memiliki tubuh itu:

“I’ve never loved anyone the way I love you.”

Teknologi Humanis

Selain Samantha, di film “Her” kita dihadapkan juga pada berbagai bentuk teknologi yang saling berinteraksi antara dunia nyata dan dunia virtual. Kita akan melihat sebuah game avatar yang dikendalikan melalui gerakan tangan. Kita akan melihat bagaimana speech recognition bekerja pada sebuah komputer dan menuliskannya secara otomatis ke dalam bentuk tulisan tangan. Kita akan melihat bagaimana sebuah komputer dikendalikan dengan suara manusia. Kita akan melihat kerumunan manusia yang asyik dengan gadgetnya masing-masing.

pageher

Helen Papagiannis, salah seorang pakar realitas tertambah (Augmented Reality/AR) di bidang seni, melakukan pendekatan film “Her” ini sebagai sebuah aplikasi AR berbasis suara. Sebuah terma yang mewakili bagaimana dunia nyata dan virtual dapat saling berinteraksi. Saya setuju dengan harapannya, dalam sebuah tulisan di blognya berjudul “Augmented Reality, ‘Her’, and the Story of You” yang berharap demikian:

“My personal hopes for the new AR are that by entering into this more intelligent relationship with technology, we are freed to get back to human relationships and to doing what we love in the real world with real people, without our heads buried in screens. There is a whole beautiful tactile reality out there that AR can help us to explore and ‘see’ better, engaging with each other in more human ways. Get ready for a smarter, more human, and augmented you.”

Di masa depan, teknologi tak terlihat seperti teknologi yang sering kita lihat saat ini. Ia lebih canggih, mempunyai konteks, berpikir, tetapi tidak makin rumit secara fisik. Ia semakin tersemat dan memampat dalam lingkungan nyata (immersive). Setiap piranti memungkinkan untuk belajar mandiri dari kebiasaan penggunanya agar lebih sempurna dan sempurna lagi untuk satu tujuan: manusiawi dan humanis.

Referensi dari beberapa netizen: