Uncategorized

Pagi Pertama

Jogja kembali gugup menjelang pergantian tahun. Isu-isu kemacetan di sepanjang jalan utama Jogja menjadi topik panas yang selalu dikaitkan dengan banyaknya pelancong yang berkunjung ke Jogja akhir-akhir ini. Menurut beberapa orang, hal tersebut sudah tak terkendali jumlahnya. Bagi orang yang sudah cukup lama berdomisili di wilayah Jogja, seperti saya, keadaan tersebut bisa disiasati dengan beberapa alternatif. Tidak merayakan tahun baru secara meriah atau pergi ke tempat lain yang bukan merupakan jantung kota.

Siang itu Jogja diguyur hujan. Saya sedang menyelesaikan makan siang setelah dikabari teman-teman PASTE 12 yang sudah menunggu kedatangan saya. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya saya memilih untuk menyusul mereka pada sore harinya. Mungkin ini adalah satu-satunya perayaan tahun baru saya bersama teman-teman. Di tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah merayakan tahun baru seperti ini.

Rasanya sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke Kaliurang. Kali terakhir saya menuju Kaliurang adalah saat saya diajak makan sate kelinci (yang banyak dijual di sekitar villa dan taman di Kaliurang) oleh seorang teman. Itu terjadi kira-kira tiga tahun yang lalu. Sebelumnya saya pernah dua kali menginap disana. Yang pertama adalah acara makrab jurusan. Yang kedua adalah makrab teman-teman mahasiswa Yogya yang dulu satu SMA.

Hawa di Kaliurang sudah pasti akan sangat dingin. Sore itu hujan masih turun dengan setia. Saya kenakan jaket dan jas hujan untuk menuju ke Kaliurang. Perjalanan sore itu terasa mengasyikkan. Hawa dingin disertai dengan hujan kecil mengiringi perjalanan saya dari Jalan Kaliurang bawah menuju Kaliurang atas menggunakan sepeda motor. Saya jadi ingat rute yang seringkali saya lewati saat KKN dulu. Rute menuju Kecamatan Cangkringan, salah satu daerah di lereng Merapi paling bawah yang kurang lebih berjarak 15km dari punca Merapik. Perjalanan yang semakin ke utara semakin senyap dan hijau. Jika cerah, maka hamparan Gunung Merapi akan menjulang gagah dan tinggi.

Sesampainya di losmen, saya disambut teman-teman. Pada sebuah losmen yang terdiri dari tiga kamar itu dapat ditempati oleh 12 orang. Kebetulan jumlah kami yang hadir saat itu ada 11 orang. Di teras losmen itu kami keluarkan semua tempat duduk yang ada di dalam kamar agar bisa dijadikan tempat untuk nongkrong sambil memandang ke luar.

Bertemu dengan teman-teman seperjuangan memang sangat menyenangkan. Jarang sekali hal-hal mengakrabkan seperti ini terjadi. Kami membawa banyak makanan dari bawah untuk merayakan pesta. Menu wajib malam itu adalah ayam bakar. Ayam yang sudah dibumbui siap dibakar di atas arang yang ditaburi dengan bensin.

Sambil menunggu pukul 24.00 WIB, aneka camilan kami kuliti satu per satu. Canda, tawa, dan cerita tentang berbagai hal kami ungkapkan malam itu. Sebagian dari kami sudah tidak kuat menahan hawa dingin hanya dengan mengenakan selembar kaos. Akhirnya semua menyerah, semua mengambil jaket masing-masing untuk menutupi badan masing masing. Jika perlu dirangkap tiga.

Malam semakin tua. Jalanan semakin riuh. Semua menunggu momen pergantian tahun. Di tempat manapun, di belahan bumi manapun, kembang api pergantian tahun sudah siap untuk dinyalakan.

2014! Langit di atas tempat saya berdiri mulai ramai. Suara petasan dan kembang api terlontar di udara silih berganti.

Seperti layaknya ulang tahun, tahun baru pun pasti diulang setiap tahun. Tahun baru menambahkan satu digit satuan pada bilangan tahun. Terjadi setiap 365 hari sekali. Kita semua meninggalkan tahun kemarin. Tahun lalu. Tahun yang entah apa artinya buat kita masing-masing. Ucapan-ucapan “Selamat Tahun Baru 2014” atau “Happy New Year!” mulai banyak mengalir di berbagai kanal media sosial. Semua tampak merayakan dengan berbagai harapan yang semoga bisa terwujud.

Semua sudah larut. Kami lelap. Satu per satu mulai tertidur. Sementara saya bersama dua orang teman masih sibuk mengobrol di jam dua dini hari. Kami membincangkan selera musik. Dari Dream Theater sampai Jamrud. Azan Shubuh berkumandang. Beberapa dari kami mulai terbangun, sementara saya tak kuasa menahan kantuk. Akhirnya saya rebahkan tubuh sejenak pada sebuah pembaringan.

Hari sudah terang. Sudah saatnya saya membangunkan diri.

Ini adalah pagi pertama di tahun 2014. Pagi itu cukup cerah meski rinai hujan masih datang silih berganti. Sisa-sisa keramaian perayaan tahun baru semalam masih terlihat di jalanan Kaliurang. Pagi itu kami berniat untuk jalan-jalan di sekitar Kaliurang. Sebelumnya kami terlebih dahulu beranjak ke sebuah warung makan. Sate kambing dan segelas teh anget menjadi menu pilihan saya untuk makan pagi yang terlambat.

Perut sudah terisi. Kami bergegas menuju ke lokasi selanjutnya. Enam sepeda motor mulai dipacu pengendaranya masing-masing. Kami berkonvoi. Destinasi pertama adalah Taman Tlogo Putri Kaliurang. Kabarnya di tempat itu akan dijumpai sebuah air terjun. Kami belum yakin apakah benar ada sebuah air terjun yang indah disana.

Sebuah pemandangan yang begitu hijau terhampar di depan pandangan mata. Sayangnya suasana Tlogo Putri hari itu sungguh sesak. Penuh kendaraan dan orang yang berlalu lalang. Hari itu sepertinya menjadi hari yang pas untuk berwisata bagi banyak orang. Dari aneka pertunjukan, para penjaja wisata, kuliner, dan kerajinan, semua mudah dijumpai di sana. Harga tiket yang lumayan murah, hanya dua ribu rupiah, agaknya menjadi salah satu alasan kenapa tempat wisata ini digandrungi masyarakat dari berbagai penjuru.

Tlogo Putri lebih dikenal sebagai lokasi wisata alam yang bisa dinikmati keindahan bukitnya. Terletak di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, DIY. Berbagai jenis tanaman khas pegunungan dapat kita jumpai di sepanjang kawasan hutan. Pengunjung juga diperbolehkan untuk mendaki bukit. Saat masuk kawasan hutan, kita akan disambut oleh gerombolan monyet yang tidak terlalu agresif. Selain itu, Tlogo Putri masih menawarkan wisata alam lain seperti danau dan air terjun. Air terjun Tlogo Muncar yang ada di sekitar kawasan hutan, hari itu sedang kering. Konon air terjun itu pernah digunakan oleh putri Kerajaan Majapahit, Dewi Candrakirana, untuk mandi.

Siang itu kami harus check out dari losmen. Kami pun bergegas kembali ke losmen dan segera mengepak barang masing-masing. Agenda kami selanjutnya masih belum berakhir. Kami masih ingin berkunjung ke salah satu objek wisata yang ada di sekitar Kaliurang. Museum Ullen Sentalu menjadi perhentian kami selanjutnya.

Museum Ullen Sentalu terletak tak jauh dari losmen, masih berada di sekitar kawasan Kaliurang yang rimbun. “Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku”, begitulah asal usul nama Ullen Sentalu yang mengandung arti “nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Ullen Sentalu adalah sebuah museum yang menampilkan berbagai macam lukisan, benda budaya, dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram. Berbagai macam koleksi batik, patung, dan arca juga dapat dinikmati disini.

Ullen Sentalu tampak seperti museum yang sedang digarap serius. Tempatnya tertata rapi dan bersih, dengan dekorasi yang bergaya khas Jawa. Tiket masuk di hari libur untuk wisatawan domestik yaitu 35ribu rupiah. Pengunjung akan diajak menyusuri seluruh lorong dan ruangan yang memajang koleksi dengan tema-tema tertentu. Beberapa rombongan pengunjung juga akan ditemani seorang pemandu yang sudah terlalu fasih menjelaskan seisi museum. Beberapa pengunjung tampak berfoto-foto di lokasi yang diizinkan. Rekomendasi yang menarik bagi Anda yang ingin mengenal tata laku dan kehidupan orang Jawa.

Demikianlah perjalanan kami menghabiskan sisa waktu tahun 2013 dan menyambut tahun 2014. Sebagai oleh-oleh, sebelum turun ke bawah, kami mampir di salah satu warung yang menjual jajanan khas Kaliurang: jadah tempe!