Uncategorized

Resensi Singkat 6 Buku Favorit di Tahun 2013

1. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Saya membaca buku ini karena saya terlebih dahulu berkenalan dengan penulisnya, Puthut EA. Sebelumnya saya hanya mengenal sosoknya melalui akun Twitter yang beberapa kali melintas di linimasa. Puthut EA lebih dikenal sebagai seorang penulis, peneliti, dan aktivis pergerakan. Banyak karyanya yang telah dihimpun menjadi sebuah buku, termasuk cerpen, novel, naskah drama, biografi, naskah film, dan lain-lain. Novel Cinta Tak Pernah Waktu adalah salah satu karyanya yang paling populer.

Membaca novel ini saya seakan terus dibawa untuk menjadi pemeran Aku dalam novel. Ada beberapa percakapan dan hal-hal yang tidak diduga sehingga terkadang membuat saya tersenyum setiap kali membacanya. Novel ini seperti mengurai kejadian cinta dan pekerjaan tokoh Aku. Bahasanya tidak terlalu berlebihan seperti kebanyakan novel cinta yang beredar saat ini.

Novel ini cocok dibaca oleh para mahasiswa. Kehidupan tokoh Aku sebagai mahasiswa yang tak kunjung lulus, tetapi tetap kreatif. Di sela-selanya ada banyak tragedi, pertemuan dengan tokoh perempuan, dijodohkan dengan orang tua, atau taruhan dengan teman-temannya.

2. Makelar Politik

Makelar Politik
Makelar Politik

Ini adalah buku Puthut EA yang saya baca setelah menyelesaikan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Makelar Politik adalah sekumpulan karya Puthut EA yang berisi tulisan dan pengalamannya sehari-hari. Setiap judul tulisannya diketik dalam format yang nyaris konsisten: dua seperempat halaman folio-spasi satu-Times New Roman-ukuran huruf duabelas.

Banyak tulisan yang mengulas hal-hal kecil, sehingga membuat pembacanya merasa disadarkan tentang suatu hal. Gaya khas tulisan-tulisan Puthut EA ini seringkali diceritakan secara dramatis. Misalnya saat penulis mengomentari polisi tidur, upacara bendera, kawan lama, kacamata, dan sebagainya.

Bahagia, sedih, menjengkelkan, dan unik adalah kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Di awal-awal saya masih bingung, kenapa harus diberi judul Makelar Politik. Saya merasa lega, beberapa tulisan terakhir buku ini menjelaskan misteri tersebut, bahkan ditulis dalam 5 seri. Hehehe.

3. Laskar Pemimpi

Laskar Pemimpi
Laskar Pemimpi

Saya membaca buku ini ketika melihatnya di sebuah meja. Sebuah judul yang langsung mengingatkan saya dengan novel/film Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Ternyata benar, buku ini adalah sebuah buku yang mengkritisi novel fenomenal Laskar Pelangi. Buku ini mengungkap sulitnya pendidikan yang seolah-olah hanya terjadi di Belitung. Padahal, kejadian-kejadian seperti itu masih terjadi di banyak pelosok di Indonesia, bahkan dengan nasib yang lebih buruk. Bagaimana bisa seorang yang hidup dengan pendidikan yang serba terbatas, tiba-tiba bisa menjadi seorang yang bisa kuliah di luar negeri. Sebuah logika sinetron yang awalnya bersakit-sakit dahulu kemudian dapat dengan mudahnya meraih kesuksesan.

Buku karangan Nurhady Sirimorok ini membuka wawasan saya bahwa pendidikan itu seharusnya bisa dilakukan dimana saja. Peran pemerintah harusnya bisa lebih membabi buta dalam menghadapi kesenjangan pendidikan, sesuai dengan amanat UUD 1945, dimana pendidikan itu adalah hak setiap warga negara. Merata dari ujung barat hingga timur wilayah Indonesia tanpa kecuali.

Buku ini ditulis dengan gaya yang tajam dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Referensi yang digunakan penulis setidaknya membuat buku ini lebih dari sekadar resensi.

4. Grown Up Digital

Grown Up Digital
Grown Up Digital

Selepas membaca buku ini saya jadi sedikit tidak percaya bahwa internet dan smartphone dapat menyebabkan  manusia tidak smart. Buku ini mengupas banyak hal polah tingkah generasi sebelum dan sesudah internet. Buku ini menjawab banyak pertanyaan dan mitos bahwa generasi internet adalah generasi yang bodoh, generasi menunduk, generasi yang tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya.

Buku ini setidaknya memaparkan banyak hal tentang dunia internet, dunia digital, dunia perangkat bergerak, yang saat ini sedang terjadi di sekeliling kita. Meskipun studi kasus yang dilakukan Don Tapscott, pengarang buku ini, masih terbatas pada lingkungan di sekelilingnya (Amerika), tetapi apa yang ia paparkan juga berlaku di setiap lingkungan dan generasi internet. Tapscott tidak hanya menggali masalah-masalah yang ada, tetapi ia juga memberikan saran-saran terbaiknya di tiap akhir bab sebagai panduan.

Kita akan diajak melalui contoh bagaimana seorang sopir taksi saat ini lebih smart saat menjalankan tugasnya. Kita akan diajak memahami bagaimana seorang gamer dapat mengerjakan lebih banyak hal secara paralel dan mempunyai IQ lebih tinggi. Kita akan diajak bagaimana Obama memenangkan Pemilu 2009 dengan menggunakan kekuatan internet dan sosial media. Atau kita akan dikagetkan bahwa justru generasi internet adalah generasi yang paling akrab dengan orang tuanya dibandingkan dengan generasi sebelumnya (generasi X & generasi Y).

Pada intinya, Internet mungkin masih menyisakan banyak masalah bagi penggunanya, tetapi semua bisa diatasi apabila kita selalu bijak dan tepat guna saat menggunakan internet. Buku yang cocok dibaca jika Anda suka membaca buku-buku seperti The Digital Economy (juga karangan Tapscott) dan The World is Flat (karangan Thomas L. Friedmann).

5. Digital Wars

Digital Wars
Digital Wars

Zaman internet melahirkan istilah perang digital, sebuah istilah yang menjelaskan bagaimana perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Microsoft, dan Apple bersaing untuk mendapatkan pamor lebih di dunia yang serba digital. Buku ini mengupas lebih jauh bagaimana superioritas ketiga perusahaan tersebut menjalankan bisnisnya, saling berjibaku satu sama lain.

Microsoft terkenal dengan bisnis sistem operasi Windows dan aplikasi pengolah dokumen. Google terkenal melalui sistem pencariannya yang tidak ada duanya, mengalahkan Altavista dan Yahoo di zamannya. Apple terkenal dengan produk-produknya yang mengedepankan pengalaman pengguna dan bisnis musik digital. Betapa serunya melihat ketiga perusahaan tersebut melakukan terobosan-terobosan hebat di bidang teknologi.

Lalu pencapaian hebat apa saja dan keterpurukan apa saja yang pernah dialami oleh ketiga perusahaan tersebut? Buku karangan Charles Arthur ini menjawab secara rinci.

6. Jawa Tempo Doeloe

Jawa Tempo Doeloe
Jawa Tempo Doeloe

Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Pulau Jawa, saya merasa berdosa jika tak pernah tahu bagaimana keadaan Jawa pada masa lalu. Buku yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu ini bukan berisi asal usul historis Pulau Jawa. Namun, buku Jawa Tempo Doeloe mengulas tulisan puluhan pelancong yang berasal dari luar Indonesia yang menceritakan kunjungannya di daerah-daerah seputar Jawa. Mereka datang dari generasi yang berbeda, dari sebelum Indonesia dijajah hingga pasca Indonesia merdeka, dari tahun 1300an hingga 1980an.

Jawa saat ini sudah tumbuh begitu pesatnya sehingga menjadi barometer dalam segala peradaban modern di Indonesia. Berbagai kesan orang Barat tentang Jawa tersaji melalui buku ini. Dari budaya, cara berpakaian, berkelompok, alam, kehidupan, dan  aktivitas sehari-hari penduduk asli Jawa.

Tidak semua tulisan di buku ini mengesankan bahwa Jawa adalah tempat yang terbaik untuk hidup di Indonesia. Ada beberapa tulisan yang terkesan sinis dengan budaya Jawa, tidak suka dengan birokrasi yang berbelit, atau fasilitas dan pelayanan yang buruk saat mengunjungi Pulau Jawa. Menarik.