Uncategorized

Berkunjung ke Festival Film Dokumenter (FFD) 2011

Timeline Twitter beberapa hari yang lalu sempat dibanjiri dengan beberapa akun yang meretweet tentang sebuah acara tahunan di bidang perfilman. Acara tersebut bertajuk Festival Film Dokumenter 2011. Saya kira ini adalah acara yang begitu megah dengan dihadiri oleh orang-orang hebat di dunia moviemaker. Setelah mengunjungi website acara tersebut, nampaknya acara ini adalah acara independen yang rutin digelar tahunan. Saya tak tahu pasti, siapa penyelenggara utama acara ini, tetapi acara tersebut dikelola oleh banyak volunteer di bidang seni.

Layaknya sebuah musik indie, acara FFD ini tidak akan mengulas dan memutar film box office yang ada di bioskop. Mereka terdiri dari moviemaker di kasta independen yang berkreasi dengan dukungan yang terbatas untuk menghasilkan karya yang menginspirasi. Acara yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta ini menampilkan beberapa acara di bidang seni, diantaranya pameran karya seni rupa Bienalle (ISI Yogyakarta), kompetisi dan pemutaran film dokumenter, serta diskusi di bidang perfilman dokumenter. Film-film dokumenter yang ditampilkan di acara ini tidak hanya produksi dalam negeri, tetapi juga dari negara-negara Asean, seperti Thailand.

Jujur, saya berniat menyaksikan acara tersebut setelah mengetahui bahwa ada beberapa film yang diputar yang berhubungan dengan musik. Salah satunya yaitu ‘Walk Together Rock Together’, film dokumenter yang akan mengulas jejak karir band Superglad. Superglad merupakan sebuah band indie yang berdomisili di Jakarta. Kebetulan saya suka dengan karya-karya yang pernah mereka ciptakan, maka tanpa pikir panjang saya pun menjadi penasaran dengan film tersebut.

Malam itu sedikit suram, sebelumnya saya mengajak dua teman saya untuk ikut menyaksikan dokumenter WTRT ini. Alhasil, mereka ternyata tidak jadi ikut karena berbagai alasan. Ah, saya pikir kenapa tidak datang sendiri saja, terlebih di sana juga akan ada banyak orang. Saya sendiri baru kali ini masuk ke Taman Budaya Yogyakarta. Motor saya pacu berlari sambil berharap bahwa film yang nanti akan disaksikan mempunyai sesuatu yang bisa diceritakan untuk orang lain.

Sesampainya di sana, suasana memang tidak begitu ramai. Hanya beberapa anak-anak muda yang kebanyakan terlihat sebagai volunteer untuk acara ini. Saya mengitari venue dan menanyakan lokasi diputarnya film WTRT. Ternyata lokasi Amphiteater TBY ini terletak di bagian paling belakang. Tidak terletak di suatu ruangan tertutup. Hanya sebuah podium sederhana yang terdiri dari panggung dan tempat duduk bertangga yang mungkin hanya bisa ditempati untuk 100 orang penonton.

Ruang Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta

Penonton awalnya tidak terlalu banyak, hanya separuh dari tempat duduk bertangga yang baru terisi. Beberapa penonton adalah para bule. Untungnya film yang diputar juga menampilkan subtitel dalam bahasa Inggris, sehingga bisa sedikit lebih mudah dipahami oleh orang asing. Film WTRT sendiri baru diputar pukul 20.30 WIB. Berhubung masih banyak tempat yang kosong, maka saya mencari tempat duduk yang pas terlebih dahulu. Penonton mulai berdatangan hanya untuk menyaksikan film WTRT ini. Kebetulan produser film WTRT juga datang pada malam itu (juga ada sesi tanya jawab dengan produser setelah pemutaran film WTRT selesai) dan duduk di belakang saya.

Setelah malam pertama kesengsem dengan begitu menariknya film WTRT, besoknya saya berniat untuk datang, dimana juga akan diputar film bertema musikal yang lain, Metamorfoblus. Metamorfoblus merupakan sebuah film dokumenter tentang pemahaman, perjalanan, fanatisme dan perjuangan beberapa fans grup band Slank (Slankers). Saya akan membahas cerita kedua film tersebut berikut ini :

Walk Together Rock Together

Rock n Roll. Itulah satu kata yang terlampiaskan ketika mendengar kehidupan Superglad. Buluk (vox & guitar), Dadi (guitar), Giox (bass), dan Akbar (drum) adalah empat sekawan yang pada awalnya tergabung dalam band Waiting Room di pertengahan tahun 1990-an. Hingga pada akhirnya sepakat membentuk Superglad. Kata ‘GLAD’ sendiri merupakan nama inisial personelnya yaitu ‘Giox’, ‘Luks’, ‘Akbar’, dan ‘Dadi’.

Superglad sendiri berangkat dari semangat kesetiakawanan dan idealisme yang total. Mereka berjuang untuk terus berkarya dengan apa yang mereka miliki ala kadarnya. Mereka sudah berulang kali mengirim demo lagu-lagu mereka ke major label, tetapi terus saja ditolak. Akhirnya mereka sepakat untuk bertahan di jalur indie. Empat album penuh sudah mereka hasilkan di bawah bendera indie.

Mereka menggunakan iuran uang masing-masing personel untuk merekam satu album hingga berpuluh-puluh juta. Mereka gadaikan kendaraan mereka dan mengumpulkan sedikit uang manggung untuk berkarya. Hidup mereka tidak terlalu baik. Mereka rela makan nasi bungkus dan naik kereta ekonomi untuk mengunjungi satu gigs ke gigs lainnya. Alat manggung mereka juga tidak selengkap dan populer band-band modern. Untungnya SG dibimbing oleh Jaya ROXX, seorang rocker yang berpengalaman pernah tergabung band rock ROXX di era 90-an.

Bulan Juni tahun ini mereka berhasil menyelenggarakan konser tunggal yang diimpikan selama bertahun-tahun atas usaha sendiri. Konser yang dilakukan di Lapangan Bulungan, Jakarta itu menampilkan beberapa bintang tamu seperti Eet Sjahranie, Tiga Setia Gara, Gembel Shore, Jimi Multhazam (The Upstairs). Beberapa track yang ditampilkan saat konser tersebut adalah Peri Kecil, Satu, Ketika Setan Berteman, Dikatator, Senandung Rindu, Rajah Sayap Malaikat, serta Cinta dan Nafsu.

Beberapa hari sebelumnya, SG baru saja merilis album keempatnya bertitel “Cinta dan Nafsu”. Konser inilah yang banyak direkam untuk pembuatan dokumenter ini. Info yang didapat dari produser mengatakan bahwa tim moviemaker membutuhkan 7 kamera, dimana terdiri dari 4 kamera sewaan, dan 3 kamera dari tim.

Miras (alkohol), tattoo, dan sex adalah hidup mereka ketika masing-masing personel belum menikah. Giox merupakan personel yang gemar menenggak dan meracik alkohol sebelum konser. Buluk adalah orang yang gila sex, beberapa adegan di film dokumenter tersebut menunjukkan kegokilan dan kenakalannya, seperti menampilkan pantat, dsb. Dadi dan Akbar adalah seperti sepasang yin yang, mereka saling memperkuat dan mengimbangi sisi buruk personel yang lain.

Seiring dengan bertambahnya umur, kedewasaan masing-masing personel kian tumbuh. Mereka bisa merasakan indahnya jatuh cinta dan berujung di pelaminan. Masing-masing personel kini sudah memiliki anak yang mereka banggakan. Hal yang membuat terharu penonton dalam film dokumenter tersebut adalah kisah cinta sang vokalis, Buluk. Tahun 2010 lalu, Buluk kehilangan istri tercintanya karena kanker. Ia mendapat seorang peri kecil cantik dari pernikahan tersebut. Lagu “Senandung Rindu” adalah lagu hasil ciptaannya untuk mengenang istrinya.

Metamorfoblus

Metamorfoblus ini merupakan sebuah dokumenter untuk Slankers. Di dalam film tersebut memuat dua cerita perjuangan Slankers. Cerita yang pertama adalah kisah seorang Slanker bernama Andi yang berasal dari Bantul. Ia dulunya adalah seorang pecandu narkotika yang hidup di suatu perkampungan. Andi dan teman-temannya sesama Slankers banyak terinspirasi dari Slank. Slank sendiri awalnya juga terdiri dari personel-personel yang terperangkap dalam pengguna drugs akut. Beruntung mereka disadarkan oleh ibunya Bimbim, Bunda Iffet, yang selalu perhatian kepada anak-anak Slank sampai sekarang.

Padahal ayah Andi adalah seorang perawat masjid dan sering memberikan ceramah untuk pemuda pemudi sekitar. Andi adalah anak satu-satunya yang dibangga-banggakan orang tuanya. Ayahnya sering kesal dengan kelakukan Andi yang semakin hari semakin nakal dan pecandu drugs. Setiap kali ada konser Slank, ia dan teman-temannya selalu menyambut Slank dengan antusias, mengecat rambut, membuat bendera Slankers, dan memodifikasi knalpot motor agar terdengar gahar.

Suatu ketika Slank sedang melakukan kunjungan ke Jogja, Bunda Iffet dan Bimbim mengirim sebuah surat kepada Andi. Isi surat tersebut pada intinya untuk menyadarkan Andi agar keluar dari jeratan bayang-bayang candu narkoba. Andi merasa bangga mendapat dua surat yang ditulis langsung oleh musisi kebanggaannya. Hingga pada akhirnya Andi pun lepas dari ketergantungan. Ayahnya merasa harus berterima kasih kepada Bunda Iffet dan Bimbim. Di suatu konser Slank, ayah Andi mendatangi lokasi konser tersebut hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada Slank.

Cerita kedua datang dari sekumpulan pemuda (Slankers) Kupang. Perjuangan mereka adalah ingin menyaksikan konser Slank di negeri sebelah, Timor Timur (sekarang Timor Leste). Mereka juga berkeinginan untuk silaturahmi dengan orang-orang Timor, yang dulu pernah jadi bagian NKRI. Sulitnya birokrasi pengurusan paspor menjadi kendala pemuda Kupang untuk pergi ke Dilli.

Berbagai usaha sudah dicapai dan akhirnya mereka bisa mendapatkan paspor sebagai warga negara Indonesia. Mereka berpetualang menyusuri daratan menggunakan mobil menuju Dilli. Sesampainya di sana, mereka menyambut Slankers Dilli untuk bersama merangkul persaudaraan sesama Slankers. PEACE! Itulah kata yang sering dilontarkan Slankers. Setelah bersalam-salaman dan menyanyikan bersama Mars Slankers, mereka bergabung menuju ke lokasi konser di Dilli. Slankers menyanyi bersama Slank melagukan perdamaian di dua negara yang dulu pernah bersatu.