Uncategorized

Musikmu adalah Inspirasimu

Mungkin dulu ketika kaset pertama kali populer di Indonesia tahun 1970-an, industri musik Indonesia memperoleh angin segar. Banyak artis-artis di bidang permusikan berkreasi dan berkarya menjadi musisi yang hasilnya bisa dikasetkan. Karena sebelum kaset populer, piringan hitamlah yang hanya bisa dimanfaatkan untuk merekam musik. Kaset berukuran lebih kecil dar piringan hitam dan tidak memakan tempat. Media pemutarnya pun lebih sederhana, diistilahkan sebagai tape. Kemudian, pada tahun 1990-an muncullah benda bernama CD (Compact Disc), jika dilihat mirip piringan hitam tapi dengan ukuran diameter yang jauh lebih kecil.

Saya tidak akan membahas lebih jauh lagi tentang kaset dan CD. Kini saya akan sedikit bernostalgia dengan bagaimana musik-musik yang disimpan dalam benda-benda tersebut bisa menginspirasi banyak orang, termasuk saya tentunya. Saya masih ingat, ketika masih balita dulu sering mendengar lagu-lagu pop 80/90-an yang diputar oleh orang tua saya. Lagu-lagu milik Betharia Sonata, Novia Kolopaking, Hetty Koes Endang, Koes Plus, Panbers, Nike Ardilla, dsb. Lagu-lagu tersebut masih menjadi favorit ketika format CD ditemukan.  Selain itu, lagu anak-anak di era tersebut juga seringkali diperdengarkan kepada saya, seperti Balonku Ada Lima, Burung Kutilang, Pohon Cemara, dll. Seringkali ada beberapa lagu yang secara tidak sengaja terdengar oleh saya, lantas mengingatkan dengan jelas masa-masa itu.

Saya mengenal format CD (Compact Disc) ketika beranjak di masa Sekolah Dasar. Sebuah VCD player dibeli oleh ayah saya, kemudian hampir setiap hari diputar dengan lagu-lagu yang berbeda. Harga satu keping CD ketika itu masih murah, tidak semahal kaset original. Lagu pop kompilasi 80/90-an masih menjadi andalan pendengaran ketika itu, selain lagu campur sari yang sedang marak-maraknya. Didi Kempot, Manthous, Ki Narto Sabdo, CSGK (Campur Sari Gunung Kidul) adalah beberapa penyanyi campur sari yang saya ingat. Tembang-tembang hits Jawa seperti Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Bojo Loro, Kuncung, Prau Layar, Padhang Bulan, dsb. menghiasi pengantar tidur siang sepulang sekolah. Bahkan, karena pengaruh dari teman-teman selingkungan, maka saya tidak bisa menolak ketika harus ikut menjadi penggemar boyband Westlife yang sedang naik daun dengan pop baratnya.

Pergaulan menjadi semakin lebar ketika saya masuk ke SMP, bertemu dengan banyak teman yang lebih heterogen. Di sana saya berkenalan dengan band-band yang lahir menjelang millenium ketiga seperti Sheila on 7, Jamrud, Padi, Dewa 19, Boomerang, Cokelat, Base Jam, Jikustik, Peterpan, SID. Lagu-lagu band tersebut seringkali dinyanyikan beberapa teman ketika ada acara pentas atau pagelaran di sekolah kami. Saya pun tertarik belajar gitar ketika terpesona melihat banyak teman yang mahir memainkan gitar. Gitar pertama (masih ada sampai sekarang) saya beli seharga sembilan puluh ribu di sebuah toko sport dan musik. Lantas, saya begitu semangatnya minta diajari cara bermain gitar kepada seorang teman. Beli buku-buku lagu, favorit saya waktu itu adalah majalah MG, kemudian mainkan.

Kebetulan ada sebuah lagu rekomendasi teman dengan kunci gitar yang mudah dimainkan untuk seorang pemula. Lagunya pun masih menjadi hits ketika itu. Yup, lagu itu adalah lagu “Mimpi yang Sempurna”-nya Peterpan. Lagu itu juga dikenal sebagai single yang melejitkan Peterpan pertama kali ke industri musik Indonesia. Saya merasa lagu-lagu Peterpan ketika itu adalah “easy listening” dan tidak begitu sulit untuk memainkan kunci-kunci gitarnya bagi seorang pemula, dibanding band-band lain yang saya sebut di atas. Mungkin ketika itulah saya mulai mencintai musik, sekaligus lirik-lirik puitis Peterpan. Kaset original yang pertama saya beli sendiri adalah album Taman Langit-nya Peterpan. Saya semakin menyimak perjalanan karir mereka hingga sekarang. Saya pun tidak pernah mengira bahwa mereka akan menjadi salah satu band papan atas di Indonesia.

Radio ketika itu masih cukup populer. Single-single sebuah band masih diputar dan paling ‘update’ hanya di radio, karena internet belum populer. Kelompok teman-teman berandal saya di SMP banyak mengenalkan ‘Kuta Rock City’ yang sering kami dengar di radio. Sebuah single dari band yang masih indie saat itu, Superman Is Dead (SID). Saya belum mengenal siapa itu SID, karena masih mendengar sebuah single-nya. Yang saya tahu SID adalah band punk urakan, tidak jelas, dan one hit single. Tetapi, entah mengapa saya tergerak untuk membeli kaset bajakan album SID pertama yang rilis di pasaran, Kuta Rock City. Saya akui kualitas rekaman album tersebut sangatlah jelek. Maklum, karena SID masih ada di jalur indie non label. Padahal jika album tersebut diracik dengan kualitas standar, saya rasa akan lebih enak lagi didengar.

Setelah mencoba mendengar beberapa lagu SID dan mencoba menelaah lirik-liriknya yang sebagian besar berbahasa Inggris, ternyata cukup membuat saya girang. Berlanjut dari itu, saya jadi rajin menyimak album-album SID selanjutnya, dari The Hangover Decade, Black Market Love, hingga Angels and Outsiders. Benang merah yang saya rasakan ketika mendengar lagu-lagu di album itu selalu memuncak, penuh energi, iramanya menghentak, panas, kadang gelap, dan kadang memberontak. Yang saya suka dari lagu-lagu SID adalah nyaris hampir tidak ada lagu yang bertemakan tentang patah hati dan kesedihan.

Masuk jenjang SMA adalah masa-masa awal mencari jati diri. Di sana saya banyak bergaul dengan teman-teman yang mempunyai selera musik hampir sama. Hingga pada akhirnya mencoba membuat sebuah band dengan mereka. Kami sering bermain musik bersama di studio, memainkan musik sesuka hati, yang penting jamming (hehe). Kami hanya beberapa kali tampil di acara-acara internal sekolah, karena sadar diri bahwa kami bukan band yang baik untuk ditonton (haha). Skill kami terbatas, terlebih kami adalah sekumpulan bocah dari kota kecil. Lagu-lagu Peterpan adalah yang sering kami mainkan, selain Muse dan Green Day. Kami lebih banyak berbagi tentang musik. Internet sudah cukup dikenal, meskipun harus bolak balik ke warnet, entah untuk mendownload lagu atau sekadar mencari berbagai informasi. Di masa inilah saya ‘kebetulan’ kenal dengan majalah musik yang sampai sekarang masih jadi idola, Rolling Stone versi Indonesia. Wawasan tentang musik dan berbagai isu sosial masyarakat banyak diangkat di majalah itu.

Masa-masa kuliah adalah masa-masa ketika saya berkenalan dengan musik British, tepatnya Britpop. Lagu-lagu band Oasis adalah awal kecintaan saya pada musik Britpop. Pertama kali mendengar lagu “Don’t Look Back in Anger” langsung terasa menonjok, apalagi dengan gaya akustik-nya Noel Gallagher. Itu adalah lagu sendu yang menjadi masterpiece Oasis selain Wonderwall, Stand by Me, Rock n Roll Stars, serta Cigarrettes and Alcohol. Sayang, kini mereka tak jelas statusnya, banyak fans yang menyayangkan. Pertikaian kakak beradik Noel dan Liam membuat band ini terpecah jadi dua, Liam membentuk Beady Eye bersama personel Oasis lain, sementara Noel lebih memilih bersolo karir. Grup band Britpop lain yang melegenda seperti BLUR, The Cure, Radiohead, MUSE, The Cranberries, Coldplay, dsb. akhirnya menjadi perbendaharaan musik sehari-hari.

Internet semakin mudah didapat dimana-mana, di kampus, kos, juga warnet. Saya semakin gemar mengunduh berbagai macam lagu, video klip, hingga video dokumenter. Harddisk saya penuh dengan file-file tersebut, jika diukur mungkin ada separuh dari kapasitas total storage berisi koleksi-koleksi tersebut. Soal lagu, saya jadi sedikit tahu bahwa musik mainstream belum tentu lebih baik dari musik-musik indie. Keindahan perpaduan irama, nada, dan eksotisme lirik yang mempunyai ciri khas adalah sebaik-baiknya musik itu dibuat, sehingga layak diperdengarkan publik.

Musik adalah mood. Di dalam musik tersirat idealisme, bukan agar terlihat keren, tapi energi yang bisa membakar setiap saat. Musik adalah inspirasi, ketika kita mendengar iramanya, meresapi liriknya. Kadang jadi cermin yang tak pernah bosan untuk membayangi diri, dari kesedihan juga kesenangan. Mari bersulang!