Uncategorized

Menyikapi ‘Pembodohan’ Karakter Jejaring Sosial

“Technology is so much fun but we can drown in our technology. The fog of information can drive out knowledge.” Begitulah kata seorang Daniel J. Boorstin, seorang sejarawan Amerika. Teknologi begitu menyenangkan, tetapi kita tak dapat tenggelam dalam teknologi. Arus informasi bisa jadi akan menampar pengetahuan kita. Kalimat tersebut mengingatkan kita semua bahwa di tengah hiruk pikuk teknologi internet dewasa ini, masih ada sebagian orang yang bingung dimana sebenarnya posisi teknologi tersebut dalam kehidupan kita. Entah itu manfaat, kerugian, serta bagaimana kita memahami itu semua.

Coba kita lihat, seberapa banyak sih teman-teman kita yang terhubung dalam berbagai jejaring sosial? Saya yakin setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Untuk mereka yang bergaul di tengah orang yang gila teknologi, setidaknya mereka mulai ikut menggunakan jejaring sosial tersebut. Sebut saja seperti Facebook dan Twitter. Meskipun bukan sebuah kewajiban, memiliki sebuah akun yang diikuti oleh teman-teman terdekat mereka menjadi senjata yang manjur untuk tetap berkomunikasi secara instan. Juga bertukar informasi secara menyebar (broadcast), tanpa harus menghubungi mereka satu per satu.

Sedangkan untuk mereka yang bergaul di tengah orang yang gelap teknologi, mungkin hal-hal semacam ini tidak begitu penting bagi mereka. Dari segi manfaat, mereka tentu akan berpikir ”apa manfaatnya jika kebanyakan teman-teman saya tidak/jarang menggunakan jejaring sosial?”. Pertanyaan tersebut sangatlah wajar, mengingat di lain sisi pengetahuan tentang internet bisa jadi masih buram dalam benak mereka. Itulah yang mereka tahu. Padahal jejaring sosial bukan hanya sekedar ‘update status’, tetapi lebih kepada sebuah wadah yang di dalamnya bisa diisi informasi penting yang kadang tidak bisa/sulit diceritakan secara tatap muka.

Sejak dulu manusia selalu ingin berkembang, mempunyai mimpi-mimpi untuk hidup modern. Menggunakan fasilitas yang serba otomatis dan mudah digunakan tanpa membuang terlalu banyak waktu. Salah satunya adalah ketersediaan informasi. Jika kita mengingat kembali zaman kuno, sebuah informasi masih dibawa dari telinga ke telinga. Orang yang tinggalnya jauh, harus didatangi hanya untuk mengabarkan sebuah informasi yang entah itu penting atau tidak penting. Disusul dengan jasa pengiriman informasi layaknya kantor pos dengan kendaraan kuno seperti kuda. Bahkan sebelum itu, sebuah informasi dikirim melalui seekor burung merpati.

Era kapitalisme berkembang pesat, dimana berbagai macam gadget yang terus berevolusi menjadi trendsetter di zamannya. Telepon rumah, radio, televisi, surat kabar, majalah, kantor pos pemerintah, telepon genggam, komputer, dan internet turut berpacu menjadi media komunikasi alternatif yang terbaik hingga saat ini. Teknologi paling mutakhir yang disinyalir dapat menggantikan interaksi di dunia nyata adalah kehadiran internet dengan jejaring sosialnya berbasis Web 2.0. Kalangan menengah ke atas berlomba memiliki gadget-gadget tertentu yang dapat terhubung ke internet. Mereka mencoba berinterasi secara virtual menggunakan gadget-gadget tersebut melalui layanan email, sms, telefoni, chatting, hingga situs jejaring sosial. Mudah, bukan?

Lalu bagaimanakah karakter jejaring sosial itu? Sebenarnya tidak ada definisi yang pasti tentang jejaring sosial, tergantung oleh persepsi setiap orang. Ada yang berpendapat bahwa jejaring sosial adalah sebuah media yang dapat berperan positif dalam memasyarakatkan manusia di belahan virtual. Akan tetapi, ada juga yang mempunyai pendapat bahwa jejaring sosial adalah substitusi dari dunia nyata, interaksi yang ‘face to face’ digantikan oleh interaksi dalam bit-bit data digital. Entah itu dengan teks, suara, atau video. Salah satu bentuk jejaring sosial yang populer saat ini adalah Facebook.

Facebook merupakan sebuah media virtual yang biasanya dijadikan alat untuk menyuarakan ide, kegiatan, atau pikiran anggotanya. Di dalamnya bisa membentuk sebuah komunitas/grup, bersilang pendapat, memberi saran, dan sebagainya. Terkadang jadi pelampiasan emosi seseorang yang mungkin sungkan jika itu dilakukan langsung dalam dunia nyata. Update status menjadi peran yang mendominasi dalam sebuah jejaring sosial, terlepas dari bagaimana teman-teman mereka yang tergabung menyikapi isi pesan tersebut. Banyak juga anggota yang enggan (jarang/pasif) untuk update status atau menanggapi status orang lain. Bukan karena malas, tetapi mereka berprinsip bahwa media tersebut digunakan sebatas untuk pemberi informasi yang akurat. Mereka hanya akan berkomentar jika ada sesuatu yang penting.

Banyak pula yang menggunakan jejaring sosial untuk hal-hal yang tidak perlu, menyebar aib, fitnah, atau pembodohan yang jelas-jelas tidak pantas diberikan secara broadcast. Dangkal memang. Hal-hal seperti itu tentu memancing emosi dan perasaan orang lain. Entah sudah berapa banyak grup-grup anti kelompok tertentu berbau manipulasi, rasisme, kebohongan publik, cuci otak, dsb. Untungnya jejaring sosial seperti Facebook sudah cukup tanggap dalam menangani hal-hal semacam itu melalui pengontrolan yang baik. Tinggal bagaimana peran kita sebagai pengguna untuk ikut memberantas kerikil-kerikil tersebut.

Berbagai dampak dan ancaman yang merugikan akan membuat pihak-pihak tertentu untuk membuat jejaring sosial baru untuk tujuan tertentu saja. Padahal jika kita telaah, hanya dengan menggunakan satu jejaring sosial, seperti Facebook saja, semua kebutuhan anggota sudah tercakup didalamnya. Cara penggunaannya pun harus bertanggung jawab. Disana sini tentu masih ada saja individu yang menggunakan identitas palsu, foto palsu, dan figur palsu, untuk menutupi semua pencitraannya. Inikah pendidikan dan budaya yang harus diternak menjadi kebiasaan bodoh?

Setiap individu boleh-boleh saja menggunakan akun jejaring sosial mereka untuk tujuan apa pun. Terlebih di masa globalisasi dan demokrasi seperti saat ini, semua berhak menyuarakan pendapatnya. Kami masih bermimpi, jika suatu saat para pengguna akun jejaring sosial tersebut mulai peduli dengan tujuan mulia bangsa ini. Bagaimana mendidik rakyatnya agar bisa memberi sumbangsih kepada bangsa dan negara, konflik-konflik intern, serta solusi terbaiknya. Saling mengingatkan rakyatnya dalam memahami perbedaan, Bhinneka Tunggal Ika, nilai-nilai luhur Pancasila, dan tertib hukum Indonesia. Bangsa Indonesia masih membutuhkan suara-suara lantang kalian untuk membangun kedaulatannya yang makin rapuh dimakan kekuasaan!

Pada akhirnya, mari gunakan pengetahuan kita untuk memberi energi-energi positif kepada mereka yang membutuhkan informasi. Ajak mereka yang belum terdidik untuk ikut meramaikan jejaring sosial yang menyenangkan dengan segunung manfaat positifnya, tunjukkan dan ajarkan kepada mereka. Stop status sampah dan pembodohan karakter melalui jejaring sosial… Cheers!

Source gambar : http://images1.just-landed.com/classified_images/United-States_Virginia/Community_Other/Sports-Social-Network-Challenge-Team-Challenge-Board-527214-649212/photo/scaled_1305787837384593165.jpg