Uncategorized

Tetralogi Buru #2 – Jejak Langkah: Petualangan Jati Diri Pribumi Hindia

“Anak Semua Bangsa” merupakan judul roman tetralogi seri kedua roman karya Pramoedya Ananta Toer setelah Bumi Manusia. Roman ini menceritakan pergaulan tokoh Minke dengan manusia-manusia Eropa. Kisah cintanya dengan Annelies telah dikupas habis di roman sebelumnya, maka di roman ini pergolakan melawan ketidakadilan hukum atas masalah-masalahnya masih menjadi pemicu utama konflik.

Minke dikisahkan telah ditinggal istrinya, Annelies, yang diasingkan ke Belanda menaiki sebuah kapal. Keadaan Annelies sendiri ketika keberangkatan sudah meronta, sehingga Minke dan Nyai Ontosoroh memerintahkan salah satu teman dekat Minke yaitu Panji Darman, untuk memata-matai perjalanan Annelies. Surat-surat terus berdatangan menghampiri rumah Nyai Ontosoroh untuk disampaikan kepada Minke tentang keadaan Annelies. Hingga pada saatnya, Annelies meninggal dunia. Duka tersebut sangatlah memukul Minke dan ibu kandungnya. Nasib hanyalah nasib yang harus diterima dengan lapang dada, terlebih pertikaian masih terus berlanjut.

Pengadilan atas kematian Herman Mellema masih menjadi misteri, sehingga persidangan terus dilakukan dengan menghadirkan beberapa saksi. Rasa sakit Nyai Ontosoroh terus mendera, ia benar-benar menyalahkan Maurits Mellema, adik suaminya yang tinggal sebagai insinyur air di negeri Belanda. Maurits adalah orang yang mengusir Annelies dari rumah.

Di lain pihak, Minke terus dibujuk oleh orang-orang terdekatnya seperti Jean Marrais dan Kommer untuk menulis dalam Bahasa Melayu. Selama ini Minke hanya bisa menulis dengan baik dengan Bahasa Hindia yang diajarkan di sekolahnya, HBS, yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang penindas Hindia.

Suatu kali Minke diajak ke Tulangan, ke rumah adik Nyai Ontosoroh satu-satunya. Minke bertemu dengan seorang golongan petani di Tulangan yang hak-haknya tak diakui oleh Hindia ketika itu. Ketika itu Minke tertarik untuk menulis tentang ketidakadilan atas hak sewa tanah untuk dimuat dalam surat kabar. Akhirnya banyak orang yang membaca surat kabar tersebut, meskipun Minke mendapat pengaduan berbagai pihak yang tidak setuju dengan hal tersebut, terutama oleh bangsa nonPribumi.

Selidik punya selidik, Minem, seorang anak buah Nyai Ontosoroh mengaku di pengadilan bahwa ia telah dihamili Robert Mellema. Nyai sendiri mengira yang menghamilinya adalah tangan kanannya, Darsam atau Kong Ah Soe yang menjadi mata-mata. Semuanya tak terbukti. Bayi yang dikandung telah lahir dan dialah satu-satunya keturunan Herman Mellema yang masih hidup.

Di akhir cerita digambarkan bahwa Maurits Mellema berkunjung ke rumah Nyai Ontosoroh untuk menguasai seluruh harta kekayaan kakaknya. Maurits dipersalahkan oleh Nyai Ontosoroh, karena ia dianggap tidak berperikemanusiaan membunuh anak kandungnya, Annelies. Sudah dipastikan sebagai pewaris darah keturunan Herman Mellema, ialah yang akan menguasai kekayaan Nyai Ontosoroh yang berdarah pribumi. Hal ini disebabkan karena kedua anak Ontosoroh, pewaris yang lebih utama, Annelies dan Robert Mellema telah meninggal. Akan tetapi, masih ada anak Robert Mellema, sehingga Maurits diperintah Nyai untuk menjaga atau membunuhnya demi warisan.