Uncategorized

Membidik Titik Hitam Kota Kebumen

Petang menjemput ketika kaki ini turun dari lantai bus yang meluncur dari arah timur. Orang-orang di jalanan membaur menyambut para penumpang yang tak sabar berpijak di sebuah kota yang jarang terekspos. Kota Kebumen, begitulah orang-orang awam menyebutnya. Jika kami yang asli berasal dari kota itu, cukup menyebut tanah kelahiran kami dengan ‘Bumen’.

Kota yang memiliki jargon Kebumen Beriman (Bersih, Indah, Aman, Nyaman) memang jarang dikenal orang, meskipun oleh orang-orang yang tinggal dalam satu pulau sekalipun.  Seringkali saya ditanyai beberapa teman tentang letak kota tersebut, dan banyak yang kurang tahu. Bisa diakui, karena saya sendiri juga menganggapnya sebagai salah satu kota kecil di Jawa Tengah. Orang-orang lebih mengenal Gombong, daripada Kebumen itu sendiri. Gombong merupakan salah satu nama kecamatan di Kabupaten Kebumen. Mungkin disebabkan karena pusat ekonomi Gombong terletak di sepanjang jalan transportasi, sehingga orang lebih mengenal Gombong.

Saya mengenal Kebumen semenjak dilahirkan hingga menempuh studi di bangku SMA, kemudian harus melanjutkan kuliah di luar kota. Kebumen yang saya kenal tidaklah semegah kota-kota lain. Jika kita berjalan-jalan ke kota tersebut pastilah dianggap sebagai kota yang sepi. Tidak banyak pusat keramaian dan gedung-gedung  tinggi berdiri di sana, selain pasar dan pusat perbelanjaan tiga lantai.

Suasana tersebut kadang menjadi kenyamanan tersendiri, jauh dari kebisingan, dan kadang meluap menjadi identitas yang tidak mudah termakan zaman. Misalnya tentang potensi yang dimiliki kota Kebumen itu sendiri, tidak kalah menarik dengan kota-kota yang lain, dari potensi alam, potensi wisata, potensi budaya, serta  potensi sumber daya manusia.

Salah satu potensi yang hingga sekarang masih menjadi primadona adalah burung lawet. Semenjak kota ini didirikan, burung lawet telah menjadi maskot kota. Dari logo kabupaten, tugu lawet, hingga tari lawet, semua mencirikan kota Kebumen sebagai daerah yang berpotensi menghasilkan berbagai produk dari burung serbaguna, burung lawet. Tepatnya di daerah pesisir pantai Karangbolong yang banyak dijumpai pengunduhan sarang lawet. Setahu saya, burung lawet adalah burung yang mahal karena sarangnya yang sulit diperoleh dan khasiatnya yang serbaguna.

Kota Kebumen di malam hari

Tugu lawet akan mudah temukan di tengah-tengah kota Kebumen, letaknya berada di antara jalan simpang empat. Tugunya sendiri terbuat dari ukiran semen yang menjulang tinggi kurang lebih sepuluh sepuluh meter, mencitrakan pengunduh-pengunduh sarang lawet beraksi meraih sarang di bagian puncaknya.

Dulu ketika masih duduk di Sekolah Dasar, seni tari lawet adalah pelajaran muatan lokal yang harus dikuasai setiap siswa. Saya masih ingat, pada waktu-waktu tertentu guru dan murid menggunakan waktu khusus untuk bersama-sama menari lawet di halaman sekolah kami. Bahkan, tari tersebut diujikan ujian praktek kelulusan. Seringkali dilombakan juga antar sekolah di setiap tahunnya. Namun, akhir-akhir ini sepertinya sudah tidak populer lagi diajarkan di sekolah-sekolah, mungkin karena semakin sedikit orang yang melestarikan (tidak ada regenerasi).

Jika melihat potensi alamnya, Kebumen terdiri dari dataran tinggi, rendah, dan pesisir pantai. Dataran tinggi membentang indah di sebelah utara kota. Daerah yang paling terkenal adalah Kantor LIPI Karangsambung yang banyak meneliti tentang tanah dan jenis batu-batuan bumi. Kota Kebumen sendiri termasuk wilayah dataran rendah. Sedangkan ketika melihat ke arah selatan, maka hamparan pasir Samudera Indonesia adalah batas laut kharismatik Kota Kebumen. Di sanalah banyak terdapat pantai-pantai sebagai potensi wisata, sebut saja Pantai Petanahan, Pantai Ayah/Logending, Pantai Bocor, Pantai Karangbolong, Pantai Menganti, dan pantai-pantai kecil lainnya.

Suasana yang terkadang membuat saya kagum melihat Kebumen adalah ketika masyarakat berangkat bekerja dan menuntut ilmu setiap pagi. Untuk mereka yang berladang, seringkali nampak berjalan kaki melewati rumah dengan segala perlengkapan menuju sawahnya. Untuk mereka yang bersekolah berbondong-bondong jalan kaki atau menaiki sepeda. Pengendara motor dan mobil lebih banyak ditemui untuk mereka yang bekerja kantoran atau instansi pemerintahan. Selebihnya mereka adalah pekerja serabutan, tukang becak, penjual sayuran di pasar, dan pengusaha kecil hingga eksekutif.

Fajar menjelang ketika saya harus bersiap diri meninggalkan kota sunyi ini. Di sana menunggu bus yang selalu setia mengantar mengejar mentari meraih mimpi. Kisahku dengan hari-hari indahmu selalu terlukis dalam batin. Sebuah kebanggaan ketika suatu saat nanti kami bisa berbuat untuk merias kota Kebumen dengan tidak melupakan setiap kharismanya. Kebumen adalah titik hitam kecil ketika melihat peta Indonesia, tetapi ia adalah mutiara yang bisa dicumbui masyarakatnya dengan segala pesona. Aku bangga menjadi bagian darinya… 🙂