Uncategorized

Cerita Semalam, Berlayar di Venue OutLoud ‘Maju Tak Gentar’

Waktu menginjak pukul setengah tujuh, ketika kami berempat hendak menuju Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Bukan sepakbola yang akan kami saksikan malam itu. Sebuah pertujukan konser gratis yang diisi oleh band/grup populer Jogja serta band bintang tamu dari kota lain. Panggung OutLoud berdiri megah di halaman stadion dengan mengangkat jargon “Maju Tak Gentar” sebagai soundtracknya. Di sekitarnya, orang-orang yang nyaris berseragam hitam semua itu mulai berbondong-bondong datang seperti kumpulan brandal yang akan mencari mangsa.

Band lokal yang dijadwalkan tampil yaitu Shaggy Dog dan Jogja Hip Hop Foundation, sedangkan bintang tamunya adalah The Sigit dan Superman Is Dead. Mayoritas pengunjung yang datang ke venue tersebut adalah pemuda pemudi fans Shaggy Dog (Doggies) dan Superman Is Dead (Outsiders) dari berbagai kota. Tampaknya kami tak sempat menyaksikan The Sigit, karena mereka sudah tampil paling awal sebelum kami sampai.

Aksi Jogja Hip Hop Foundation (JHF) langsung disuguhkan ketika kami sampai di lokasi konser. Grup hip-hop beranggotakan lima rapper yang baru-baru ini populer lewat single ‘Jogja Istimewa’ itu membawakan beberapa lagu sekaligus. Mereka unik, karena lirik-lirik dalam lagu-lagu mereka digubah dalam campuran Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus. Irama yang kental akan suara bass dan treble membuat sebagian penonton berjoget kecil di tempat.

Sekitar lima lagu JHF menggoyang venue yang semakin padat. MC muncul menyambut pelancong dengan banyolan-banyolan khas anak muda sebelum performer berikutnya tampil. Diselingi dengan soundtrack OutLoud ‘Maju Tak Gentar’ yang anthemic, semakin membuat pendengarnya tidak lelah berpijak di tempat untuk menyambut idola mereka.  Urutan berikutnya yaitu Shaggy Dog, mulai menyapa penonton untuk bersama-sama menikmati musik khasnya yang sering diistilahkan sebagai aliran ‘Doggy Style’.

Dibuka dengan lagu Ditato yang diambil dari album terakhirnya, Bersinar. Dilanjutkan dengan track-track seperti Bersinarlah Kembali, Gosip, Jalan-Jalan, Anjing Kintamani, Lagu Rindu, dan beberapa track lain di album-album sebelumnya. Beberapa kali sang vokalis, Heru, memberikan nasihat-nasihat ringan untuk mengajak penonton melancong di kota wisata dan budaya Yogyakarta. Tak hanya itu instruksi untuk mengangkat tangan beberapa kali diserukan sang vokalis. Pertunjukan ditutup dengan sing along lagu Di Sayidan. Doggies-doggies mulai menari-nari di sekitar arena, begitu pula dengan mereka yang hapal di luar kepala lagu tersebut.

SID membakar malam

Hujan gerimis sedikit mendinginkan suasana malam itu, meskipun di sebelah kanan kiri panggung, air pemadam kebakaran disediakan untuk mengguyur penonton di barisan depan. MC kembali muncul di atas panggung, sementara kru performer selanjutnya berkemas menata perlengkapan panggung. Mereka menyapa penonton dengan panggilan Outsider “We Are Outsiders”. Lautan manusia menjawab dengan jawaban yang sama. Sudah pasti performer selanjutnya adalah band yang mempunyai punggawa yang hadir paling banyak malam itu, yaitu Superman Is Dead.

Satu per satu personel SID, dimulai dari Eka sang pencabik bass, Bobby sang gitaris merangkap vokalis, dan Jerinx sang pengetuk drum yang garang mulai hadir menyambut penggemarnya.  Dibuka dengan track menghentak, “Punkrock Lowrider”, sinar-sinar lampu panggung berkeliaran menyilaukan setiap mata manusia di hamparan lapang malam itu. Ada yang unik dengan penampilan SID, para personel mengenakan baju batik sebagai tanda penghormatan untuk negeri yang rendah hati, Yogyakarta. Sebuah bukti dan  isyarat bahwa mereka peduli dengan budaya dan menghargai setiap perbedaan.

Pertunjukan dilanjutkan dengan single-single seperti Saint of My Life, Menuju Temaram, Lady Rose, Kuta Rock City, Punk Hari Ini, We Are Outsiders, Poppies Dog Anthem, Musuh Sahabat, Bad Bad Bad, Luka Indonesia, Kuat Kita Bersinar, Vodkabilly, serta ditutup dengan Jika Kami Bersama.

Panggung mulai sunyi ketika di tengah pertunjukan sang drummer melakukan solo akustik membawakan lagu wajib nan romantis, Lady Rose, untuk ke sekian kalinya. Posisi drum digantikan oleh Bobby, dan gitar digantikan Eka sementara waktu. Suara yang nyaris mirip dengan vokalis Social Distortion, Mike Ness, Jrx menyanyikan lagu itu dengan gitar akustik yang mesra dibumbui suara serak menyayat hati. Menurut cerita, lagu ini dibuat untuk kekasih Jrx yang sekarang sudah menjadi istrinya. Beberapa penonton ikut berkabung menyaksikan penampilan Jrx dengan serta merta menyalakan lilin di tengah panggung yang mulai gelap.

Pertunjukan masih panas dan berlanjut dengan track-track yang bisa menghipnotis pendengar menyanyi bersama sambil mengangkat tangan dan teriakan lantang membahana ala Outsiders sejati. Konser berjalan aman, lancar, dan damai selama pertunjukan berlangsung, sepertinya semua sudah paham dengan citra performer yang tampil malam itu.

Konser ditutup dengan medley dan di-mix antara lagu  Kemesraan ciptaan Iwan Fals dengan Jika Kami Bersama. Sebuah lagu yang hampir dinyanyikan sebagai penutup acara ketika SID tampil. Kolaborasi SID dan Shaggy Dog menyajikan penampilan yang sarat akan persatuan, mengajarkan perdamaian di antara dua kubu yang berbeda aliran. Sebuah lowrider ditumpangi seorang personel terus berputar-putar di atas panggung hingga pertunjukan selesai ketika lagu tersebut dikumandangkan.

Pukul sebelas tepat malam itu konser ditutup dan penonton mulai berhamburan meninggalkan lapangan dengan perasaan puas gembira menyambut idola terbaik mereka. Semangat membara siap membawa hari esok dengan obor cerita semalam yang dipancarkan di atas layar panggung OutLoud. Sangat beruntung, hujan yang merintik sepertinya membuat keadaan menjadi tidak penuh dengan kericuhan.