Uncategorized

Day II KKL – Kembali ke Jakarta, Meskipun Macet

Waktu masih terlalu pagi untuk beraktifitas ketika kami sampai di penginapan. Waktu yang masih tersisa itu kami gunakan untuk melakukan ibadah sholat Shubuh terlebih dahulu sambil menunggu antrian mandi pagi. Berhubung satu kamar mandi difasilitasi untuk enam orang. Kami pun bergegas dengan cepat dan bersemangat untuk mempersiapkan diri menuju ke tempat kunjungan yang pertama. Sarapan pagi sudah tersedia di salah satu ruangan khusus untuk makan bersama.

Sinar mentari pagi itu mulai menyambut dengan begitu cerah. Tiba saatnya kami harus masuk ke dalam bus masing-masing untuk menuju ke agenda hari itu. Dalam jadwal tertulis bahwa bus yang saya tumpangi akan menuju ke GMF (Garuda Maintenance Facility) AeroAsia yang terletak satu komplek dengan bandara Soekarno Hatta. Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalanan ibu kota.
Memang benar adanya, baru beberapa meter bus kami meninggalkan area penginapan, di depan sudah tampak kemacetan yang cukup panjang.Sebagian besar jalan utama di Jakarta menjadi begitu sempit karena adanya pembagian jalur khusus untuk bus Trans Jakarta, yang diharapkan bisa memperlancar transportasi di kota metropolitan seperti itu. Harapan hanya tinggal harapan, jalur tersebut malah membuat arus kendaraan yang lalu lalang menjadi semakin berhamburan. Beberapa sepeda motor, mobil, hingga bus seringkali menggunakan jalur Trans Jakarta untuk keluar dari antrian jalan umum. Mereka berharap bahwa waktu adalah uang, entah itu karena kekurangsabaran pengendara atau memang orang-orang Jakarta sudah gila kerja.

Entahlah, seketika itu saya jadi teringat kunjungan terakhir saya kurang lebih enam tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP, tepatnya dalam rangka kegiatan study tour obyek wisata ke Jakarta. Kunjungan ini adalah kali ketiga saya menapakkan diri di ibu kota. Jakarta saat itu tampaknya belum separah seperti saat ini. Kamacetan tentu sudah ada, tetapi jumlahnya tidak sebanyak seperti saat ini, hanya di beberapa titik yang rawan macet. Mungkin salah satu penyebabnya adalah selain bertambahnya penduduk Jakarta, juga dahulu belum dibangun jalur bus Trans Jakarta.

Gedung-gedung menjulang tinggi ditemui di setiap ruas jalan. Entah itu gedung perkantoran, mall, bank, hotel, atau apartemen, semuanya sungguh menghiasi daratan Jakarta. Pemandangan yang menurut saya jarang ditemui di setiap kota di Indonesia. Jumlahnya pun begitu banyak dengan tinggi yang melebihi bangunan tertinggi yang sering saya temui di Yogyakarta.

Perjalanan pagi itu kami isi dengan canda tawa dan beberapa ada yang masih ingin tertidur hingga sesampainya di tempat tujuan. Ternyata waktu sudah melebihi pukul sembilan pagi. Tampaknya kami akan sampai di tujuan sekitar pukul sepuluh pagi, karena ada kendala kemacetan padat merayap yang terlalu sering dilalui.

Akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan. Tempatnya begitu megah, ditemani cahaya yang cerah saat itu. Tampak dari kejauhan beberapa aktivitas para karyawan GMF disertai deretan parkir yang dipenuhi mobil-mobil di tanah yang begitu lapang nan indah. Di salah satu gedung/ruangan terbesar yang ternyata adalah sebuah hanggar pesawat tertulis logo dan lambang GMF Aeroasia. Kami pun lantas bergegas turun dari tempat duduk masing-masing. Disana kami disambut oleh beberapa orang yang salah satunya seorang wanita sebagai guide.

Kami diberi beberapa peraturan saat memasuki ruang-ruang di sekitar GMF diantaranya tidak diperkenankan membawa tas dan dilarang memotret pesawat/periferal lain yang dilarang. Menurut mereka ini dilakukan untuk menjaga privasi perusahaan tersebut. Kami pun satu per satu dipersilahkan masuk ke dalam sebuah ruang pertemuan untuk mendengarkan beberapa presentasi mengenai GMF selama beberapa menit sambil menimati satu paket snack yang diberikan.

Hari sudah semakin siang, acara dalam ruangan itu bubar. Kami menyempatkan berfoto bersama di sekitar ruangan tersebut sebelum menuju ke laboratorium dan hanggar pesawat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Lantas kami berangkat menuju ke laboratorium yang digunakan untuk melakukan perbaikan/maintenance sistem pesawat terbang. Suasana nampak sepi dalam ruangan itu, hanya beberapa teknisi yang sedang sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing.

Beberapa menyambut kedatangan kami untuk sedikit berbagi mengenai apa yang biasa dilakukan dalam ruangan tersebut. Banyak diantara kami yang bertanya tentang fungsi berbagai macam alat sering digunakan untuk perbaikan pesawat. Disana kami sempat dikenalkan black box dan bagaimana cara pembacaannya. Semua ruangan di tempat itu tampak steril dan ber-AC sehingga nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas. Kabarnya para teknisi yang ada di sana akan lebih banyak mendapat kesibukan jika ada pekerjaan perbaikan pesawat yang sedang bermasalah, jika tidak maka mereka akan bekerja lebih santai.

Sudah satu jam lebih kami berada di tempat itu untuk mendengarkan beberapa penjelasan dari beberapa teknisi dalam laboratorium itu. Tujuan terakhir di GMF adalah kunjungan di hanggar pesawat yang letaknya tidak jauh dari tempat semula. Kami menaiki bus sambil berputar-putar mengelilingi area hanggar mencari tempat yang tepat untuk berpijak. Mungkin ada sedikit kebanggan tersendiri ketika kami melihat banyak pesawat canggih di sana, meskipun saya yakin tidak banyak diantara kami yang sudah pernah menaikinya.

Kami pun dipersilakan untuk masuk ke dalam salah satu pesawat, hanya untuk sekedar melihat suasana di dalam pesawat dari ruang kokpit hingga ruang penumpang. Semuanya menyerbu pesawat tersebut hingga suasana menjadi begitu ramai dan pengap. Akhirnya beberapa diantara kami langsung turun dari tempat itu dan lebih banyak mencari tempat yang tepat untuk berfoto-foto di dekat pesawat. Hingga pada akhirnya kami menutup kunjungan di GMF itu dengan berfoto bersama-sama. Sungguh pemandangan dan kesempatan yang jarang didapatkan.

Siang mulai membakar kulit dan tibalah saatnya kami makan siang. Kami diberikan sebuah nasi box sebagai menu makan siang hari itu di dalam bus hingga kami meninggalkan area itu. Sang guide GMF pun undur diri dan mengucapkan sampai bertemu kembali di lain waktu. Di antara kami masih ada setitik harapan jika masih ada waktu banyak, maka kami akan mengelilingi semua tempat yang ada di area itu sampai puas. Tapi, semua itu harus diakhiri dengan sejumlah agenda perjalanan berikutnya yang sudah menunggu di depan. Selamat tinggal GMF!


Perjalanan siang itu kami lanjutkan menuju tempat selanjutnya. Seharusnya tujuan selanjutnya kami adalah ke sebuah perusahaan lain, tetapi karena ada pembatalan dari pihak yang bersangkutan, maka kunjungan dibatalkan. Lalu untuk mengganti kekosongan kunjungan sore itu, akhirnya kami putuskan untuk mengunjungi salah satu mall besar di Jakarta, yaitu Mall Cempaka Mas. Kami diberikan waktu sekitar dua jam untuk menikmati suasana di tempat itu alih-alih sambil berbelanja jika ada sesuatu yang ingin dibeli.
Beberapa diantara kami langsung menuju masjid terdekat yang ada di dalam area mall tersebut untuk menunaikan ibadah sholat dhuhur sambil beristirahat sejenak. Selanjutnya kami memutuskan untuk bersantai dan jalan-jalan di salah satu mall besar yang ada di Jakarta tersebut. Dari awal diantara kami memang tidak mempunyai rencana untuk berkunjung ke tempat tersebut, sehingga kami juga merasa bingung untuk membeli sesuatu di dalam mall tersebut.

Tampaknya mall tersebut banyak menjual berbagai macam benda-benda rumah tangga, aksesoris, pakaian, barang elektronik, makanan, dan lainnya. Akan tetapi, barang-barang yang dijual tidak mahal karena kebanyakan bisa ditawar. Sebab, mall tersebut terdiri dari banyak kios yang disewa untuk orang banyak. Bangunan mall tersebut terdiri dari lima lantai dengan berbagai fasilitas dimana setiap lantai dihubungkan dengan lift dan tangga.

Akhirnya berhubung kami merasa kehausan, kami sempatkan untuk mencari minuman sebagai pelepas dahaga. Kami pun menuju ke tempat penjual makanan dan minuman. disana kami berkumpul dan bercanda tawa (nongkrong) dengan teman-teman satu bus lainnya. Bahkan kami sempat menjahili salah seorang teman yang ketiduran setelah menunaikan sholat Ashar.

Waktu sudah menunjuk pukul empat sore, tiba saatnya kami harus menuju ke parkiran bus untuk segera berkemas dan menunggu teman lain yang belum kembali. Bus kami meninggalkan tempat itu, meskipun dengan tangan kosong, kami masih tetap semangat dan ceria. Perjalanan dilanjutkan menuju ke Studio Trans Corp. yang kabarnya akan ditempuh selama kurang lebih dua sampai tiga jam. Kami berencana untuk menyaksikan siaran langsung (live) acara Bukan Empat Mata di studio Trans7.

Jalanan mulai macet lagi ketika hari menjelang petang. Hal ini berarti membuktikan bahwa waktu itu adalah waktu ketika para pencari nafkah di Jakarta mulai habis dan mereka menggunakan jalan tersebut untuk menuju rumah masing-masing secara bersama-sama. Bahkan bus kami harus rela untuk merayap hingga sampai ke tempat tujuan. Kelap kelip lampu jalan dan bangunan malam itu tidak membuat kami merasa bosan, justru membuat kami menanti-nanti kunjungan ke tempat tersebut, karena begitu penasaran.

Kurang lebih pukul delapan kami sampai di studio tersebut. Dua bus lain yang termasuk dalam rombongan KKL kami sudah sampai terlebih dahulu di parkiran. Kami diberikan satu box makanan sebagai menu makan malam kala itu. Selanjutnya kami bergegas menuju ke halaman studio tersebut. Sambil menunggu jadwal siaran Bukan Empat Mata selanjutnya pada pukul sepuluh malam, beberapa diantara kami menyempatkan berfoto bersama di halaman tersebut. Sesekali muncul artis yang lewat, dan meminta berfoto bersama.

Beberapa penonton lain juga sudah bersiap diri untuk menyaksikan siaran tersebut. gedung utama studio tersebut mempunyai gedung yang tinggi menjulang ke atas. Ini dapat dimaklumi karena Trans juga merupakan salah satu stasiun TV swasta terbesar yang ada di Indonesia. Halamannya sangat rapi dan bersih, di bagian pintu gerbang masuk terdapat beberapa security untuk menjaga keamanan di lingkungan tersebut. Setiap pintu masuk selalu dilakukan pemeriksaan yang cukup ketat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Waktu hampir menunjuk pukul sepuluh malam, kami mulai merapat ke studio tempat kami akan menonton acara tersebut. Sebelumnya juga sudah dilakukan siaran BEM shift pertama di studio yang sama pada pukul delapan malam itu. Beberapa teman kami sebagian yang datang terlebih dahulu mendapatkan kesempatan menyaksikan acara tersebut. Tampak di halaman sekitar studio tersebut beberapa kru atau tim bukan empat mata yang sedang berkumpul sambil makan malam untuk mempersiapkan acara.

Mereka tampak kompak dan tidak terlalu serius, kadang diselingi canda tawa antar kru yang terdiri dari beberapa perempuan dan laki-laki. Mereka mengenakan seragam sebagai identitas bahwa mereka adalah kru atau tim acara Trans. Sebagai informasi bahwa Trans merupakan satu-satunya studio televisi yang tim dan krunya mengenakan seragam khusus ketika sedang bekerja. Sempat berpikiran bahwa hidup mencari kerja sebagai tim di sebuah stasiun televisi begitu menyenangkan, yang tentu harus membutuhkan komunikasi antar sesama secara profesional untuk menjalankan sebuah acara dengan baik. Selain itu, bekerja di tempat seperti itu pasti akan sering melihat dan berhubungan dengan artis-artis dan orang-orang hebat lainnya, dimana di luar sana banyak orang yang mengidolakan semua itu, tetapi belum pernah bertemu atau bahkan melihat secara langsung sama sekali.

Tak lama kemudian kami dipersilakan antri bersama penonton lainnya satu per satu memasuki studio tersebut. Memang ukuran studio tersebut cukup besar, kabarnya studio tersebut adalah yang terbesar yang dimiliki Trans7. Suasana di dalam masih sedikit gelap, sambil menunggu semua bangku penonton terisi penuh. Kami disambut dengan beberapa musik live yang ditampilkan oleh band yang biasanya mengiringi acara tersebut. Sambil diiringi alunan musik bertemakan musik country, sang pembawa acara Tukul Arwana muncul di hadapan penonton semua. Sebelum acara live dimulai, kami diberikan beberapa aturan atau hal-hal yang harus dilakukan oleh pengarah acara ketika menyaksikan acara tersebut. Setelah waktu dirasa tepat, maka acara yang disiarkan dimulai, seluruh kamera di studio itu dalam keadaan siap.

Kurang lebih satu setengah jam sudah kami menyaksikan acara tersebut yang menampilkan bintang tamu seperti Bella Saphira, Atika Nainggolan, Dr. Boyke, dan Alyssa Soebandono. Sempat melihat ketika berjalan menuju ke luar studio, beberapa artis sedang diwawancarai oleh beberapa wartawan infotainment di belakang panggung. Kini tiba saatnya kami harus kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan. Mata sudah mulai menahan rasa kantuk ditemani sedikit rasa lelah selama perjalanan, beberapa diantara kami langsung tertidur dalam bus mengingat waktu sudah hampir menginjak tengah malam. Perjalanan cukup cepat karena jalanan mulai sepi kendaraan, tak seperti saat pagi hingga sore hari di jalanan Jakarta.

Akhirnya kami pun sampai di penginapan dan bersiap untuk menikmati malam pertama di penginapan, berharap esok hari akan menjadi hari yang indah. Suasana melebur sepi dan lampu-lampu kamar mulai dimatikan, dengan hawa yang begitu dingin karena nyala AC di malam hari. Lengkap sudah kesan perjalanan di hari pertama kunjungan itu.