Uncategorized

Day I KKL – Melangkah Maju, Berharap Tak Sia

Hari ini adalah hari Senin, tiba saatnya acara KKL 2009 dimulai. Kami pun bersiap tuk bergegas menuju ke tempat pemberangkatan satu jam sebelumnya. Banyak diantara kami yang beberapa masih memikirkan suasana kuliah di kampus tercinta kami, mulai dari tugas-tugas kuliah, praktikum, hingga kekhawatiran tentang perjalanan ini adalah sesuatu yang menyia-nyiakan waktu. Meskipun rasa-rasa itu tetap ada, tetapi dalam hati besar saya tetap optimis bahwa apa yang akan saya jalani akan menjadi sebuah pelajaran berharga yang tak dapat diperoleh setiap waktu.

Tepat pukul 14.00 kami pun diberangkatkan sesuai rencana. Dengan membawa rombongan yang terbagi dalam tiga bus, dengan masing-masing bus dilengkapi dengan seorang driver, co-driver, dan lead tour. Doa-doa pun kami panjatkan agar perjalanan menuju Jakarta ini selamat dan lancar hingga sampai ke tujuan. Tampaknya kami akan melalui jalur pantai selatan untuk mempercepat perjalanan kami ke tempat selanjutnya.

Banyak diantara kami yang mulai banyak bercengkerama di dalam bus dan sebagian lainnya hanya termenung, entah masih memikirkan sesuatu yang tak bisa dilihat atau hanya sekedar manahan rasa kantuk. Sang tour leader memberi informasi bahwa sore ini kami akan dibawa menuju tempat pemberhentian pertama, yaitu ke restoran lokal yang terletak di Kabupaten Banyumas untuk makan malam. Sempat kami memberhentikan sejenak bus yang kami tumpangi di sebuah pom bensin untuk memberi kesempatan bagi mereka yang ingin ke kamar kecil.

Hari pun semakin sore, kami pun sampai di restoran yang dimaksud sekitar pukul 17.00. Kami langsung disambut oleh sekelompok manusia yang memainkan musik tradisonal bersenjatakan angklung dan beberapa jenis tabuhan lainnya. beberapa diantara kami mulai memanfaatkan kesempatan pertama ini untuk berfoto-foto bersama. Menu kali ini dihidangkan dalam bentuk prasamanan yang dihidangkan dalam meja panjang berisikan nasi, ayam, telur, mie goreng, teh, dan semangka. Kami harus antri satu per satu untuk mendapatkan itu semua. Beberapa memilih untuk melaksanakan sholat maghrib yang dijamak dengan sholat isya di musholla yang telah disediakan sembari menunggu antrian yang cukup panjang.

Berbagai jenis hiburan pun disiapkan oleh penyedia restoran untuk menyambut kedatangan kami, dari pemberian surprise kepada kawan-kawan yang sedang berulang tahun hingga bermain sulap, mungkin acara tersebut semata-mata dimunculkan untuk menghidupkan suasana atau sekedar untuk promosi restoran tersebut.

Malam pun datang dan jarum jam menunjuk pukul 19.00. Tiba saatnya kami meninggalkan restoran lokal tersebut dan melanjutkan perjalanan kami langsung menuju ke penginapan di daerah Ragunan, Jakarta. Kabarnya kami akan sampai di tempat tersebut di waktu shubuh keesokan harinya. Selain itu, jalur yang kami lewati juga cukup berat, dimana akan banyak ditemui banyak tikungan tajam yang naik turun ketika memasuki daerah Jawa Barat.

Agar suasana tak terlalu garing, maka sang co-driver memutarkan kami sebuah film yang kontroversial, itulah 2012. Diantara kami sudah ada yang merasakan dinginnya malam, sehingga tak jarang yang kemudian mematikan nyala AC dan mengenakan jaket anti dingin yang mereka miliki.

Waktu pun semakin larut malam, tapi tampaknya sebagian dari kami masih banyak yang bercanda satu sama lain. Suasana masih hidup di bagian kursi depan, sementara di bagian belakang sudah mulai tak tahan menahan rasa kantuk, dan tidurlah mereka di tengah gelap nan dingin sambil merasakan ayunan langkah bus yang kesana kemari.

Saking parahnya keadaan jalan yang berkelok-kelok dan di beberapa titik sudah mulai macet, menyebabkan seorang kawan kami merasa ada masalah dengan perutnya. Alhasil, bus kami harus mengalah untuk mengantarkannya ke rumah sakit terdekat, tepatnya di daerah Ciamis. Setelah melakukan negosiasi yang cukup lama, sedangkan bus kami harus berhenti menunggu di pinggir jalan, maka dengan segala kerendahan hati kami terus melanjutkan perjalanan kami dengan kehilangan teman kami yang harus rawat inap selama satu malam.

Waktu sudah melebihi angka 12 malam itu, dan kebetulan saat itu adalah malam pergantian bulan, yaitu tepat 1 Desember.Banyak penghuni bus itu, kecuali sang driver, yang berhasil tertidur sambil menunggu jalannya waktu. Berharap esok tak banyak merasakan kantuk yang terlalu parah, maka saya pun juga ikut tertidur diselingi beberapa kali mengintip pemandangan di luar jendela. Kelap kelip lampu kendaraan, perumahan warga, dan langit semakin menambah indahnya malam itu.

Pukul dua kami pun sampai di jalan tol Cikampek, sebuah jalan bebas hambatan yang menghubungkan perbatasan Jawa Barat dengan Jakarta. Dalam hati bergumam,di kanan kiri banyak pabrik-pabrik yang berdiri di sepanjang jalan itu. Sungguh pemandangan yang hanya bisa dilihat di kota-kota industri seperti ini. Truk-truk besar pembawa muatan juga sudah banyak berlalu lalang di jalanan tersebut. Tentu tak hanya hari itu pemandangan seperti ini bisa dinikmati, tetapi setiap saat, entah itu pagi, siang, hingga malam. Tetapi kami yang baru beberapa kali berkunjung atau melewati jalan tersebut tentu akan merasakan perbedaan suasana dengan apa yang kami rasakan di kota tempat kami menempuh studi, tepatnya di Yogyakarta.

Tampaknya waktu sudah berada di saat-saat pagi menjelang. Kami pun masuk di kawasan Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Bus mulai berjalan pelan-pelan memasuki area perumahan yang ternyata banyak dihuni oleh calon-calon atlet nasional. Udara pagi semakin terasa sejuk. Sang tour leader membangunkan kami yang masih tertidur dan sedikit memberi gambaran tentang kawasan itu. Kabarnya penginapan yang kami tempati akan satu atap dengan penginapan yang digunakan tim kesebelasan Persija Jakarta. Kabar itu benar adanya, tampak di depan kaca bus sebuah bus bertuliskan Persija. Beberapa diantara kami mulai kegirangan mendengar berita itu, karena mereka berharap akan benar-benar  bertemu dan berfoto bersama dengan beberapa pemain kesebelasan tersebut.