Uncategorized

My Books Review of 2010

HOT, FLAT, and CROWDED, karangan Thomas L. Friedman

101627_hot,-flat-and-crowded_pbilimage1Entah mengapa saya selalu ingin membaca buku ini. Pertama kali melihat buku ini yaitu ketika diajak seorang teman jalan-jalan di Gramedia. Tak sengaja saya melihat buku tersebut ada di rak dan kemudian saya dekati untuk mencari isi tahu buku tersebut. Mungkin sedang terbawa mood saat itu yang sedang bergema isu Global Warming. Saya juga sempat tertarik dengan isu tersebut. Terlebih pengarangnya adalah Thomas L. Friedman yang juga penulis buku best seller The World is Flat. Awalnya sedari dulu saya memang menginginkan buku tersebut, tetapi sudah sulit ditemukan di toko-toko buku. Sudah beberapa kali saya di berbagai kesempatan menanyakan ketersediaan buku tersebut. Akhirnya pikiran saya tergerak untuk membeli buku ini beberapa hari kemudian. Kalau tidak salah, buku ini saya beli sekitar bulan Februari 2010.Open-mouthed smile

Bukunya cukup tebal, ada sekitar 700an halaman. Pikir saya pembahasan buku tersebut pasti tidak jauh dari yang ditulis di buku Friedman sebelumnya “The World is Flat”. Di buku “HOT, FLAT, and CROWDED” ini, penulis lebih banyak bercerita dan pemaparan berbagai fakta atas isu-isu global warming. Diawali dengan pembahasan definisi HOT, FLAT, baru kemudian CROWDED. Ketiga istilah tersebut mendeskripsikan bahwa keadaan bumi saat ini sedang dalam keadaan panas (global warming), flat (dimana semua orang dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa batas, misal dengan adanya jaringan maya), dan crowded (seiring dengan pertambahan populasi manusia dunia yang semakin meningkat dan padat).

Memang banyak fakta yang ditampilkan secara utuh dalam buku tersebut, sehingga membuat pembaca akan sering mengerutkan dahi, memahami setiap pembahasannya. Mungkin salah satu kekurangan lain buku ini adalah penggunaan kata-kata ilmiah dan  merupakan hasil terjemahan versi asli dalam bahasa Inggris, sehingga terkadang sulit dicerna maksudnya. Buku ini akan menyadarkan kita semua, para penghuni bumi, untuk selalu menjaga bumi agar tetap hijau, sekecil apa pun itu usaha kita. Banyak contoh-contoh kasus yang diangkat dalam buku ini seputar penghematan dan efisiensi energi ramah lingkungan. Ulasannya memang banyak dicontohkan dan mengangkat masalah-masalah yang ada di Amerika. Bisa dimaklumi karena penulis merupakan warga negara tersebut, selain itu Amerika juga dikenal sebagai negara yang mempunyai pengaruh besar di dunia (adidaya).

Setelah membaca buku ini saya belajar banyak hal yang bisa disimpulkan bahwa  kehidupan kita ini ternyata terdiri dari kompleksitas yang tidak disadari bahwa semuanya saling mempengaruhi. Tidak mudah memperbaharui energi yang lama terbarukan untuk memenuhi kehidupan vital saat ini dan masa depan. Dari buku ini juga, saya juga menjadi tertarik untuk melihat film An Inconvenient Truth, sebuah film dokumenter yang disajikan oleh ahli/pakar global warming Amerika, Al Gore. Ia juga seorang mantan wakil presiden Amerika ke-45 dari tahun 1993-2001, dimana ketika itu Bill Clinton sebagai wakilnya. Ia sempat memperoleh penghargaan nobel perdamaian di tahun 2007 atas keaktifannya dalam meneliti Climate Change. Sampai tulisan ini dibuat, saya belum sempat membaca semua isinya, masih ada beberapa halaman akhir yang mungkin nanti akan jadi PR tersendiri buat saya, hehe…Rolling on the floor laughing

Pak Beye dan Politiknya, karangan Wisnu Nugroho

pak beye dan politiknya - kompasKalau buku yang satu ini saya temui di buku Togamas, yang saat itu kebetulan sedang iseng mencari buku referensi kuliah. Saya tiba-tiba terpikirkan untuk membeli sebuah buku bacaan yang tidak ada hubungannya dengan kuliah saya. Lantas saya mencari-cari buku yang berada di deretan buku-buku rilisan terbaru di beranda terdepan toko tersebut. Entah jackpot atau tidak saya terkesima dengan buku ini. Tampaknya saya sedang haus informasi akan pergulatan politik Indonesia. Sambil memberanikan diri menjadi warga negara Indonesia yang baik dan benar. Hehe…

Buku ini ditulisi oleh seorang wartawan senior Kompas, Wisnu Nugroho, yang mengaku seringkali meliput keseharian Pak Beye, begitu penulis menyebut presiden RI saat ini. Setelah saya cermati, buku ini ternyata berisi kumpulan posting artikel blognya di Kompasiana, beserta foto-foto ekslusif hasil jepretannya yang dikemas dalam  bentuk yang rapi, dipilah-pilah sesuai dengan topiknya. Buku ini merupakan seri kedua dari tetralogi lain yang telah dan sedang dikerjakan penulis. Sesuai judulnya, di edisi ini penulis banyak bercerita tentang politik Pak Beye, dalam hal pemerintahan, kampanye, hingga yang paling unik, yaitu klenik-klenik yang secara sengaja atau tidak sengaja selalu mengandung angka 9, angka favorit Pak Beye. Dari lukisan yang ada di pendopo rumah Pak Beye, tanggal lahir, nomor partai, dan lain-lain.

Gaya penulisan yang santai dan diselingi guyonan dengan jargon andalannya “mengangkat yang tidak penting agar yang penting tetap penting”. Meskipun artikel-artikel yang ditulis singkat, antara dua sampai tiga halaman saja, tetapi foto-foto yang disertakan semakin membuat buku ini tidak membosankan. Tak jarang penulis menyinggung atau mengkritik pemerintah secara halus bin malu-malu dan membuat pembacanya menerka apakah betul atau tidak pendapatnya itu. Saya pikir ini adalah salah satu contoh indahnya kebebasan pers di pemerintahan saat ini dibanding ketika Orde Baru zaman Pak Harto. Saya yakin jika Pak Harto masih berkuasa sampai detik ini, maka buku ini tidak akan pernah diciptakan. Bagi Anda yang ingin mengenal lebih dekat dengan politik Pak Beye, buku ini bisa menjadi sajian yang hangat tanpa harus mengerutkan dahi.Nerd smile

Soe Hok-gie Sekali Lagi…, karangan Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan, dkk.

7299756Buku ini saya dapat juga secara tidak sengaja. Gara-gara baca buku “Pak Beye dan Politiknya”, saya jadi ketagihan membaca buku. Ketika itu saya niatnya ingin membeli buku yang sudah direncanakan sebelumnya. Itung-itung sambil menambah referensi, saya putuskan untuk mencari buku bacaan lain. Tidak ada niatan lain kecuali melihat kumpulan buku di papan bertuliskan “Best Seller”. Sempat bingung memilah buku-buku yang ada di bagian itu. Selain bukunya tebal dan harganya murah, saya baca saja komentar pembaca buku di balik buku itu. Tanpa pikir panjang, langsung saya beli buku itu. Kebetulan mood waktu itu adalah tentang politik.

Rasa penasaran saya tentang Soe Hok-gie yang banyak dikagumi orang juga menambah perhatian saya kepada buku itu. “Apa sih yang membuat sosoknya disegani?” Itu yang ada di pikiran saya ketika itu. Buku ini tampaknya terdiri dari beberapa bab yang ditulis oleh orang-orang yang berbeda. Saya mulai paham ketika membaca kata pengantar atau semacam kata pembuka buku tersebut yang disampaikan oleh perwakilan penulis. Buku tersebut diawali dengan tulisan-tulisan tragedi tewasnya Soe Hok-gie dan Idhan Lubis ketika mendaki Gunung Semeru di tahun 1969. Ditulis secara runtut per kejadian oleh teman-temannya Soe Hok-gie yang masih hidup ketika buku ini ditulis, diantaranya Rudy Badil.

Bagian yang kedua lebih menceritakan ke sosok seorang Soe Hok-gie di mata teman-teman kuliahnya pada waktu itu. Termasuk cerita tentang pemikiran-pemikirannya yang cerdas, kehidupan dan keseharian dengan beberapa teman, hingga kisah cintanya. Semua disampaikan oleh saksi-saksi hidup ketika itu. Saya sempat terharu membaca tulisan Kartini, yang sekarang masih menjadi dosen di UI. Beliau banyak bercerita tentang kisah cintanya dengan Soe Hok-gie, bagaimana ia memandang Soe Hok-gie sebagai seorang yang menyenangkan hingga mempengaruhi kehidupan sehari-harinya. Tidak hanya si Ker yang mengagumi, teman-teman yang lain ternyata sangat kagum pada sosok Hok-gie.

Bagian yang ketiga membahas cerita orang-orang yang tidak sempat berkenalan dan bertemu Soe Hok-gie. Tetapi mereka mengagumi sosoknya. Hingga dibuatkan sebuah film berjudul GIE oleh Mira Lesmana, dimana sosok Gie diperankan oleh Nicholas Saputra. Kedua orang tersebut juga ikut menyumbangkan pengalamannya tentang Soe Hok-gie. Bahkan seorang S2 dari Australia, John Maxwell mengambil tokoh Soe Hok-gie sebagai topik disertasinya. Bagian yang keempat menyajikan beberapa tulisan Soe Hok-gie yang sempat diterbitkan dalam berbagai surat kabar atas pandangan-pandangan politiknya dan cerita-cerita pendakian.

Saya banyak mendapat banyak pelajaran dari buku ini. Soe Hok-gie bagi saya adalah seorang pemuda yang idealis, pluralis, berjiwa seni, baik hati, cinta tanah air, dan intelek. Ia seorang yang bisa melindungi dan menyemangati teman-temannya. Cita-citanya yang luhur untuk mewujudkan Indonesia yang makmur dari segala bentuk kecurangan menjadi inspirasi bagi setiap orang yang ingin melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Jika Anda tertarik dengan sepak terjang seorang Soe Hok-gie, buku ini bisa menjadi inspirasi terbaik bagi kita yang masih muda.Be right back