Uncategorized

Ketika Aku Jadi Relawan

Tampaknya Indonesia di penghujung tahun 2010 banyak mengalami duka cita. Bencana dan musibah dari Sang Maha Pencipta telah memakan banyak korban, baik yang berupa nyawa dan harta benda. Mungkin ini adalah teguranNya atas segala kecerobohan umat manusia di bumi. Akan tetapi, kita selayaknya harus tetap bersyukur atas nikmat yang selalu dilimpahkan kepada kita sekalian, yang masih sehat dan dengan pikiran tajam masih dapat menyongsong masa depan. Kekuatan dan tekad untuk selalu berbuat baik kepada setiap orang senantiasa harus selalu kita tanamkan dalam pikiran kita.

Beberapa hari yang lalu, salah satu musibah yang paling dekat dengan keberadaan saya yaitu bencana erupsi Gunung Merapi. Kebetulan saya kuliah di Yogyakarta, sehingga secara tidak langsung terkena dampak dari musibah tersebut. Dari banyaknya pengungsi yang tersebar dimana-mana, kebutuhan akan bantuan dan relawan yang masih kurang, serta keadaan daerah Yogyakarta dan sekitarnya yang tak kunjung kondusif selama beberapa pekan karena tebaran abu vulkanis. Hal ini juga mempengaruhi sistem perekonomian dan kehidupan masyarakat Yogyakarta pada khususnya. Banyak toko-toko yang tutup, sekolah dan kampus diliburkan, serta banyak warga yang ikut mengungsi ke luar kota Yogyakarta.

Terlintas dalam benak saya untuk ikut menjadi relawan. Meskipun di hari-hari awal pasca bencana saya terpaksa pulang ke kampung halaman, tetapi pada akhirnya saya diajak oleh teman saya untuk ikut menjadi relawan. Pikir saya itu adalah ide yang sangat mulia, tetapi berhubung sebentar lagi kuliah tatap muka akan segera berlangsung normal, maka saya berjanji untuk ikut selama beberapa hari saja. Mungkin saya merasa sudah saatnya mencari pengalaman baru di dunia luar, setelah beberapa hari melakukan kegiatan yang begitu monoton. Keesokan harinya lantas kami (saya dan seorang teman) bergegas menuju ke barak pengungsian yang jaraknya sekitar 15 km dari puncak Merapi.

Tak masalah bagi saya untuk menempuh perjalanan sekitar 20 menit dengan sepeda motor, berhubung ketika itu semangat masih membara dengan segala niat positif. Sesampainya di sana sekilas nampak sepi dari orang-orang, karena memang hari itu masih terlalu pagi untuk beraktivitas. Ternyata setelah mendapat kabar, bahwa sebagian pengungsi yang ada di sana sedang menuju ke pemukiman mereka untuk bersih-bersih rumah atau bekerja. Ini bisa dimaklumi karena mereka juga harus bisa bertahan hidup dengan menyiapkan segala sesuatunya sebelum keadaan membaik, sehingga tidak bergantung pada bantuan di pengungsian.

Kebetulan kami ditempatkan di pos informasi yang mengurus dan mengelola kebutuhan informasi, dari pendataan pengungsi, pendataan logistik, pendataan dan koordinasi relawan, serta mengurus berbagai administrasi lainnya. Hari semakin siang, tak banyak memang relawan yang berada di sana di banding jumlah pengungsi yang ada. Jika diperkirakan, jumlah relawan yang aktif ketika itu mungkin sekitar 50 orang lebih yang tersebar di berbagai pos seperti pos informasi, logistik, dapur umum, acara, keamanan, dan kesehatan. Sedangkan jumlah pengungsi keseluruhan yang harus dilayani sekitar 1000 orang. Pos yang paling sibuk mungkin ada di pos informasi dan logistik, karena di sana segala kebutuhan pengungsi diatur sebagaimana mestinya.

Di hari pertama masuk di jajaran relawan, banyak yang masih belum akrab, tetapi di hari kedua kami tampaknya sudah semakin solid. Ini semua berkat koordinasi dan evaluasi kerja yang kami lakukan setiap malam, untuk mengoreksi dan melaporkan segala jenis keluhan yang berhubungan dengan pengelolaan barak tersebut secara keseluruhan. Semuanya dibutuhkan usaha, tenaga, dan pikiran yang tidak mudah. Saya bisa merasakan sendiri bagaimana seorang relawan yang tanpa pamrih rela dan bersedia setiap waktu, tak kenal lelah, terjun bersama para pengungsi, berbagi hati bersama mereka, sungguh pengalaman yang luar biasa.

Kepekaan kita terhadap orang lain bisa diukur di sana. Kita harus selalu ikhlas dalam mengorbankan setiap jerih payah kita. Kita juga harus bisa introspeksi diri ketika suatu saat kita merasakan menjadi bagian dari mereka. Bisa dibayangkan bagaimana nasib saudara kita yang rumahnya hancur karena sapuan awan panas beberapa waktu lalu. Apa yang harus mereka perbuat? Tentu sebagai manusia mereka tidak selamanya bergantung kepada relawan, mereka butuh yang namanya masa depan bagi diri mereka, keluarga mereka, dan anak-anak mereka. Yang ada dalam pikirannya hanyalah “Tuhan, cukupkanlah cobaan ini, kembalikan kami ke kehidupan kami selayaknya hari-hari yang lalu”.

Pengalaman selama kurang lebih dua hari yang saya ikuti dari pagi hari hingga larut malam sungguh banyak membawa pelajaran untuk saya sendiri. Saya banyak belajar bagaimana menjadi relawan yang baik, bagaimana melakukan pekerjaan tanpa pamrih, serta bagaimana rasanya hidup di antara banyak pengungsi dengan segala sesuatu yang seadanya. Bagi saya relawan sejati adalah relawan yang tidak satu pun terpintas dalam pikirannya untuk mendapat apresiasi dari orang lain, tetapi mereka yang selalu semangat dalam menjalankan tugas-tugas mereka. Selamat bertugas untuk kawan-kawan relawan di sana, maaf saya hanya bisa membantu selama dua hari itu saja. Tetap semangat dan jaga kondisi…

Quote of the day:
The most remarkable thing about my mother is that for thirty years she served the family nothing but leftovers. The original meal has never been found. – Calvin Trillin