Uncategorized

Seberapa Pahlawan-kah Diri Kita?

hotel_oranye-07bHari ini tepatnya tanggal 10 November 2010, merupakan Hari Pahlawan bagi bangsa Indonesia. Hari tersebut tidak lain ditujukan untuk menghormati jasa-jasa pahlawan Indonesia yang telah berjuang di medan perang ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal tersebut kurang lebih 65 tahun yang lalu merupakan saat-saat yang penting bagi Indonesia. Jika kita melihat kembali catatan-catatan sejarah bangsa ini, tanggal tersebut diambil ketika pada waktu itu seorang pejuang Indonesia di Surabaya, Bung Tomo, merobek bendera Hindia Belanda di warna birunya (bagian paling bawah) dengan gagah berani. Tujuannya yaitu agar bendera yang berkibar di depan Hotel Orange, Surabaya tersebut menjadi bendera kebangsaan Indonesia (merah putih). Situasi saat itu adalah Indonesia baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya di tanggal 17 Agustus di tahun yang sama.

Hingga pada akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai momen untuk mengenang para pahlawan Indonesia. Pemerintah dan sekolah-sekolah di Indonesia selalu menyelenggarakan upacara bendera untuk memperingati hari tersebut. Jasa-jasa para pahlawan yang dengan sekuat tenaga merebut kemerdekaan serta mempertahankannya dinilai sebagai nilai luhur yang wajib ditiru oleh semua lapisan masyarakat. Jika itu harapannya, maka sekarang pertanyaannya adalah sudahkah kita meneladani sikap para pahlawan tersebut?

Meneladani para pahlawan tidak perlu dengan menghapalkan semua pahlawan yang kita kenal, karena menurut saya pahlawan banyak jumlahnya, tidak hanya beberapa yang sering kita dengar dan kita hapalkan ketika masih sekolah. Mereka dikenal karena pada saat itu menjabat sebagai posisi penting dalam medan pertempuran. Justru yang harus menjadi perhatian adalah arti penting seorang pahlawan. Memang jika kita artikan secara istilah, pahlawan itu adalah orang yang berjasa dalam suatu hal. Misalnya jika melihat tanggal 10 November, pahlawan diartikan spesifik sebagai orang-orang yang telah berjuang demi negaranya ketika merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Akan tetapi, ada kemungkinan bahwa arti pahlawan di masa sekarang sudah tak sesuai lagi maknanya dengan ketika masih penjajahan.

Lalu siapakah pahlawan di masa sekarang? Jawabannya adalah mereka-mereka yang telah berjuang demi apapun untuk negaranya. Ingatkah kita ketika masih sekolah dulu tentang ciri-ciri seorang pahlawan. Ya, mereka itu adalah orang-orang yang pantang menyerah, rela berkorban, dan selalu berusaha untuk menggapai mimpi-mimpinya. Kita bisa menyebut pahlawan kepada mereka yang telah berjuang untuk kita, untuk mereka, dan untuk bangsanya. Misalnya, kita bisa menyebut guru kita sebagai pahlawan seperti cerita di novel/film Laskar Pelangi. Guru yang diceritakan dalam novel/film tersebut telah berbuat banyak untuk anak didiknya dalam keadaan apapun. Ia mampu mengajar ketika hujan turun dan atap bocor di ruang kelasnya, ia mampu meyakinkan anak didiknya untuk terus belajar dan belajar, dan ia terus prihatin dengan semua keterbatasan yang dimiliki.

Saya teringat akan guru-guru kewarganegaraan saya ketika masih sekolah dulu. Seringkali beliau berpesan kepada kami untuk menjadi pahlawan di zaman modern. Beliau mengajarkan kepada kami cara-cara terbaik untuk menjadi seorang pahlawan yaitu dengan menuntut ilmu dengan belajar yang giat, saling membantu sesama manusia, menghargai perbedaan yang ada, serta menyelesaikan segala masalah dengan lapang dada. Mungkin keempat hal tersebut adalah kalimat-kalimat yang juga seringkali kita dengar. Tapi menurut saya itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diamalkan. Membutuhkan pemahaman dan kesadaran tinggi untuk benar-benar menyakini itu semua.

Hal yang tidak jauh dari keadaan bangsa Indonesia saat ini yaitu kebutuhan akan relawan ketika terjadi bencana. Mereka juga layak disebut sebagai relawan. Mereka berusaha untuk mengatur, menghibur, dan berteman di tengah-tengah para pengungsi yang kehilangan tempat bermukim. Membantu tim SAR di medan bencana untuk menyelamatkan para korban yang terjebak dalam genangan air ketika banjir dan tsunami, juga terjebak di antara gumulan awan panas dan abu vulkanik ketika terjadi letusan gunung berapi. Sungguh pengorbanan mereka luar biasa, karena telah meluangkan waktu, usaha, dan pikirannya untuk menyelamatkan kehidupan sesama manusia.

Sudah selayaknya kita memberi pujian kepada mereka. Bagi yang belum bisa memperoleh keinginan untuk terjun langsung membantu mereka yang membutuhkan, kita masih bisa membantu dengan banyak cara. Cara yang termudah yaitu dengan berderma, dengan memberikan sumbangan berupa barang-barang darurat yang dibutuhkan (makanan sehari-hari, pakaian pantas pakai, dll.) atau uang. Hindari prasangka negatif atas bencana alam yang sedang berkubang di bumi Indonesia. Jadikan semua ini adalah ujian terbaik yang diberikan oleh Sang Penguasa Alam, dengan begitu kita senantiasa telah menjadi pahlawan di era modern yang sesungguhnya.

Janganlah berkecil hati ketika kita menganggap orang lain lebih tepat dikatakan sebagai pahlawan. Kita semua adalah pahlawan ketika orang-orang berbuat keributan di luar sana dan kita berusaha mengingatkannya dengan tangan dingin. Kita semua adalah pahlawan ketika kita tidak berbuat hal-hal yang merugikan bangsa dan negara, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kita semua adalah pahlawan ketika kita bisa meraih mimpi-mimpi yang kita harapkan dengan segala jerih payah dan doa. Kita semua adalah pahlawan ketika kita bisa menghormati dan menghargai segala perbedaan. Sekarang saatnya kembali kepada diri kita sendiri, Seberapa Pahlawan-kah Diri Kita?…