Uncategorized

Jejak Aku Mengenal Komputer Bag. 2 : Kuliah dan Buta Coding

You_lot_start_codingDi bangku SMA, aku banyak berkenalan dengan perangkat lunak grafis, seperti CorelDraw dan Photoshop, juga membuat web sederhana dengan MS Frontpage. Hingga aku menyempatkan untuk mengikuti pelatihan CorelDraw di sebuah lembaga, yang berlangsung sore hari setelah selesai sekolah. Aku semakin sering mengutak atik komputer sendiri di rumah (dari install game hingga modifikasi Windows sendiri). Ini karena aku juga semakin sering mengunjungi warnet untuk tahu banyak hal. Ketika itu internet mulai dikenal orang, bisnis warnet mulai muncul dimana-mana. Terlebih lagi fasilitas laboratorium komputer SMA lebih canggih, sehingga banyak hal yang bisa mulai dipelajari.

Flashdisk ukuran 128 MB adalah flashdisk pertama yang aku miliki, kurang lebih sekitar tahun 2007. Aku kira itu adalah flashdisk ukuran paling besar ketika itu. Disket masih dipakai, tetapi sudah jarang sekali. Menginjak tahun 2008, perkembangan flashdisk mulai gencar, ukuran memory meningkat hingga 512 MB, muncul juga media player musik portabel (MP3 portabel). Teman-temanku sudah mulai banyak yang punya gadget semacam itu (aku masih setia dengan 128 MBnya Winking smile). Di masa itu, processor dengan kekuatan Pentium IV &, AMD Celeron sudah termasuk hebat.

Komputerku di rumah sudah naik level jadi Pentium III dengan RAM yang cupu, 128 MB, bisanya hanya untuk mengetik, memutar musik, dan memainkan game-game ringan Thinking smile.  Bosan rasanya menggunakan komputer untuk hal-hal itu saja. Terpaksa aku mencari tambang emas di tempat lain, hasilnya aku jadi sering surfing internet di luar, mencari hal-hal baru dan tak pernah habis Smile. Kadang sambil mencari tugas-tugas sekolah atau hanya sekedar belajar chatting dengan aplikasi mIRC, latihan bersosialisasi di dunia maya Smile with tongue out.

Tibalah saatnya aku duduk manis di kelas 3 SMA, saat itu sudah mulai bingung menentukan masa depan. Lebih tepatnya digerayangi pertanyaan-pertanyaan seperti “Anda habis lulus di sini mau melanjutkan dimana? di jurusan apa?”. Kalo orang tua saya menyarankan agar nanti mencoba mendaftar di jurusan kedokteran. Sedangkan kata hati saya membisikkan bahwa saya harus bisa masuk di jurusan yang berhubungan dengan IT.

Pendaftaran perguruan tinggi pun dimulai, aku mengikuti ujian masuk dimana terdiri dari tiga pilihan jurusan yang harus dipilih sesuai urutan. Tanpa pikir panjang aku mengusulkan tiga pilihan sesuai keinginanku dan meminta pendapat orang tua juga, terpilihlah tiga jurusan yang semuanya tidak jauh dari dunia IT (hehe… Open-mouthed smile, klo gak minta restu orang tua, siapa yang mau bayarin ane kuliah gan… Smile with tongue out). Usut punya usut, ternyata hasil ujian baru keluar setelah dua bulan dari waktu ujian tulis (lama banget gan… Crying face). Sambil menunggu pengumuman, aku mencoba mendaftar di perguruan tinggi lain, kali ini aku memilih pilihan pertama kedokteran dan pilihan kedua adalah jurusan ilmu komputer. Kalau PT yang terakhir ini waktu pengumumannya lebih dulu dari yang pertama. Dan hasilnya… TIDAK satupun yang tembus Crying face. Perasaan pun semakin ketar ketir, mengingat di perguruan tinggi itu (yang kedua) sebelumnya pernah mengajukan PMDK, tetapi lagi-lagi… TIDAK satupun yang tembus Crying face. Aku semakin sering berdoa agar bisa masuk di PT yang lebih bergengsi itu, dan alhamdulillah saya DITERIMA di pilihan yang pertama. Senang sekali rasanya mengingat kala itu. Kaget rasanya menerima sms yang isinya begitu hebat, dan juga namaku tercantum di surat kabar pengumuman hasil seleksi di sebuah surat kabar keesokan paginya (benar-benar terharu gan… Crying face).

Akhirnya aku bisa kuliah di luar kota, kota yang bisa mendekatkanku akan kemajuan teknologi, dan juga jauh dari kampung halaman. Di sanalah aku bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai penjuru Indonesia, dan yang pasti, punya ketertarikan yang sama, karena ada dalam satu jurusan. Mereka adalah putra putri terbaik dari daerah masing-masing (sainganku tambah berat, bung! Hot smile). Akan tetapi, aku juga banyak mendapat hal-hal baru ketika bisa mengenal mereka satu per satu.

Sungguh tak terkira, awal-awal masuk kuliah sudah disuguhi dengan yang namanya “coding”. Aku benar-benar belum pernah menyentuh makanan itu, tetapi beberapa teman-temanku banyak yang sudah berpengalaman dengan itu. Untungnya di semester pertama kami mendapat praktikum pemrograman dasar menggunakan C++, lumayan bisa sebagai perkenalan coding. Kegiatan praktikum dilakukan di lab yang memasang Linux sebagai platform andalannya (menggalakkan open source… hehe).

Hmmm… di sinilah aku banyak belajar dan care terhadap dunia teknologi informasi. Aku mulai mencoba banyak hal dengan laptop pertamaku (si hitam Axioo Centaur) dari membuat blog, ikut berbagai situs jejaring sosial, membuat web dengan CMS sederhana, lebih dekat dengan berbagai bahasa pemrograman, opensource, networking (jaringan), dan dunia cakrawala internet. Sampai aku harus memasang internet bersama teman-teman di kos. Be right back

Jika dibandingkan beberapa tahun lalu perkembangan dunia IT, sekarang media penyimpanan flashdisk sudah berukuran 1 GB – 16 GB, internet semakin murah, modem internet laris manis, laptop banyak dicari orang, semua mahasiswa punya koneksi internet, handphone sebagian besar dilengkapi dengan media internet (social networking application). Processor bergerak dari Dual Core, Core 2 Duo, i3, i5, dan  yang terakhir adalah i7. Kecepatan sudah tak diragukan lagi, kapasitas default laptop sudah berada di kisaran ratusan GB, media penyimpanan perlahan beralih ke harddisk eksternal yang kapasitasnya lebih besar dan transfer data yang tinggi. Hmmm… semua gak ada habisnya jika aku ceritakan satu per satu di sini. Yang terpenting bagi kita semua adalah sudahkah kita menghargai karya-karya tersebut? sudahkah kita menggunakannya sesuai dengan aturan? dan sudahkah kita mensyukuri nikmat ini? Hanya tembok hati kita yang bisa menjawabnya dengan tulus… Tetap berkarya dan salam teknologi… Open-mouthed smile