Uncategorized

If The Earth No Longer Breathe

Ladies and gentlemen, Mr. Al Gore.
It’s almost as if a window was opened through which the future was very clearly visible.
“See that?” he said, “See that?
“That’s the future in which you are going to live your life.”

Future generations may well have occasion to ask themselves,
“What were our parents thinking?
Why didn’t they wake up when they had a chance?
We have to hear that question from them, now.

Jika Anda pernah melihat film An Inconvenient Truth, maka kalimat-kalimat di atas adalah beberapa yang saya kutip dari pengantar menit-menit akhir film tersebut. Sebuah pernyataan yang mengisyaratkan pendengarnya untuk berpikir jika suatu saat ada generasi masa depan yang lantang berbicara demikian. Sudahkah kita menjawab pertanyaan itu? Setidaknya mari kita lebih sedikit peduli dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kengerian global yang jika dibiarkan mungkin bumi ini tak lagi bernapas. Sebab itulah tulisan ini saya beri judul “If The Earth No Longer Breathe” (Jika Bumi Tak Lagi Bernapas).

Beberapa waktu yang lalu saya membeli sebuah tabloid IT yang di salah satu rubriknya terdapat bagian yang membahas review situs-situs yang bermanfaat. Salah satu yang tertulis di situ adalah www.worldometers.info. Dalam review yang tertulis di situ, situs tersebut menyediakan sekumpulan informasi real time yang berhubungan dengan keadaan sosial dunia. Data yang diperoleh dari situs tersebut berasal dari kerja sama dengan beberapa lembaga sensus dan survei dunia, sehingga keakuratan data yang ditunjukkan tak diragukan lagi.
Lantas saya langsung mencoba menuju ke situs tersebut untuk menguak lebih dalam. Ternyata informasi yang ditampilkan beberapa diantaranya menyangkut hal-hal seperti jumlah populasi dunia, keadaan ekonomi dan pemerintahan, jumlah media informasi yang beredar, keadaan lingkungan, konsumsi pangan, konsumsi energi, dan kondisi kesehatan. Semuanya ditampilkan secara real time seperti layaknya speedometer!


Kemudian saya coba melihat sebuah data, yaitu jumlah penduduk. Di situs tersebut, jumlah penduduk dunia yang masih hidup (ketika tulisan ini ditulis) sudah lebih dari 6,8 milyar kepala. Semuanya itu tersebar di beberapa negara dengan komposisi 10 negara dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu China, India, Amerika Serikat, Indonesia, Brazil, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, Rusia, dan Jepang.

Di lain sisi, emisi karbondioksida (CO2) di Indonesia sendiri sampai detik ini setidaknya ada 1000 ton CO2 setiap 1,4 menit yang dibuang ke udara bebas. Anda dapat melihat peta emisi karbon di seluruh dunia di situs www.breathingearth.net. Jika Anda lihat, Indonesia termasuk salah satu negara yang jumlah emisi karbonnya lebih dari 1000 ton dibanding dengan negara-negara lain.


Memang tak bisa dipungkiri, jika dikatakan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah kendaraan bermotor terbanyak. Meskipun emisi karbon seluruh dunia sebagain besar disebabkan oleh pembakaran hutan, tetapi kendaraan bermotor menempati urutan ketiga setelah cerobong asap pabrik dalam jumlah kapasitas emisi yang dihasilkan setiap tahunnya. Selain itu, kendaraan bermotor juga menyerap banyak bahan bakar minyak, yang harganya semakin melambung, karena cadangan yang ada sampai saat ini diperkirakan tak bertahan lama sampai ada kilang minyak baru ditemukan.


Lalu, seberapa pengaruh kehidupan bumi untuk manusia? Jika kita melihat filosofi manusia, maka manusia itu adalah makhluk hidup yang butuh oksigen untuk bernapas setiap saat. Udara yang kita hirup adalah udara yang bersih, karena itu adalah kebutuhan vital kita. Jika kita menghirup udara kotor maka tubuh kita akan terganggu, terutama proses metabolisme dalam tubuh. Kita butuh udara yang bersih dan semua itu didapat dari lingkungan yang bersih pula.


Coba bayangkan jika bumi tak lagi punya pepohonan yang menghasilkan banyak oksigen untuk kita hirup, jika bumi tak lagi punya tempat berteduh (atmosfer) untuk kita berteduh dari sengatan sinar matahari. Kita akan semakin tak nyaman untuk hidup, hari-hari begitu panas, banyak penyakit menjangkiti manusia, dan semua itu adalah kehidupan-kehidupan yang saling berhubungan. Jika salah satu mati, maka kesempatan untuk hidup menjadi kecil, karena kompetisi berjuang memperoleh kehidupan semakin tangguh.


Jika bumi tak lagi bernapas. Itulah judul tulisan ini. Pada intinya kita harus menjadi lebih sadar diri dengan melihat quote awal tulisan ini : Jika masih ada kesempatan saat ini, mengapa kita tak memanfaatkannya sejak sekarang? Itulah pertanyaan yang harus kita jawab dan kita cermati. Suatu saat kita pasti bangga mendengar anak cucu kita berkata “betapa indahnya dunia ini, berterima kasihlah kepada nenek moyang kita”.


Melakukan apa yang kita bisa lakukan sesuai bidang kita masing-masing, meskipun kecil, itu jauh lebih berarti daripada menunggu seseorang meneriaki kita setiap hari untuk selalu sadar diri, sedangkan kita tak pernah sedikit pun mengecamkan kata-kata itu. Menjaga bumi dan menghargai bumi atas apa yang telah diberikan kepada kita, kehidupan, pemandangan yang indah, hingga udara yang segar sudah sepatutnya kita lakukan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik untuk sekarang dan masa depan.
Selamat Hari Bumi Sedunia. 22 April 2010. Give Earth A Hand. 🙂