Uncategorized

Tren Bisnis RBT Melonjak, Kualitas Diacuhkan

Sudah beberapa kali saya sering membaca dan mendengar tentang kesuksesan bisnis Ring Back Tone (RBT) yang berbasis lagu-lagu populer masa kini. RBT menjadikan sebuah alternatif baru untuk benar-benar melakukan promosi karya mereka yang mengandalkan kualitas atau hanya sebatas mendapatkan penghasilan yang berlebih untuk beberapa musisi gadungan.Tidak salah memang, tetapi dengan cara berpikir yang sempit untuk kepentingan pribadi seperti itu rasanya seperti mematikan kreativitas. Coba hitung saja sudah ada berapa ratus musisi yang hanya menelurkan one hits single, lalu kemudian hilang entah kemana.

Dari musisi kelas bawah sampai kelas atas dengan berbagai macam kualitas dan genre yang berbeda-beda, semua bisa dengan bebas terjun ke dunia bisnis RBT. Sangat disayangkan dengan adanya alternatif bisnis yang menjanjikan seperti itu, semakin hari menyeret dunia permusikan Indonesia menuju arah tanpa seleksi yang ketat. Bayangkan di setiap acara live show musik televisi yang disiarkan setiap harinya itu selalu menghadirkan musisi-musisi baru yang sepintas belum pernah didengar kiprahnya secara baik, setidaknya di scene local Indonesia. Mungkin ada yang sudah dikenal, tetapi kualitas mereka tampak biasa-biasa saja dibanding dengan musisi yang lain.
Keseragaman dalam bermusik seharusnya dihindari agar kreativitas tetap mengalir. Menurut saya, di era yang semakin canggih seperti ini setiap musisi harus punya karakteristik masing-masing, entah itu dari sisi penyampaiannya, lagu, lirik, serta image yang dibangun. Mungkin di luar sana ada banyak orang yang tidak suka dengan munculnya musik melayu nan mendayu semacam Kangen Band dan ST12. Tetapi saya menganggap itu sesuatu yang wajar. Musisi tersebut sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan karena mereka berangkat lebih dulu ke permukaan musik Indonesia dengan musik yang seperti itu, musik yang ketika mereka muncul bisa dikatakan masih jarang didengar.
Persoalan yang terjadi, yang sering membuat musisi-musisi besar geram dan benci melihat musik yang monoton adalah munculnya band-band atau musisi baru yang mengangkat genre dan tema yang sama. Saya yakin jika di Indonesia ini hanya ada satu saja band yang beraliran Melayu seperti itu, semuanya pasti akan baik-baik saja dan mungkin menjadi suatu kekayaan dalam genre musik Indonesia. Namun, keadannya berbeda, semakin banyaknya musisi baru yang bermunculan malah semakin banyak dari mereka yang melejit dengan genre yang sama.

Dari jenis musik, tema lagu, dan benang merahnya, semua nyaris sama. Memang kadang dalam bermusik harus menghindari sikap idealisme yang berlebihan dan disesuaikan dengan animo pendengar yang nantinya akan didapatkan menjadi sebuah fan base. Lihat saja band-band dan musisi papan atas yang mempunyai fan base yang apik dan ditata dengan baik seperti Iwan Fals, Slank, Dewa, dan Peterpan. Coba bandingkan dengan fan base band-band baru dengan genre yang nyaris sama itu, tampaknya sampai kapan pun juga fan base yang mereka bentuk tak akan berkembang, karena mereka pada dasarnya terpecah-pecah ke dalam sebuah keseragaman.
Bagi mereka yang beruntung, dengan lagu andalannya yang mampu membuat suasana hati pendengar klop dengan lagu ciptaanya, maka akan semakin banyak orang yang menjadikan lagu tersebut sebagai RBT. Jangan-jangan RBT memang tak butuh kualitas, tetapi hanya kepopuleran semata. Mungkin ini yang masih rancu, pandangan bisnis RBT antara penyedia layanan dengan musisi lokal yang sangat peduli kreativitas. Kita tunggu saja, kelak di kemudian hari pasti ada solusi untuk mengatasi masalah ini untuk menentukan aturan main yang tepat demi menyelamatkan kreativitas dan hak-hak musisi secara lebih matang.
Kualitas yang biasa-biasa saja mengalahkan kualitas yang benar-benar original. Sekarang kita bisa melihat sendiri atau jika belum bisa cari di search engine tentang siapa yang meraih penjualan RBT terlaris dari masing-masing provider (penyedia layanan). Kita akan tahu bahwa yang paling laris adalah lagu-lagu yang  sedang populer di masyarakat. Begitu ada lagu baru yang menjadi hits dan sesuai dengan perasaan pendengarnya, mereka pasti akan langsung tergiur untuk mengganti RBT mereka dengan yang sedang populer. Saya rasa jarang ada lagu yang dari segi kualitas musik sangat baik, tetapi justru tidak selaris kualitas yang biasa-biasa saja.
Tak bisa dipungkiri semua memang bergantung kepada selera. Tetapi selama ini selera kebanyakan orang yang dimaksud dinilai dari sisi kepopuleran tersebut, misalnya karena liriknya yang sesuai dengan perasaan hatinya, lagunya yang terlalu mendayu-dayu, atau karena teman-teman mereka juga menggunakan lagu tersebut sebagai RBT. Jarang da orang tahu seperti apa musik yang berkualitas tersebut, setidaknya musik yang berkualitas adalah musik yang disinyalir akan atau telah meraih penghargaan dari insan musik lokal yang dinilai oleh orang yang kompeten dalam menilai seni kreativitas bermusik yang baik.
Saya jadi teringat mengenai seseorang teman yang membentuk sebuah band yang mungkin jam terbang manggungnya cukup sering, tapi masih tak dikenal banyak orang. Mereka menciptakan sebuah lagu baru yang bisa dikatakan sebuah hits single menurut mereka (setidaknya oleh teman-teman mereka yang mengatakan itu lagu yang bagus). Saya menilai itu sebuah lagu yang biasa saja dan beraliran pop rock atau apalah. Saya sudah sering mendengar lagu seperti itu, apalagi vokalnya yang terkesan sangat biasa dan sering dijumpai, tak ada ciri khas apapun dalam band itu, ditambah lagi kualitas rekaman yang jelek. Apalagi mereka mendistribusikannya secara gratis kepada jaringan pertemanan mereka dengan alasan agar lagu mereka semakin dikenal.
Mereka juga mencoba untuk mendaftarkan lagu tersebut ke beberapa provider berbeda. Kemudian strategi mereka adalah mengirim sebuah status di jejaring sosial untuk menjadikan lagu mereka sebagai RBT. Saya hanya bisa bisa tersenyum pahit sambil mengerutkan dahi, bagaimana bisa band amatir sekelas mereka dapat meraih keuntungan yang besar jika tidak diimbangi dengan kualitas karya yang maksimal, sedangkan di luar sana ada banyak musisi yang sudah terikat kontrak dengan major label dengan kualitas yang lebih baik. Tentu saja menjadi semakin sulit bersaing untuk meraih kesuksesan. Paling-paling hanya teman-teman mereka yang mendengar lagu mereka sekali saja, setelah itu bosan.
Bermain musik bisa saja sebagai hobi/minat sekaligus sebagai lapangan kerja untuk mencari uang. Ada beberapa musisi yang benar-benar membuat musik untuk membanggakan dirinya sebagai musisi kelas tinggi, ada juga beberapa musisi yang hanya membuat lagu asal jadi dengan lirik seadanya. Semua dibuat dengan tujuan tertentu. Mungkin ada juga yang beranggapan bahwa bila mereka menjadi musisi, maka akan dengan mudah mencari uang dengan melihat kondisi semacam ini sedang terjadi. Lantas mereka mencoba secara terpaksa untuk menjadi musisi agar keluar dari pengangguran dengan iming-iming bayaran melimpah.
Kenyataannya, tidak semua musisi dapat hidup makmur atas pekerjaannya, meski yang bermewah-mewahan juga tidak sedikit. Lihat saja kehidupan musisi-musisi zaman dulu yang hanya mengandalkan kaset pita sebagai media pemasaran karya. Bayaran dulu tak sebanyak sekarang. Kini mereka telah pensiun dan hanya bisa menikmati sisa-sisa kerja keras mereka untuk menghidupi keluarga mereka. Tanpa menyisakan karya yang bisa dijual hingga sekarang karena tak ada kaset/cd yang bisa di-remaster kembali menjadi lebih baik. Jika pun bisa, kualitas rekaman yang didapat tidak maksimal.
Hal ini mengingat dulu negara termasuk negara yang sedikit tertinggal dalam teknologi rekaman. Termasuk kondisi ketika beberapa musisi dicekal karena menyuarakan lagu yang ngak ngik ngok. Padahal, kreativitas musik zaman dahulu lebih baik ketimbang sekarang. Berbagai macam aliran musik terlahir dengan sendirinya dengan mengusung idealisme masing-masing.
Saya sangat mengharapkan untuk ke depannya kondisi kreativitas musik Indonesia semakin membaik. Banyak musisi kita yang semakin dikenal di dalam dan di luar negeri dengan musik mereka sendiri. Karena ada beberapa musisi yang justru banyak dikenal di luar negeri, tetapi kurang dikenal di dalam negerinya sendiri. Ini sungguh mengkhawatirkan, karena biasanya apresiasi yang diperoleh dari negeri orang jauh lebih terhormat daripada apresiasi lokal. Pemerintah, penyedia layanan, dan musisi sudah seharusnya mengangkat isu ini menjadi lebih serius agar semua pihak benar-benar diuntungkan. Agar kreativitas tidak diacuhkan, bahkan dianggap mati begitu saja. Hidup Kreativitas Indonesia!!!