Uncategorized

Aksi Charity di Era Modern Semakin Menjanjikan

Agaknya kita harus bangga dengan aksi-aksi amal (charity) untuk kemanusiaan akhir-akhir ini. Ada yang disuguhkan melalui acara-acara konser musik kecil untuk menggalang dana, melalui pembuatan grup dukungan atau pengumpulan koin kemanusiaan di situs jejaring sosial, dan pengumpulan sumbangan melalui forum-forum diskusi. Orientasi mereka yang membutuhkan dana adalah berusaha ingin membuktikan bahwa mereka benar-benar membutuhkan bantuan tersebut.
Tidak seperti cara lama, mereka mengumpulkan dana dengan cara-cara seperti meminjam uang orang lain, mengamen di jalanan, meminta-minta dari rumah ke rumah, atau bahkan meminta-minta dengan terjun langsung di jalanan. Semua itu memang sangat beresiko, baik dari segi kepercayaan kepada orang lain maupun betapa tidak manusiawinya seseorang membutuhkan uang dengan mengharapkan sesuatu dari orang lain.
Lihat saja beberapa waktu ini saya sering melihat ada acara konser dalam skala besar atau pun kecil yang disuguhkan oleh beberapa musisi. Mereka melakukan pengumpulan dana dengan menampilkan kemampuan mereka sebagai musisi untuk menarik sukarelawan. Ada yang dilakukan untuk membantu kepedulian teman sesama musisi yang sedang sakit, ada juga yang dilakukan untuk aksi kemanusiaan seperti bantuan bencana alam dan lainnya.

Tak jarang pula sebagian dari musisi itu menyelenggarakan lelang alat musik mereka untuk dijual dengan harga tertinggi. Semua itu dilakukan untuk mengumpulkan dana yang diharapkan. Seberapa pun penonton yang menyaksikan panggung mereka, jika musisi yang tampil adalah musisi hebat dengan banyak idola dan dikagumi, sudah barang tentu akan menyedot pengunjung yang lebih banyak.Jika aksi tersebut digunakan untuk menggalang bencana alam, maka dana yang terkumpul bisa saja tidak terbatas jumlahnya.

Lain halnya dengan pengumpulan koin kemanusiaan untuk membebaskan Prita Mulyasari terkait dengan simpang siur UU ITE. Dengan membuka grup di situs jejaring Facebook dengan seruan pengumpulan koin kemanusiaan untuk Prita, dana yang terkumpul malah di luar dugaan, melebihi apa yang diharapkan, kalau tidak salah jumlahnya mencapai satu milyaran. Dana itu akan digunakan untuk membayar denda atas hukum pidana yang diberikan kepada Prita.

Mungkin tidak semua orang bisa melakukan cara-cara seperti itu jika tidak disertai bukti yang kuat. Misalnya seperti Prita yang diekspos media secara besar-besaran tentu akan mendapat porsi yang istimewa. Tidak seperti saudara-saudara miskin kita yang masih buta akan teknologi dan malah tidak pernah diekspos media, atau hal-hal kepedulian semacam itu mungkin saja sudah dikatakan biasa.

Mereka pasrah atas nasib yang mereka terima, terlebih untuk keluarga miskin yang sudah sakit-sakitan. Seperti yang dilakukan oleh para peminta-minta di tempat umum. Entah itu dengan kaki buntung, tangan butung, buta, idiot, atau apalah, mereka berusaha mengais dengan alasan sederhana, mereka hanya butuh makan, tak ada pilihan lain. Lebih-lebih untuk mengobati penyakit atau derita yang mereka rasakan. Sungguh begitu ironi. Saya sendiri sudah sering melihat dari beberapa peminta-minta itu masih sama dalam beberapa tahun, tidak pernah pensiun. Pernah sesekali membayangkan apakah mereka juga menabung hasilnya untuk masa depan? Entahlah.
Di lain sisi, masyarakat tampaknya juga sudah punya banyak pengalaman. Ada pula diantara rumah-rumah mereka sering didatangi orang-orang tak dikenal untuk meminta sumbangan dengan dalih yang bermacam-macam. Hanya berbekal surat bertanda tangan seperti pembangunan masjid, orang sakit, atau lainnya. Kita bisa hitung sendiri seberapa banyak orang yang bisa percaya itu semua.
Di zaman seperti ini, terutama di Indonesia, transparansi menjadi sangat penting dilakukan. Bangsa kita sudah muak dijejali dengan namanya penipuan, korupsi, atau perampasan yang dilakukan oleh petinggi-petinggi kita. Mungkin jika mereka benar-benar membutuhkan sumbangan masjid atau orang sakit itu bisa diperjelas dengan menampilkan keadaan sebenarnya, setidaknya mereka mempunyai bukti yang akurat bahwa mereka benar-benar membutuhkan, misalnya melalui gambar-gambar atau yang lainnya.
Ini akan menjadi semakin mudah jika dimana-mana sudah ada jaringan internet, ditambah lagi layanan jejaring sosial. Kita bisa saja mengeluarkan semua keluhan kita sebebas-bebasnya kepada semua orang dengan membawa bukti-bukti yang cukup. Jika perlu, tambahkan testimoni-testimoni yang mendukung untuk meyakinkan pembacanya. Pembaca juga tak perlu khawatir, tetaapi tentu tetap waspada, kalau itu adalah bukan penipuan, karena kejahatan di dunia maya sudah diatur secara jelas di dalam UU ITE.
Dengan teknologi yang murah saja, seperti penggunaan internet dan jejaring sosial, kita bisa menghemat modal, waktu, dan tenaga untuk memperoleh dukungan moril dan meteriil yang banyak. Kita tidak perlu bergerak kesana kemari untuk meminjam uang kepada orang lain. Kita tidak perlu meminta-minta untuk memperoleh sumbangan yang besar. Kita tidak perlu menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginan dan harapan kita. Masih ada jutaan orang-orang sukses dan berbaik hati untuk peduli kepada kita semua. Dengan selalu berusaha diiringi doa setiap waktu, harapan-harapan kita pastilah akan terwujud.
Setidaknya cara-cara charity modern ini bisa menghemat tenaga dan waktu dibanding cara-cara konvensional. Jumlah nominal yang didapat pun akan sesuai harapan, tak jarang malah lebih. Tentu saja ini disebabkan karena aksi-aksi yang mereka lakukan didengar oleh banyak orang yang peduli. Tampaknya ini adalah cara baru di era abad kedua puluh ini untuk memperoleh dana bantuan yang besar. Tetapi berbagai kekurangan-kekurangan yang ada harus tetap diantisipasi untuk menghadapi penipuan, maupun penggunaan dana yang berlebih untuk kepentingan yang tidak diperlukan. Semua harus ikhlas dan benar-benar peduli terhadap apa yang diberikan.