Uncategorized

Billie Joe Armstrong : si Anak Dua Dollar

Billie Joe Armstrong adalah seorang vokalis dan gitaris trio band asal Amerika yang dikenal sebagai Green Day. Armstrong adalah anak paling muda dari enam bersaudara yang lahir pada tanggal 17 Februari 1972 di Oakland, California. Ibunya, Ollie salah menulis nama ketika Billie lahir. Dia memberikan nama Billie yang seharusnya ditulis Billy. Ayahnya, Andy Armstrong, adalah pemain musik jazz dan supir truk, telah meninggal karena kanker ketika Armstrong berumur 10 tahun. Ibunya, Ollie Jackson, adalah pelayan di Rod’s Hickory Pit, tempat dimana Billie dan temannya Mike Dirnt bekerja di masa remaja mereka. Rod’s Hickory Pit adalah tempat dimana Armstrong dan bandnya Sweet Children tampil pertama kali.

Di sekolahnya, Billie dipanggil “Dua Dollar”, karena dia suka memakan ganja seharga 2 dollar. Pada tahun 1988, Armstrong membuat band bernama Sweet Children dengan Mike Dirnt. Pada tahun 1989, mereka mengganti namanya menjadi Green Day, bersama pemain drum baru, Al Sobrante (John Kiffmeyer), dan membuat rekaman 1,000 Hours, di Lookout! Records. Pada tahun 1990, Sobrante keluar dari Green Day dan digantikan dengan Tré Cool (Frank Edwin Wright III), yang melanjutkan album kedua Green Day, Kerplunk!, memainkan semua lagu kecuali 3 lagu.

Pada tahun 2006, Armstrong berumur 34 tahun dan telah menjadi anggota band Green Day selama 17 tahun. Armstrong menikah dengan Adrienne Nesser pada tanggal 2 Juli 1994. Pesta pernikahannya hanya 5 menit. Hari setelah mereka menikah, Adrienne hamil dengan anak pertama mereka, Joseph Maricano (lahir 15 Maret 1995). Tiga tahun kemudian, mereka mempunyai anak kedua, Jakob Danger (lahir12 September 1998).

Adrienne lahir pada tanggal 6 Oktober 1969 di Minneapolis, Minnesota. Saudara lelakinya, Steve Nesser, adalah pemain skateboard professional. Ketika belajar Sosiologi di Universitas Minnesota, Adrienne bertemu Armstrong dan bertanya padanya dimana dia bisa membeli album mereka. Armstrong terpesona dengan rambut hitam dan panjang Adrienne. Mereka berdua saling berbicara di telepon. Armstrong dan Adrienne tunangan, dan merencanakan pernikahan mereka dalam 2 minggu. Pernikahan mereka dilaksanakan di belakang rumah Armstrong selama 5 menit. Mereka berbulan madu di Hotel Claremont, memakan waktu 10 menit dari rumah mereka. Adrienne sering terlihat di belakang panggung ketika Green Day tampil. Dia bekerja di Adeline Records dan baju Adeline.

Pada umur 5 tahun, dengan dorongan guru musiknya, ia mengeluarkan sebuah singel “Look for Love,” pada sebuah label lokal kecil dan bermain beberapa kali dengan drummer paruh waktunya, Andy. Itu merupakan masa kecil yang bahagia, sampai Billie Joe berumur 10 tahun, ayahnya meninggal karena kanker. Ibunya harus menghidupi Billie Joe dan kelima saudaranya dengan gajinya bekerja pada restoran 24 jam Rod’s Hickory Pit. “Ia bekerja dengan banyak shift,” kata Billie Joe. “Saudara-saudaraku diletakkan pada posisi dimana mereka harus tumbuh dengan cepat dan menjadi orang tua bagiku”. Kemudian ibunya menikah dengan seseorang yang amat dibenci oleh Billie Joe dan saudara-asaudaranya. Ia melampiaskan amarahnya ke musik dan pada saat ia masuk Carquinez Middle School pada musim gugur 1982, pada umur 11 tahun, ia tidak memikirkan hal lain, selain harus segera bermain gitar. Suatu hari ia bercakap-cakap dengan seorang anak kelas 8 lainnya, kurus dan berambut pirang serta fanatik dengan musik yaitu Michael Ryan Pritchard yang sekarang lebih dikenal dengan Mike Dirnt.

Dirnt menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang selalu merasa seperti ia sedang ‘melihat dari luar ke dalam’. Lahir pada tahun 1972 dengan ibu seorang remaja pecandu heroin, ia diserahkan untuk diadopsi pada umur 6 minggu. Orang tua angkatnya bercerai waktu ia berumur 7 tahun dan ia tinggal dengan ibunya, seorang Indian yang harus bekerja 3 jenis pekerjaan untuk menghidupi keluarga. Seperti Armstrong, ia berlindung pada musik, memainkan gitar di kamarnya. Setelah mereka bertemu di Carquinez, mereka membuat tempat latihan di ruang keluarga rumah Armstrong dan memainkan lagu-lagu Van Hallen dan Motley Crue. Ketika ibu Dirnt bangkrut dan kehilangan rumahnya, Dirnt pindah ke garasi keluarga Armstrong.

Ketika mereka berumur 15 tahun, Armstrong dan Dirnt pertama kali mengunjungi klub punk-rock untuk semua umur, 924 Gilman Street Project dan semuanya berubah. Berlokasi di samping toko bahan pengawet di distrik pergudangan di Berkeley. Gilman 924 merupakan pusat dari kumpulan generasi punk penuh tattoo dan rambut mohawk yang menjalankan tempat ini secara sukarela dan kerjasama. Gilman adalah tempat dimana Armstrong dan Dirnt jatuh cinta pada musik punk dan tempat dimana mereka menyatakan perasaan politis mereka. Mereka berdua secara teratur mengunjungi Gilman dan menyerap ideologi yang dikeluarkan generasi punk di tempat itu.

Terlepas dari kebangkitan politis mereka, hal lain terjadi di Gilman yang memiliki pengaruh besar bagi masa depan mereka. Mereka bertemu sesama remaja dan pengunjung setia Gilman bernama Tre Cool. Dari ketiga anggota Green Day, Tre tumbuh paling jauh dari arus utama masyarakat Amerika. Terlahir dengan Frank Edwin Wright III tahun 1972, ia adalah anak dari seorang veteran Vietnam yang setelah perang membawa keluarganya ke rumah terpencil di puncak gunung dengan sebuah kota kecil Laytonville, 3 jam ke arah utara San Fransisco. Rumah yang dibangun keluarga itu tidak memiliki listrik, TV atau air. Tre berumur 11 tahun ketika ia direkrut untuk bermain dalam sebuah band yang dipimpin tetangganya di gunung yang juga penggemar punk rock dan mengajarkannya bermain drum untuk lagu karangannya “Fuck Religion”.

Pada tahun 1990, Armstrong, Dirnt, dan Tre bergabung membentuk sebuah band bernama Green Day. Nama Green Day muncul sebagai penghormatan pada pesta ganja seharian penuh. Band ini menjadi salah satu jebolan terbaik Gilman yang menarik banyak penggemar dengan musik 3 chord dan lirik lagu tentang hidup sebagai remaja pemakai marijuana. Band tersebut merilis Kerplunk pada label indie kecil, Lookout! Records di tahun 1992. Sesudah itu terjadi perang besar memperebutkan mereka di antara label-label besar. Green Day akhirnya dikontrak oleh Reprise dan pada Februari 1994 mereka merilis debut mereka, Dookie, yang membuat mereka menjadi bintang favorit MTV pada awal umur ’20-an, yang terjual sebanyak 8 juta kopi di AS.

Berikutnya mereka meluncurkan Insomniac (1995) dan Nimrod (1997) yang pada titik tertentu tampaknya kehabisan tenaga. Setelah ketiganya menikah dan mempunyai anak, lirik-lirik Armstrong mulai berubah, menggambarkan ketakutan bahwa ia akan menjadi tua, bosan, dan apatis. Tiga tahun berlalu sebelum mereka merilis Warning pada tahun 2000. Lagu “Warning” dan “Minority” menunjukkan bahwa band tersebut mulai mencapai tema yang lebih luas daripada kekhawatiran usia paruh baya, tetapi musik dan penjualan album mereka menyedihkan.

Kemudian pada September 2004, album American Idiot yang hingga kini terjual kurang lebih 4,5 juta kopi pun diluncurkan. Armstrong menulis lagu “American Idiot”, sebuah lagu yang ia alamatkan pada hal-hal yang telah terbangun dalam dirinya selama beberapa tahun terakhir.

Serangan teror di New York, katanya adalah sebuah katalisator. Semua lagu dalam album tersebut menyangkut perang, paranoia, dan ketakutan teror. Tema tentatif politis yang telah mulai muncul dalam Warning kini melompat ke permukaan dan latihan awal di Gilman telah membuat liriknya berenergi. Ia bersikeras bahwa ia mulai menulis album itu bukan sebagai pemukul Bush atau bertujuan untuk menghina. Ia menulis lagu untuk sebuah “pembersihan” dan sebagai cara untuk mengerti apa yang terjadi ketika semuanya lepas kendali.

Bagi Armstrong, kembalinya kepercayaan kepada presiden adalah sebuah bahaya tersendiri. “Perang terhadap teror langsung mengarah pada jenis perang dimana teroris yang dimaksud itu sama dengan jihad,” katanya. “Karena mereka melihat perang ini muncul dari orang yang religius, George W. Bush. Tiba-tiba ini bukan tentang terorisme. Tiba-tiba ini menjadi Kristen melawan Islam dan tak satu pun dapat membuat darah Muslim fundamentalis menjadi mendidih selain hal seperti itu.”

Sikap anti perang Green Day berasal dari bagian sejarah pribadi mereka. Mereka datang dari level ekonomi-sosial kelas pekerja, dimana banyak sekali tentara. “Saudara ibuku, paman Jay, meninggal di Vietnam,” kata Armstrong. “Ia tertembak di udara ketika terjun dengan parasut. Ibu saya sering bercerita tentangnya. Saya pikir, ‘Masuk militer berarti mati muda.’Hal tersebut amat menakutkan saya dan tidak masuk akal sama sekali bagi saya.” Pengalaman Tre tumbuh sebagai anak veteran perang Vietnam berperan kecil dalam membantu perkembangan sikap pro perang dalam dirinya. “Setelah perang, ayah tidak suka berbicara tentang itu,” katanya. “Tapi hal-hal tertentu akan mengingatkannya. Seperti, jika kamu membakar rambut di dekatnya, ia akan ketakutan. Tercium seperti tubuh yang terbakar.”

Perubahan Green Day dari punk pop penuh olok-olok menjadi penggerak protes politik cukup mencengangkan, kecuali bagi mereka yang mengenal masa kecil dari personil band tersebut. Pembentukan awal mereka sebagai band di lingkungan punk-rock di Berkeley, California, adalah sebuah cerita yang membuat kemunculan American Idiot dan seorang pengacau yang membangkitkan pemberontakan pada sebuah penampilan di panggung tampaknya tak terelakkan.

Sumber : RSI Edisi 9 Januari 2006